Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Dibalaskan


__ADS_3

Afifa melihat Megi dan Kanaya memberikan boneka-boneka tersebut pada anak-anak yang ada di sekitar tempat permainan.


Dilihat ke tangan sudah waktunya salat Asar, "Kak, tempat salatnya di mana, ya?" bisik Afifa pada Leon.


Leon melihat jam di tangannya juga untuk men-cek waktu, "Oh, iya, udah waktunya salat, ya? Yaudah, yuk, kita salat!" ajaknya dan berjalan lebih dulu.


"Megi, kau gak salat?"


"Enggak Mega, lu aja sana. Kita nanti datang, kok, ke musalanya."


Diangguk Afifa kepalanya, ia berjalan bersama dengan Wendi di belakang dan Leon di depan mereka.


Sesekali Afifa tertawa mendengar lelucon receh yang diucapkan oleh Wendi, begitu sampai di musala mereka langsung berpencar sebab berbeda tempat wudu.


Empat rakaat telah diselesaikan, mereka keluar dari musala dan ingin menggunakan sepatu. Megi juga Kanaya terlihat sedang duduk menunggu sambil memakan ice cream.


"Eh, nanti kalau Kak Leon dan Wendi udah selesai salatnya. Bilangin aku ke toilet bentar, ya," ucap Afifa menitipkan boneka miliknya tadi dan berlari ke toilet.


"Oke, jangan lama-lama!" pekik Kanaya yang langsung dibekap Megi mulutnya.


"Lu kira ini apaan, woy? Malah teriak pula!" omel Megi pada Kanaya.


Sedang asyik dengan ice cream juga boneka masing-masing, seseorang lewat dari depan mereka begitu saja tanpa dilihat siapa orangnya.


Tak lama setelah wanita tadi lewat, Leon serta Wendi pun keluar dari musala ingin menggunakan sepatu kembali.


"Lah, Mega mana?" tanya Wendi melihat tak ada wanita itu bersama Kanaya dan Megi.


"Ke toilet bentar katanya," jawab mereka sambil memakan ice cream kembali.


Leon mulai tidak tenang dengan jawaban mereka, ia menatap ke lorong toilet hingga sepatunya telah terpasang sempurna.


Afifa baru keluar dari kamar mandi dan ingin berkaca serta merapikan pakaiannya terlebih dahulu.


'Huh, aku capek banget. Tapi, lebih ke capek senang. Andai ... aku bisa lama-lama di tubuh ini, tapi aku tau dan sadar bahwa seenak apa kehidupan orang lain ternyata lebih enak kehidupan kita sendiri jika kita tau cara bersyukur.


Buktinya, Mega yang terkenal kaya siapa sangka ternyata sulit untuk bahagia? Sampai dia selalu mendambakan ingin berpindah jiwa, ya, meskipun sama dengan aku.

__ADS_1


Aku juga, siapa sangka di kehidupan aku itu. Masih banyak masalah yang harus kuhadapi, semua orang punya masalahnya masing-masing.


Namun, ada yang menunjukkan dan ada yang lebih memilih diam sambil menikmati masalah itu karena dia yakin.


Mau cepat atau lambat, masalah pasti akan berlalu tinggal kita saja yang harus meminta kepada-Nya agar dikuatkan,' batin Afifa dan mengangguk.


Diambil Afifa tisue untuk mengeringkan tangannya sembari menatap dirinya kembali di kaca.


Klik!


Suara kunci yang di putar membuat Afifa langsung melihat ke arah belakang, alisnya tertaut sebab merasa ada hal aneh.


Tuk! tuk! tuk!


Suara hels berjalan mendekat memenuhi ruangan toilet semakin membuat darah Afifa berdesir.


"Hey, sudah lama kita tak bertemu, 'kan? Apakah kau rindu denganku, Dik?" tanya seseorang memperlihatkan dirinya.


Afifa menggelengkan kepala dengan rasa ketakutan yang sudah memenuhi diri, sebab terakhir kali dirinya ingat bahwa pernah terluka akibat ulah wanita di depannya ini juga.


"Kenapa? Kau kaget dengan keberadaan aku di sini? Tenang, biar aku jawab agar kau tak kaget. Ini, namanya takdir. Takdir bahwa hari ini memang kau sudah harus tak ada di dunia ini," ungkapnya.


Aku gak mau dia disalahkan hanya karena aku, aku gak mau dia dibenci oleh Mama sebab aku yang lemah dan gak bisa jaga diri sendiri,' batin Afifa menenangkan dirinya.


"Kak ... aku gak tau salah aku apa sama Kakak, aku juga udah gak ada komunikasi sama Papa. Aku juga udah menolak Kak Leon untuk dijdohkan olehku. Lantas, Kakak kenapa masih tetap berbuat salah sama aku?" tanya Afifa mundur ke belakang saat Kakak tirinya terus berjalan ke arahnya secara perlahan.


"Lu kira gue bodoh? Atau emang lu yang bodoh, ha? Lu gak liat bahwa Leon itu suka sama sikap lu yang tiba-tiba sok polos dan baik ini.


Wajah lu itu ada berapa, sih? Sampe bisa tiba-tiba sok polos lalu tiba-tiba seperti monster, ha?


Gue jijik banget liat lu, lu kenapa gak mati aja sih? Biar kehidupan gue itu enak, punya Papa dan punya seseorang yang gue sayangi."


"Kenapa harus aku yang mati? Kenapa gak Kakak aja, bukannya Kakak yang datang ke kehidupan aku, ya? Kakak yang merampas semua kebahagiaan aku!" terang Afifa menatap dengan wajah yang penuh kemarahan serta tangan yang sudah terkepal hebat.


'Gue selalu gak paham dengan sikap Kakak tiri, padahal gue gak pernah ngapain-ngapain dia. Kenapa dia bisa benci banget sama gue, ya?


Gue selama ini selalu diam sama dia, tapi kalau sampai suatu saat dia membuat gue marah dan tak bisa menahan segalanya lagi.

__ADS_1


Maka, tangan gue sendiri yang akan membunuh dia. Gue gak pernah takut melenyapkan seseorang yang gak tau diri kayak dia.


Dunia gak akan rugi kehilangan beban seperti wanita itu, aku capek jika harus terus mengalah demi dia!'


Tulisan Mega yang sempat dibaca oleh Afifa, menunjukkan bahwa memang Mega sudah lama bersabar untuk wanita ini.


Namun, hanya sia-sia saja bersabar padanya jika tak pernah diberi pelajaran. Bahkan, permintaan maaf dan ampun seolah tak dihiraukan telinganya itu.


"Ini udah gak beres, deh. Kayaknya terjadi sesuatu pada Mega!" pikir Leon dan bangkit berlari ke arah toilet.


Serta teman lainnya juga ikut karena panik dengan wanita itu, mereka membuka pintu berkali-kali.


"Dikunci," ucap Leon memberi tahu.


Dirinya semakin panik dan kalang kabut dibuatnya, "Kalian liat siapa yang lewat tadi ke toilet?" tanya Leon menatap ke arah Kanaya dan Megi yang sudah menampilkan wajah ketakutan.


"Enggak Kak, cuma emang ada tadi satu cewek yang lewat setelah Mega," ujar mereka dengan suara bergetar ketakutan.


"Mega! Meg! Lu di dalam?" teriak Leon dan Wendi dari luar.


Prang!


Suara barang yang pecah semakin membuat mereka di luar panik terutama Leon, "Gak ada waktu lagi, kalian minggir biar gue sama Wendi dobrak pintunya," titah Leon dan dengan cepat mereka memilih minggir dari depan pintu.


"Aku diam selama ini bukan karena aku takut sama dirimu Kak, tapi sayangnya kau malah semakin menjadi-jadi.


Setiap orang ... punya batas kesabarannya sendiri dan kau telah membuat kesabaranku habis dalam menghadapimu!" murka Afifa menyodorkan kaca vas yang pecah dibuatnya.


"Jangan, jangan bunuh gue," mohonnya dengan ketakutan.


"Kenapa takut? Bukankah ini yang kau mau Kak? Kau mau aku berubah jadi monster, bukan? Ini yang kau harapkan?


Jangan pernah berani menginjak-nginjak seseorang yang diam setelah kau sakiti berulang-ulang kali.


Karena kau tak akan tahu apa yang bisa dia lakukan ketika dirinya sudah membuka suara, bahkan perlakuannya lebih parah dari apa yang kau buat padanya!


Aku tak pernah paham dengan apa masalahmu. Jika kau merasa apa yang kau inginkan tak pernah kau dapatkan.

__ADS_1


Maka ... BERKACA! Bukan malah kau menyalahkan aku, wajahmu yang seperti iblis serta pikiranmu itu memang pantas mendapatkannya!" teriak Afifa membuatnya ketakutan.


__ADS_2