Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Burger Ala Kadarnya


__ADS_3

Seperti kata Umi tadi sore bahwa malam ini Mega tak perlu ke aula, Mega memilih untuk kembali membaca box yang disimpannya tadi pagi karena tidak sempat membacanya.


Sedangkan Abah tetap saja ke aula seperti biasa dengan para ustadz serta ustadzah yang memiliki waktu mengajar buat malam ini.


Ustadz Ridwan menelisik ke arah Abah yang sedang berjalan ke arah aula, dirinya mendekat sebab Abah tak melihat ke arahnya.


"Assalamualaikum Kyai," salam Ustadz Ridwan sambil menyalim tangan Abah.


"Waalaikumsalam, Ustadz Ridwan. Ada apa?" tanya Abah tersenyum ramah ke arahnya.


"Mmm ... Ning-nya mana Kyai? Tidak ikut?" tanya Ustadz Ridwan dengan menunduk.


"Tidak, kebetulan dia diberi jatah libur dulu untuk malam ini dari Nyai. Katanya, hari ini sudah terlalu banyak hukuman yang dia selesaikan, ya?


Apa, dia tadi sore juga membantu para santri laki-laki memperbaiki suatu alat? Soalnya, pulang-pulang Nyai kaget dengan wajahnya yang hitam."


"Hehe, iya, Kyai. Itu benar, dia sendiri yang membantu sebab melihat kami tidak kunjung bisa memperbaikinya.


Maaf, Kyai. Saya merasa bahwa Ning yang sekarang sangat jauh berbeda dengan yang dulu, bagaimana kalau tanya-jawab nanti Ning yang melawan salah satu santri kita?"


Abah terdiam mendengar saran dari Ustadz Ridwan, "Tapi, bagaimana dengan santriwati yang sudah dipilih?"


"Kita adu dulu mereka bertiga dengan soal yang lebih mudah, baru jika soal yang mudah membuat mereka ada yang gugur. Baru, bertahan dipilih untuk tanya-jawab itu Kyai."


"Baik kalau gitu, kapan dilakukan?"


"Dua hari lagi masih ada hukuman buat Ning, Kyai. Jadi, mungkin setelah dua hari itu."


"Materinya sudah kamu catat?"


"Sudah Kyai, semua sudah aman."


"Yasudah kalau gitu, ayo, kita ke aula!" ajak Abah.


"Baik Kyai."


Sebelum berjalan ke arah aula, pandangan Ustadz Ridwan menatap ke arah rumah Abah dengan fokusnya.


Seolah di rumah itu ada wajah Mega yang tertampil hingga dirinya enggan beralih menatap ke arah lain.

__ADS_1


"Melihat itu ke depan Ustadz, jangan ke belakang. Boleh saja melihat ke belakang, tapi ingat jaga pandangan lebih di utamakan!" sindir Abah yang melirik ke arah Ustadz Ridwan dari tadi yang tak berhenti melihat ke atau rumahnya.


Ustadz Ridwan yang mendengar kalimat itu langsung gelagapan dan ber-istighfar atas apa yang baru saja ia lakukan.


***


"Aaa ... tinggal 4 hari lagi aku di sini, udah rindu banget sama Jakarta!" seru Mega tersenyum kala melihat pemandangan pagi ini dari jendela kamar.


Kamar sudah dirinya bersihkan sehabis salat Subuh, bahkan ia juga murajaah karena memang itu hal diharuskan.


"Sayang, kamu tolong buatkan sarapan untuk kamu dan Akbar, ya. Umi harus ke pasar dengan santriwati yang lainnya karena stok makanan sudah mau habis," pesan Umi ketika Mega baru saja membuka pintu kamarnya.


"Baik, Umi. Abah di mana?"


"Abah sudah makan, Abah belis sarapan di luar tadi dan katanya lagi ada perlu sama Ustadz Ridwan. Paling, lagi ada di kamar Ustadz Ridwan.


Umi pergi dulu, ya, Sayang. Biar dapat sayur serta ikan yang segara. Assalamualaikum," salam Umi setelah Mega mengecup tangannya juga tak lupa menjawab salam Umi.


Ditutup Mega kembali pintu, sengaja tak dibuka karena Umi dan Abah pun tak ada di rumah ini. Akbar keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Akbar mau makan apa?" tanya Mega tersenyum sambil berkacak pinggang.


"Nasi goreng aja Mbak," pinta Akbar mendongak menatap dirinya.


Mega sudah bersemangat sedangkan Akbar malah berpikir mendengar nama makanan yang disebutkan Mega barusan.


"Itu emang bisa buat kenyang Mbak?"


"Bisa, dong! Nanti kamu makan 10 potong, oke?!"


"Yaudah, oke Mbak!" jawab Akbar pasrah.


Mega berjalan ke dapur dan menggunakan celemek yang tergantung, diambil roti tawar tak lupa diberi margarin.


Berjalan ke arah kulkas melihat apakah ada telur, beruntung keinginannya untuk masak dan membuat burger ala kadarnya seperti yang ia katakan terwujud.


Sekitar 25 menit akhirnya sudah selesai burger 3 potong di atas meja, Mega juga membuatkan dua gelas susu untuknya juga Akbar.


"Gimana, enak?" tanya Mega yang melihat Akbar memakan burgernya.

__ADS_1


"Enak Mbak! Ini enak banget!" seru Akbar dengan mata yang membulat.


"Yes!" seru Mega bahagia ketika apa yang dia masak ternyata disukai oleh orang-orang.


Mereka menghabiskan sarapan dan tak lupa merapikan kembali alat makan ke tempatnya serta mengelap meja makan agar tetap bersih.


Waktu masuk ke kelas masih lama lagi, Akbar dan Mega memilih duduk di tangga teras rumah mereka sambil melihat ke arah lapangan.


Pikiran Mega masih tertahan di curhatan yang ditulis oleh Afifa sendiri, dirinya tahu sekarang apa sebab wanita itu enggan untuk bersosialisasi.


Rasa trauma yang berat memang tak bisa dianggap sepele, mungkin orang lain berkata bahwa itu berlebihan.


Namun, bagi kita yang merasakan itu sangat menganggu juga menyakitkan diri sendiri. Kita tak bisa melakukan hal yang sama dengan orang lain.


Kalau pun bisa, kita akan selalu dibayang-bayangi dengan rasa takut akibat trauma tersebut.


"Mbak? Mbak kenapa bengong kayak gitu? Masih pagi juga," tegur Akbar membuat Mega tersadar.


"Eh, hehehe."


"Mbak ingat, gak? Dulu pernah ada seperti tanya-jawab yang dilakukan para guru untuk santri juga santriwati di pondok ini."


"Gunanya untuk apa?" tanya Mega menautkan alisnya.


"Untuk sama-sama belajar dan memperbaiki pemahaman Mbak, karena terkadang pemahaman laki-laki juga perempuan, 'kan berbeda.


Seperti dulu, ya, ternyata jauh beda sekali antara pemahaman kedua insan manusia ini Mbak. Biasanya yang dipilih adalah kelas dua belas Madrasah.


Mbak gak mau ikutan? Biar nanti lawannya sama Akbar, gini-gini Akbar juga pinter, lho," jelas Akbar membanggakan dirinya.


"Terus, di mana sesi tanya-jawab itu dilakukan?" tanya Mega mulai tertarik dengan topik yang diberi Akbar.


"Di rumah kita, setelah dapat nanti jalan benarnya baru diberi tau ke para santri yang ada. Biasanya akan ada Kyai lainnya yang akan ke sini, Mbak.


Seru pastinya, Akbar kadang suka ikut deg-degan apalagi banyak orang begitu. Ih ... kita mah dulu selalu di kamar dengan perdebatan mereka. Udah kayak guru aja mereka berdebat."


Mega terdiam dengan menyimak setiap kata yang diucapkan oleh Akbar, karena ingin menjawab dan bercerita hal itu pun dirinya sama sekali tidak tahu bagaimana kejadiannya.


"Yaudah, Mbak. Ayo, kita ke kelas! Udah mulai ramai orang, tuh," tunjuk Akbar menggunakan mulutnya yang dimajukan dan berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


Mega mengangguk dan ikut bangkit dari tempat duduk sambil memikirkan kembali perkataan Akbar.


'Dih, gak usah sampe gue ikut dalam sesi tanya-jawab begitu deh. Gue gak paham sama sekali apa yang akan ditanya dan dijawab,' batin Mega bergedik ngeri.


__ADS_2