
Sedangkan di kota lain, ada seseorang yang masih terbaring enggan membuka matanya. Semua orang khawatir bahkan beberapa dokter sudah dipanggil untuk men-cek keadaannya.
"Kalian kenapa bawa Mega ke pantai lagi, ha? Kalo terjadi apa-apa sama dia nanti, gimana? Kalian semua mau tanggung jawab?" tanya Mama Mega dengan nada tinggi.
"Jangan salahkan mereka, salahkan dirimu sendiri yang gak becus jaga satu orang anak doang!" timpal Papa Mega yang berada di sisi Mega juga.
"Ha? Kamu kira aku pengangguran kayak istri kamu itu? Kalau aku pengangguran dan kerjaannya cuma godain suami orang mah, iya, gampang! Gak perlu capek-capek kerja," debat Mama Mega tak mau kalah.
"Euh ...," lenguhan keluar dari bibir wanita yang dari tadi ditunggu-tunggu bangunnya.
Mereka semua mendekat menatap ke arah Mega yang sedang terbaring, ia membuka mata dengan perlahan dan menatap satu per satu wajah orang yang ada di hadapannya.
Masih ada ke-tiga teman Mega, Bibik juga kedua orang tua yang berada di sisi kanan dan kiri. Tangan Mega terulur memegang kepala sebab merasa ada yang aneh.
"Astagfirullah ... kerudung saya mana?!" pekiknya saat merasa rambut yang baru saja di pegang.
"Keluar! Kalian semua keluar! Cepat!" sambungnya kembali membuat semua orang keluar dari ruangan kecuali Mama Mega.
"Sayang ... Nak, kamu kenapa?" tanya Mama Mega memegang bahu anaknya sedangkan air mata sudah membasahi pipi.
"Astagfirullah ... maafkan hamba, ya, Allah," kata Afifa yang sekarang tengah berada di tubuh Mega.
"Kamu kenapa Mega? Bukannya kamu emang gak pake kerudung? Kenapa malah kaget kayak gini dan ngerasa dosa banget?"
Afifa menatap ke arah wanita di depannya dengan menautkan alis, "Maaf, Ibu siapa, ya?" tanya Afifa menunjuk ke arah Mama Mega.
"Sayang ... ini, Mama. Kamu gak kenal sama Mama, Mega? Dokter bilang kamu gak ada masalah, kok. Kenapa kamu malah kayak orang ilang ingatan, gini?"
"Mama?" tanya Afifa mengulang kembali sebutannya.
"Iya, Sayang. Ini Mama kamu Mega."
Afifa bangkit dari baringnya dan duduk menatap sekitar kamar serta pakaian yang tengah ia pakai sekarang, "Naudzubillah," ucap Afifa melihat celana se-paha serta pakaian dari pantai tadi.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Kok aneh banget!"
__ADS_1
"M-ma ... Me-mega mau mandi dulu, Mama keluar sebentar boleh, ya?" tanya Afifa dengan gelagap.
"Yaudah, Mama keluar sebentar nanti kamu keluar, ya. Semua khawatir dan mau liat kamu cek keadaan kamu," jelas Mama dan diangguki Afifa.
Mama mengusap kepala dan tersenyum, berjalan ke luar kamar Afifa kembali menutup kamarnya. Afifa menyibakkan selimut dan berjalan melihat sekitar kamar.
Afifa berjalan ke arah jendela untuk melihat ke arah luar, ia berjalan kembali ke arah foto yang terpajang di meja.
"Ini ... tubuh cewek yang aku masuki? Namanya Mega? Berarti tadi itu Mamanya? Kenapa aku malah dimasukkan ke sini? Kenapa gak ngerasain dunia orang yang anak pondok juga?
Ini ... wajah orang-orang tadi? Dia, temen aku gitu? Kok, ada cowok sendiri, sih?" gumam Afifa melihat foto yang bertuliskan, 'best friend.'
"Eh, sekarang udah jam berapa?" Afifa menatap ke arah jam dinding yang terpajang di dinding menunjukan pukul 19:25.
"Astagfirullah, ya, Allah. Sebentar lagi mau Isya, Afi-eh, Mega harus segera salat, deh. Mandi dulu," kata Afifa membuka lemari dan mencari keberadaan gamis serta kerudung juga perlengkapan muslimah lainnya.
"Kaos kakinya gak ada yang lain? Cuma kaos kaki sekolah doang?" tanya Afifa sendiri.
Ia menggelengkan kepala dan masuk ke kamar mandi, 'Ini, cara pakainya gimana, ya?' batin Afifa melihat shower yang bergantung.
Duduk di tepi ranjang yang empuk dengan mata yang masih menatap kamar mewah, Afifa memasang kaos kaki dan keluar dari kamar dengan gugup.
Semua orang yang berada di ruang tamu dan duduk di sofa langsung menatap ke arahnya, semua masih ada di situ bahkan temannya sekalipun.
"Sayang?" panggil Mama bangkit dari tempat duduk menatap ke arahnya tanpa kedip, "k-kamu? Pakai kerudung?"
"Hehe, i-iya, Ma. Gak papa, 'kan?" tanya Afifa menaikkan sebelah alisnya.
"Gak papa banget, Sayang. Papa seneng banget kamu bisa berubah jadi lebih baik, setidaknya jauh lebih baik daripada Mama kamu."
"Heh! Kamu jangan merasa sok paling bener, ya! Diri sendiri aja doyan selingkuh, udah kayak kucing aja," sindir Mama memegang bahu Afifa.
'Ini, mereka lagi bahas apaan, ya? Afifa gak paham, ya, Allah? Sebenarnya gimana, sih, keadaan keluarganya?'
"Kalau saya kucing, kamu apa? Manusia terhina, gitu? Ya ... lumayanlah walaupun saya hewan tidak se-hina kamu!" debat Papa yang gak mau tinggal diam.
__ADS_1
"Kamu seharusnya nga--"
"Astaghfirullah, Allah melarang seseorang membuka aib pasangannya sendiri. Meskipun Mama dan Papa sudah gak bersama tapi gak baik sekarang saling buka-bukaan aib yang diketahui waktu bersama.
Jika memang sudah pisah walaupun perpisahan adalah jalan yang Allah benci, maka gak perlu lagi bertengkar.
Mama sama Papa cukup fokus pada kebahagiaan kalian serta tanggung jawab dan jangan lupa kebahagiaan saya.
Di sini ada teman-teman saya, lho. Emangnya gak malu, hingga mereka mendengar aib yang kalian koarkan tadi?
Mereka jadi tahu bagaimana kelakuan kalian sebenarnya satu sama lain," potong Afifa membuat Mama dan Papanya terdiam dan menatap dengan tatapan aneh ke arahnya.
Bahkan, teman-teman Afifa yang berada di dekat sofa saling menepuk bahu masing-masing menatap tak percaya bahwa dirinya bisa berbicara sebijak itu.
"S-sayang? K-kaos kaki kamu kenapa pake kaos kaki sekolah?" tanya Papa melihat ke arah kaki Afifa.
"Iya, Pa. Soalnya gak ada kaos kaki yang lain, hehe. Yang penting, bisa nutupin aurat, deh," jawab Afifa dengan cengengesan.
"O-oh ... Papa akan kirimin kaos kaki tenyaman dan terbaik sama kamu nanti, Papa mau pulang dulu, ya. K-kamu jangan lupa besok Papa juga akan kirimkan baju ... apa?"
"Gamis Pa!" jawab Afifa tersenyum dengan manisnya.
"B-baik, Papa pulang dulu, ya. Besok Papa kirimin gamis juga kaos kaki dan lainnya." Papa melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Cup! Papa pergi dulu," sambung Papa dan mengecup kening Afifa membuat wanita itu sedikit kaget.
'Afifa, kamu gak boleh kaget. Ini, 'kan tubuh Mega. Ya ... mungkin emang begini kelakuan mereka,' batin Afifa merasa aneh ketika dikecup.
"Pa, tunggu!" panggil Afifa ke arah Papa-nya yang sudah lumayan dekat dengan pintu.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Papa membalikan badan menatap ke arahnya kembali.
Afifa mengulurkan tangannya ke arah Papanya, "A-apa? Kamu mau uang? Nanti Papa tf langsung deh."
Afifa mengambil tangan sebelah kanan Papa dan mengecupnya dengan takzim, "Assalamualaikum, Pa. Papa hati-hati nyetir mobilnya, ya," ucap Afifa kembali menegakkan tubuhnya menatap ke arah Papa.
__ADS_1
Mata Papa Afifa membulat dan tangannya bergetar mendapatkan perlakuan tak biasa dari putrinya yang ia kira Mega itu.