Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Senyum Salah


__ADS_3

'Ini tempat apaan namanya? Bagus banget, ya, Allah,' batin Afifa masuk ke kawasan time zone.


"Kita foto dulu, yuk!" ajak Kanaya penuh dengan semangat.


"Oke, karena tadi Kak Leon udah bayarin makan kita dan tinggal lu aja Mega yang beli koinnya sana."


"Iya, bentar, ya!"


Afifa berjalan ke arah kasir di mana ada penjaga untuk hiburan ini, dirinya membeli tiga kartu dengan isi yang sama banyak.


Diberikan satu per satu pada mereka, berjalan ke box foto bersama dengan senyum bahagia.


"Gue udah lama banget gak ke sini."


"Iya, sama. Habis ini, kita main mesin capit, yuk!"


"Siap!"


Saat ketiga teman Afifa sudah memikirkan akan bermain apa, Afifa malah sibuk melihat-lihat permainan juga orang yang sedang bermain.


'Jadi ingat Akbar, kalau dia dibawa ke tempat begini pasti akan seneng banget tuh. Gak akan mau pulang deh dia,' batin Afifa teringat pada adik bungsunya itu.


"Lu emang selalu senyum-senyum sendiri kek gini, ya?" celetuk Leon mendapati bahwa Afifa sedang tersenyum.


Afifa yang merasa langsung mendatarkan wajahnya, "Emangnya senyum salah, ya? Senyum aja dipermasalahkan!" gerutu Afifa pergi meninggalkan Leon.


Sesampainya di box ia tak berhenti ngedumel tentang sikap Leon barusan, seakan dirinya tak ada benarnya di mata laki-laki itu.


Tak lama ia masuk, Leon pun masuk sedangkan teman-temannya sedang asyik memilih filter juga posisi foto.


"Mana Kak Leon? Masuk Kak cepetan biar kita foto bareng, nih!" seru Kanaya yang sudah tak sabar.


Leon masuk dan membuat Afifa bergeser memberi ruang untuk dirinya, tiga orang di depan dan dua orang di belakang; Afifa dan Leon.


"Oke, kita foto ya. Satu, dua, tiga!" peringat Wendi.


Mereka langsung berebut untuk melihat hasil dari foto itu, Afifa sampai heran sendiri melihat tingkah mereka.


Padahal, ia yang baru pertama kali datang ke tempat seperti ini. Namun, mengapa malah seolah mereka yang baru pertama kali datang?


Ketika orang di depan mendongak menatap ke arah Afifa juga Leon yang saling membuang pandangan ke arah lain.


"Kalian kenapa, sih? Fotonya aneh gini jadinya, harusnya senyum dong. Gembira gitu!"

__ADS_1


"Tau, tuh! Kami udah capek-capek gaya, kalian malah kayak gitu."


"Kak Leon, Mega! Yang bagus dong gayanya, senyum gitu senyum!"


Komplen mereka bertiga yang tentu saja mereka ucapkan, pasalnya di dalam foto tersebut kedua orang itu malah saling membuang wajah satu sama lain dan tanpa ada senyum.


"Iya deh iya," pasrah Afifa dan menatap ke arah mereka.


"Nah, gitu dong. Apa pun yang terjadi di rumah tangga kalian berdua, jangan bawa ke sini. Kita harus pura-pura happy, oke?" titah Kanaya.


"Apaan, sih!" gerutu Afifa sebal dengan kalimat Kanaya barusan.


Dengan penuh paksaan, akhirnya mereka pose dengan gaya yang disuruh oleh Kanaya dan terkadang Megi.


Enam buah foto dan satu yang akan dibuang sebab hasilnya tak bagus, satu orang memegang satu foto dengan gaya di setiap foto berbeda.


Afifa langsung memasukkan foto ke dalam tas tanpa melihatnya terlebih dahulu begitu pun dengan Leon.


"Yaudah kalau gitu, kita mencar di sini, ya! Soalnya gue mau main basket," kata Wendi.


"Iya, gue juga mau main bola."


"Gue mau main dance-dance."


Dimasukkan Leon tangannya ke saku celana dan Afifa melihat ke sekeliling, mencari permainan yang sekiranya bisa dia mainkan.


'Oh, iya, ini hari terakhir aku di tubuh Mega. Lebih baik aku beri dia kenang-kenangan deh,' batin Afifa berjalan ke arah mesin japit boneka meninggalkan Leon begitu saja.


"Ck! Dasar tuh cewek, tadi katanya kesian karena aku harus jagain dia. Sekarang malah main pergi begitu aja, dia gak tau kalau dia kenapa-kenapa nanti aku juga yang akan disalahkan," geram Leon dan menyusul Afifa.


Afifa menggesekkan kartunya ke permainan itu, dengan tersenyum bahagia ia mulai menggerakkan penjepit ke salah satu boneka.


'Ayolah-ayolah, semoga dapat, ya, Allah. Ini buat Mega soalnya,' batin Afifa penuh harap.


Saat akan diangkat, penjepit malah terlepas membuat boneka kembali terjatuh. Leon hanya melihat saja tanpa berniat membantu wanita itu.


Berulang kali dirinya coba hingga koin yang tersisa di kartu tinggal sedikit lagi, "Sini, biar gue ambilkan," ujar Leon ingin membantu.


"Enggak, biar Mega aja Kak," tolak Afifa fokus kembali pada mesin penjapit.


Leon hanya bisa pasrah dan membiarkan wanita itu mengambil bonekanya.


"Yee ... bisa, 'kan? Menang-menang!" seru Afifa meloncat-loncat mendapatkan boneka berwarna merah jambu.

__ADS_1


Langsung diambilnya dan di peluk dengan erat boneka tersebut, "Cantik, 'kan Kak?" tanyanya menunjukkan boneka ke hadapan Leon.


Leon hanya mengangguk sambil melirik sekitar sebab mereka jadi pusat perhatian akibat ulah Afifa barusan.


Melihat Afifa sedang bahagia dengan keberhasilannya, Leon menggantikan posisi wanita itu.


Baru sekali bermain, Leon sudah mendapatkan boneka. Afifa yang berada di sampingnya menjadi berhenti gembira kala melihat hal itu.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh," gumam Afifa menghitung boneka yang di dapat Leon dan di letakkannya di lantai.


"Jagain bentar, ya, gue mau minta plastik," titah Leon menatap Afifa yang masih tak percaya.


Ia mengangguk dan melihat ke arah laki-laki itu, lalu ke boneka hasil dapatan Leon kembali.


"Aku bahagianya sampe loncat-loncat, dia malah biasa aja," gumam Afifa kembali menatap boneka yang di pegangnya dengan yang ada di lantai sangat tak sebanding.


Ketiga teman Afifa akhirnya datang kembali, "Wih, siapa yang dapat sebanyak itu?"


"Gak mungkin sih kalo si Mega."


"Kak Leon," jawab Afifa menatap ke arah temannya.


Mata mereka langsung membulat dan menutup mulut tak percaya, Leon kembali dengan membawa plastik sembari memasukkan boneka ke dalamnya.


Afifa yang melihat hal itu langsung membantui laki-laki tersebut agar tak lama hanya memasukkan boneka saja.


"Nih, buat lu," ucap Leon menyerahkan satu boneka yang dipilihnya.


Ditatap Afifa boneka yang disodorkan padanya lalu melihat ke arah Leon kembali, "Buat aku, Kak?"


"Iya, kenapa? Lu gak mau?"


"Mau!" seru Afifa dengan cepat mengambil bonekanya.


"Nih buat kalian, pilih aja. Siapa yang punya adik bawa satu lagi, habis itu kasih anak-anak yang ada di sini, ya!" titah Leon memberikan kantong kresek tadi ke arah Kanaya.


"Siap Kak!" potong Megi mengambil plastik lebih dulu.


Tentu saja mereka langsung bertengkar satu dengan yang lainnya, Afifa menatap Leon sebab merasa ada yang berbeda.


'Aku dipilihin, mereka malah ambil sendiri. Aaaa ... ya, ampun, Kak Leon huh! Boleh dibawa gak, sih, bonekanya pulang ke sana? Biar aku selalu ingat sama Kak Leon,' batin Afifa penuh berharap.


Namun, tentu saja hal semacam itu tak bisa dilakukan karena mereka hanya bertukar jiwa saja.

__ADS_1


__ADS_2