Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Kembali Ke Asal


__ADS_3

[Hay Mega xixixi. Seminggu ini, aku berada di tubuhmu. Bagaimana rasanya berada di tubuhku? Apakah se-seru aku merasakan tubuhmu, ya?


Aku banyak belajar Mega, bahwa dunia luar tak seburuk dan mengerikan yang orang lain katakan serta aku bayangkan.


Setelah ini, aku semakin semangat untuk membujuk Abah dan Umi agar dapat memberikan aku izin kuliah ke luar negri.


Aku belajar juga bahwa tidak semua teman itu pendusta dan membuat kecewa. Mungkin, hanya aku salah bertemu dengan orangnya.


Tolong temani Mama apa pun keputusan Mama ke depannya, ya. Jangan pernah membenci siapapun dan menyalahkan siapapun termasuk diri kamu sendiri.


Bersama dengan mereka, semuanya terasa sangat cepat berlalu. Aku harap, kamh juga merasakan hal itu di kehidupanku, ya.


Ada banyak canda dan tawa mereka hadirkan untukku, mungkin setelah ini aku akan belajar bela diri deh hehehe.


Kita adalah dua orang yang sama-sama salah menanggapi dunia dan kehidupan orang lain, kita tak pernah bersyukur dengan kehidupan yang kita punya.


Bersyukur kehidupan yang kita punyai tak hancur akibat ego kita yang ingin seperti kehidupan orang lain.


Namun, kita malah memperbaiki kehidupan kita ini dengan sebaik-baiknya dan belajar menerimanya.


Aku denger dari temen kamu bahwa kamu emang sangat ingin menjadi seorang Ning, ya? Hahaha.


Semoga ekpektasi kamu tentang dunia Ning itu benar, ya, minimal beberapa persenlah jangan langsung 0%


Aku berharap kita bisa bertemu lagi, di suatu saat nanti di mana kita bertemu dengan jiwa, tubuh serta kehidupan yang sebenarnya.


Oh, iya, setelah ini jangan kaget jika Kak Leon akan deket sama kamu, ya. Dia ternyata tak seburuk yang aku bayangkan.


Ya, maaf kalau aku memikirkan buruk tentang dia padahal kita tidak boleh berpikiran buruk terhadap orang lain, bukan?


Habisnya, baju di robek-robek gitu belum lagi rambut dan anting di telinganya. Ya, ampun serem banget hehehe.


Dia ngasih aku boneka, hmm ... sebenarnya aku pengen bawa boneka ini. Tapi, gak mungkin bisa, ya, hehehe.


Segitu aja pesan aku ke kamu, kita berdua harus sama-sama bahagia. Aku juga ucapkan terima kasih karena kamu pasti telah berjuang di dunia aku untuk memperbaiki berbagai hal. Terima kasih, ya.]


Afifa meletakkan selembar kertas itu di atas meja dan membiarkan pena serta boneka yang diberikan oleh Leon serta hadiah yang di dapatnya sendiri di dekat kertas itu.


Air matanya menetes kala menuliskan dan mengingat betapa bahagianya dia di kehidupan ini.


Namun, dirinya lebih sadar lagi bahwa kehidupannya di sana jauh lebih membahagiakan.


"Gimana kabar Umi, Abah dan Akbar, ya?" gumam Afifa menghapus jejak air mata mengingat tiga orang yang paling disayanginya itu.


Dirinya bangkit dan naik ke atas ranjang, suara handphone berbunyi membuat dirinya mengambil untuk melihat panggilan dari siapa.


"Assalamualaikum, iya, ada apa Kak Leon?" tanya Afifa dengan tersenyum melihat nama Leon yang tertampil di layar handphone-nya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, udah selesai salat-nya, 'kan?"


"Haha, sudah Kak."


"Mmm ... lu gak papa, 'kan?"


"Ha? Maksudnya Kak?"


"Ya, habis kalimat lu tadi sore seolah lu akan pergi jauh entah ke mana gitu. Aneh tau!"


"Astaghfirullah, maaf Kak maaf. Pantesan Kakak nelpon aku."


"Ya, setidaknya ngeri juga gitu. Baru ketemu tadi sore tau-tau dapat kabar gak enak."


"Ya, Allah. Gak akan dong Kak ngelakuin hal begituan, dosa kali."


"Kita gak pernah tau pikiran orang, bisa jadi ucapannya A tapi pikirannya B. Jangan terlalu percaya dengan ucapan orang deh."


"Iya, Kak. Bener banget, sih."


"Leon, belajar!" pekik Mama Leon hingga terdengar sampai ke telinga Afifa.


"Hahaha, belajar sana Kak," suruh Afifa.


"Hm ... Mama ini bener-bener, ya!"


"Udah, sana Kak. Lebih baik belajar aja sana atuh, gak papa kok."


"Ha? Caranya gimana?" tanya Afifa bingung, "Afifa datang ke sana, gitu? Malam-malam gini?"


"Gak gitu dong, kita video call. Lu sekarang pake kerudung deh, biar gue video call lu."


"Iya, bentar deh."


Afifa mengambil mukena dan memakainya kembali, kakinya di tutup menggunakan selimut dan bersandar di atas ranjang.


Video call akhirnya tersambung, Afifa tersenyum melihat Leon yang ada di sebrang sana. Dirinya menatap sisi kamar yang terlihat.


"Dih, lu liat apaan? Gak perlu liat kamar gue!" kata Leon berjalan ke meja belajar.


"Ya, gak papa dong Kak."


"Yaudah, gue belajar dulu. Lu temenin, ya!"


"Oke!"


Handphone diletakkan Leon ke tempat yang bisa membuat dia menatap wajah Afifa, wanita itu memilih untuk merebahkan tubuh dan melihat Leon yang sedang belajar.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, rasa kantuk menyerang Afifa dan memaksa dirinya tertidur. Membuat mata yang sudah ia tahan agar tak tertidur nyatanya tetap tertidur.


Leon melirik ke arah handphone setelah selesai membaca beberapa paragraf di buku dan menatap ke arah Afifa.


Ia tersenyum sambil menatap setiap inc wajah tenang milik Afifa itu, "Selamat tidur, makasih untuk hari ini. Lu banyak ngajarin gue berbagai hal, semoga lu selalu bahagia, ya," bisik Leon tak ingin sampai membangunkan Afifa.


Diputuskan Leon sambungan dan membiarkan Afifa tertidur, dilihat jam sudah waktunya untuk tidur sebab badannya juga lelah karena hari ini.


***


Suara alarm membangunkan seseorang dari tidurnya, ia mengerjapkan mata melihat sekeliling. Duduk dengan mata yang melotot.


"Ha? Aaaa!" pekiknya bangkit dari ranjang memegang tubuh miliknya.


"Ada apa? Mega, ada apa Sayang?" tanya Mama yang terbangun akibat mendengar suara teriakan dari bibir Mega.


Dirinya langsung menghentikan aktivitas-nya dan menatap ke arah Mama dengan cengengesan, "Gak papa, Ma. Ada kecoa tadi soalnya, jadi teriak deh."


"Ha? Ada kecoa?"


"Iya, Ma. Itu tadi di dalam selimut Mega ada kecoa, tapi udah pergi. Kaget juga dia kayaknya karena denger teriakan Mega."


"Ehmm ... kamu ini, Mama kirain ada apa. Kalau emang masih ada kecoanya kamu tidur di kamar Mama aja, ya?"


"Oh, gak usah Ma. Udah pergi kok dia."


"Yaudah, Mama balik ke kamar kalau gitu, ya."


"Iya, Ma silahkan!" ujar Mega mempersilahkan. Dirinya menutup kembali pintu kamar dan menatap kamar miliknya di rumah Mama.


"Apa gue mimpi, ya?"


Plak!


"Aww, sakit ternyata," sambung Mega mengusap pipinya yang habis di tamparnya sendiri.


Pandangannya melihat ada sesuatu di atas meja, dijatuhkan bobot tubuh dan membaca isi dari kertas tersebut.


Mega bangkit setelah duduk cukup lama dan masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandi sekalian salat Subuh.


Dibuka gorden menatap langit cerah yang biru serta dengan awan dan tak lupa kicauan burung menjadi temannya.


'Alhamdulillah, ya, Allah. Hamba kembali pada kehidupan yang memang seharusnya hamba jalani.


Semoga, Afifa di sana bahagia dengan kehidupannya dan kami tak pernah menyesal dengan kehidupan yang ada,' batin Mega tersenyum dan berjan keluar kamar dengan seragam sekolah serta kerudung yang rapi tentunya.


Jangan pernah membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Karena, apa yang kamu lihat belum tentu kenyataannya.

__ADS_1


Banyak tawa di luar tak menjamin bahwa banyak juga di dalam rumah. Jadi, nikmati dan syukuri hidupmu serta berdoa pada-Nya agar selalu diberi hati yang luas untuk bersyukur dengan takdir yang ada.


TAMAT


__ADS_2