
Tanpa mereka ketahui, di balik kamar Mega ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan kedua wanita itu.
Matanya ikut berair merasa bersalah pada putrinya, "Maafin Abah, Sayang. Abah juga terlalu keras dengan kamu, nanti Abah pasti akan minta maaf."
Abah pergi berlalu dari balik kamar Mega ke dalam kamarnya, sedangkan Umi memilih keluar membiarkan Mega belajar.
Sebelum Umi benar-benar pergi, Mega menatap dan tersenyum ke arah wanita itu lalu pintu pun tertutup.
"Oh, iya, ya. Waktu aku di tubuh Afifa cuma sehari lagi, ya? Tinggal besok aja," kata Mega yang baru ingat.
"Aku tulis pesan aja deh buat dia, agar dia tau bagaimana kehidupannya setelah ini. Setidaknya, dia gak akan kaget kalau tiba-tiba Umi jadi sering nyuruh dia ngajar hahaha."
Diambil Mega selembar kertas dan menuliskan berbagai perjalanan serta kisah selama dia berada di tubuh Afifa.
Selesai menulis, dilipat Mega dan dimasukkan ke laci meja belajar. Dirinya kembali membaca buku yang diberi oleh Abah.
Tok! tok! tok!
Mega bangkit dan berjalan membuka pintu kamarnya, "Iya, ada apa Bah?" tanya Mega mendapati Abah di depan kamar.
"Ini, pelajaran hari ini. Kalau sudah selesai, kamu boleh keluar untuk mengantarkan tugasnya ke gurunya langsung!"
"Afifa boleh keluar Bah?" tanya Mega dengan senang.
"Ya, cuma buat ngantar tugas do--"
"Makasih Abah!" potong Mega dan langsung berhambur ke pelukan Abah. Mega yang tersadar tak mendapat balasan juga ingat bahwa dihukum sama Abah.
Langsung melepaskan pelukan dan kikuk, "Maafin Afifa, Abah," ujar Mega menunduk.
"Cepat kerjakan dan pahami buku itu, besok akan dimulai!"
"Baik Abah."
Mega kembali masuk ke dalam kamar setelah melihat Abah tak lagi terlihat di teras rumah, dia membuka buku tugas-tugas yang diberikan.
"Kok sekarang gue jadi pinter banget pelajaran gini, ya? Hahahha, jangan sampe lupa sama pelajaran animasi deh. Bahaya soalnya," ucap Mega dan memainkan penanya di atas buku tulisnya.
Sedangkan di lain sisi, santriwati yang biasanya mencari masalah pada Mega kini berkumpul dengan teman-temannya.
"Kalian tau, gak? Masa tadi aku dibantuin sama Ning gak jelas itu? Buku aku disusunin sama dia," ungkapnya pada ketiga teman lainnya.
"Lah, bukannya seharusnya anti berdua membawa bukunya?"
"Tau, tuh! Dia malah pergi duluan, padahal bukunya jelas-jelas berat," gerutunya mengingat seharusnya berdua membawa buku tersebut.
"Terus?"
"Ya, aku bilang makasih. Cuma, aneh banget gitu. Biasanya, 'kan dia galak plus ketus banget gak kayak seorang Ning.
__ADS_1
Ini tadi bisa-bisanya dia senyum sama aku dan minta maaf atas perlakuan dia sama aku selama ini jika menyakiti hati dia."
"Lagian, ya, dari awal Ning juga gak ada salah sama kamu, tau! Kamu aja yang nyari gara-gara sama dia.
Kalau masalah kenapa dia banyak disukai orang-orang sampe Ustadz Ridwan juga suka sama dia.
Ya ... wajar kali, orang dia pintar dan baik seperti itu. Dia gak ada berbuat salah sama kamu, kamu yang salah sama dia," ungkap salah satu temannya.
"Kau kenapa jadi bela dia, ha?"
"Bukan bela, tapi emang itu kenyataannya. Dia biasa aja perasaan sama kamu, tapi kamunya kayak anggap dia musuh."
Santriwati itu langsung pergi meninggalkan temannya karena merasa disalahkan, ia berjalan ke arah toilet.
Dirinya terdiam dan memikirkan apa yang dikatakan oleh teman-temannya, bahwa, ya, memang benar semua itu.
Entah apa sebabnya, dirinya langsung tidak suka dengan Mega. Awalnya sebab dahulu ia menyukai Ustadz Ridwan.
Bahkan, sempat beberapa kali mengungkapkan perasaan pada laki-laki itu tanpa malu. Namun, Ridwan beralasan lain menolak dirinya dengan mengungkapkan bahwa sudah menyukai orang lain.
Tak lama dari itu, ia melihat bahwa Afifa sempat dekat dengan Ridwan membuat dia berpikiran bahwa orang yang disukai Ridwan adalah Afifa.
Kemudian baru-baru ini juga Mega sempat dihukum oleh Umi dan yang mengawasi adalah Ridwan kembali.
Semakin memuncaklah rasa marah dengannya pada sosok Afifa saat itu juga sehingga ia lampiaskan ke Mega.
Mega tersenyum melewati santriwati itu dan berjalan dengan memandang lurus ke depan.
Tok! tok! tok.
"Assalamualaikum, permisi Ustadzah," salam Mega di depan pintu ruangan mereka.
"Waalaikumsalam, masuk Ning!" titah para Ustadzah yang ada di dalam.
Mega mengangguk dan masuk ke dalam ruangan, mencari nama Ustadzah yang harus dirinya temui.
Karena, ia memang belum hafal wajah dan nama-nama para Ustadzah, "Mau cari siapa Ning?" tanya salah satu Ustadzah yang duduk.
"Ini, mau ngasih jawaban dari soal yang diberikan Ustadzah."
"Oh, kamu gak ingat sama Ustadzah Yuli, ya? Sampai nyari nama dia di papan nama gitu."
"Hehehe," jawab Mega cengengesan untuk menutupi diri yang sebenarnya memang tak tahu orangnya yang mana.
"Itu, Ustadzah Yuli Ning Afifa," tunjuknya ke arah pojok di mana wanita yang namanya di sebut langsung mengangkat tangan.
"Terima kasih Ustadzah."
"Sama-sama."
__ADS_1
Mega berjalan ke meja Ustadzah Yuli dan menyerahkan buku tugasnya, "Kenapa gak masuk ke kelas?"
"Hehe, lagi dihukum Abah. Ustadzah."
"Oh, yaudah kalau gitu. Terima kasih udah ngerjain."
"Eh, kebalik atuh Ustadzah. Terima kasih udah diberi izin berbeda waktu ngumpulnya."
"Gak papa, ini juga bukan mau kamu, 'kan?" tanya Ustadzah dengan tersenyum.
Dianggukkan Mega kepalanya dan pamit pergi dari ruangan ini untuk kembali ke rumah, masih belum semua kupelajari dari buku-buku yang Abah beri.
Saat akan kembali ke rumah dengan bersenandung, mata Mega melihat seseorang yang sedang terduduk sembari memegang kepalanya.
"Kamu gak papa?" tanyanya melihat ke arah orang tersebut.
"Gak papa," jawabnya dan melihat ke arah Mega.
"Eh, kamu? Kenapa?" tanya Mega melihat santriwati yang waktu itu sempat berselisih paham dengannya.
"Gak papa Ning, aku baik-baik aja kok."
"Wajah kamu pucet itu, kamu kenapa?" tanya Mega khawatir, "kita ke ruang kesehatan aja, yuk! Biar saya bantu."
"Gak perlu, saya bisa sendiri, kok."
"Oh, yaudah kalau gitu," pasrah Mega sambil melihat santriwati tadi yang ingin pergi sendirian.
Mega bangkit dan menatap ke arah santriwati itu yang memegangi tembok untuk berjalan, dihela Mega napasnya dan menggelengkan kepala.
Berjalan mendekat ke arah santriwati itu memegang bahunya dan membantu ia untuk berjalan.
"Saya tau salah kamu banyak sama saya, kamu tinggal minta maaf, kelar deh. Gak perlu harus malu seperti ini, daripada kamu jatuh nanti dan yang sakit semakin banyak, gimana?" tanya Mega membopong tubuh santriwati itu.
Santriwati tadi hanya diam mendengar penuturan dari Mega, Mega membantu dirinya sampai ke ruang kesehatan.
Tak lama setelah menunggu di luar ruangan, ketiga temen wanita tadi datang menemui dirinya.
"Gimana keadaan dia Ning?"
"Saya juga belum tau, masih di cek di dalam. Kalau gitu, saya permisi dulu, ya. Assalamualaikum," salam Mega dan beranjak dari depan ruangan.
"Ning, tunggu!" henti salah satu teman santriwati tadi membuat Mega berhenti.
"Makasih banyak, ya, Ning karena udah baik sama dia. Dia sebenarnya orang yang baik, kok dan gak berniat buat jahatin Ning."
Mega menepuk bahu wanita di depannya ini, "Iya, gak papa. Santai aja, saya gak pernah dendam sama orang lain. Kalau gitu, saya permisi. Assalamualaikum," salam Mega kembali dan pergi.
"Waalaikumsalam," jawab mereka menatap punggung Mega yang menjauh.
__ADS_1