
"Woy, Mega! Lu kagak bosen diikuti mulu kayak bocah SD gitu?" tanya Wendi melirik ke arah belakang.
"Ya, gimana lagi. Mama maunya begini," ucap Afifa pasrah.
Mau tak mau, Afifa harus mengikuti apa pun yang Mamanya katakan. Dirinya bahkan tidak diberi izin untuk pergi ke mana saja tanpa ada pengawasan dari bodyguard-nya.
"Eh, Jumat, 'kan libur nih. Gimana kalau kita ke mall aja?" ajak Megi dengan berbisik.
"Non, kami sampai sini saja, ya," kata salah satu bodyguard Afifa berhenti di depan kelas.
"Ya, iyalah. Emangnya lu mau masuk ke dalam? Mau belajar juga?" ucap Wendi dengan kesal.
"Gimana caranya, coba? Si Mega aja sekarang di kekang banget sama Mamanya, apa-apa di telpon. Apa-apa pake bodyguard, lebay banget, ya!"
"Lu gak boleh gitu Kanaya, itu semua, 'kan karena Mama-nya sayang sama dia."
"Itu bukan sayang, tapi berlebihan. Segala yang berlebihan itu gak baik termasuk pengawasan semacam ini!" tegas Kanaya duduk di bangkunya.
Afifa hanya bisa diam dan menatap ke arah bodyguard yang menatap dirinya dari tadi, ia hanya bisa pasrah dengan semua ini.
"Lagian, ya, gue heran. Ke mana, sih, Mega yang dulu? Kenapa sekarang malah manut banget? Ya, maksud gue bukan berarti gue mau ngajari dia sebagai anak yang membangkang.
Tapi, orang tua juga gak berhak mengekang anak seperti ini. Udahlah! Gue gak tau, terserah aja gimana! Capek gue!" sentak Kanaya memukul meja lalu pergi dari kelas.
Helaan napas terdengar dari bibir Megi, ia mendekat ke meja Mega, "Kita gak ada salahkan lu, kok. Kita juga gak tau gimana rasanya jadi lu, intinya kalo emang lu bisa. Jumat kita sharelock, kalo emang lu gak bisa datang. Yaudah, gak papa," papar Megi mengusap bahu Afifa lalu menyusul Kanaya.
"Hmm ... jangan sampai pertemanan kita sampe hancur, ya, Mega. Gue gak mau semua ini hancur hanya karena ketidakjelasan."
Afifa ditinggal oleh ketiga temannya tadi, ia menutup wajahnya menyembunyikan air mata yang mengalir.
Dirinya takut dan bingung dengan apa yang terjadi, di lain sisi takut jika sampai pertemanan mereka hancur dan di sisi lain tak mau sampai harus melawan orang tua.
Afifa mengambil handphone dan melihat kontak yang ada di aplikasi hijau miliknya, "Eh, kayaknya aku tau sesuatu, deh," gumam Afifa yang mendapatkan ide.
Afifa mengirim pesan untuk seseorang, rapalan doa-doa dia ucapkan agar orang tersebut mau membantu dirinya.
[Ok]
"Yee! Alhamdulillah!" pekik Afifa bangkit dari bangku dan meloncat kegirangan mendapatkan balasan yang diinginkannya itu.
Merasa dirinya diperhatikan, Afifa menghentikan aktivitasnya tadi dan cengengesan menutupi rasa malunya.
__ADS_1
Bahkan, kedua bodyguardnya juga melihat ke arahnya. Ia mengalihkan pandangan dan kembali duduk di bangkunya.
Tak lama, suara bel mulainya pelajaran berbunyi. Semua murid masuk ke dalam kelas masing-masing begitu juga dengan ketiga teman Mega tadi.
Mereka tak menyapa apalagi senyum ke arah Afifa, hanya melewati wanita itu saja. Afifa yang merasakan perubahan sikap mereka hanya tersenyum getir.
Guru menerangkan di papan tulis, suara bisik-bisik dari mulut Wendi juga Kanaya menarik perhatian Afifa.
Ia melirik ke arah mereka yang sedang tertawa entah sebab apa, dirinya pun ikut tersenyum meskipun tak tahu apa yang mereka tawa-in.
"Ehem! Kanaya, Wendi! Ke depan kalian berdua dan kerjakan tugas di depan, sekarang!" titah guru menatap dengan datar ke arah mereka berdua.
Afifa mengalihkan pandangan, karena takut jika ia akan disuruh juga sebab pandangannya ke arah mereka.
Mendengar nama mereka berdua disebut, Kanaya dan Wendi akhirnya maju ke depan dengan menggerutu.
Daripada tidak maju sama sekali malah akan buat tambah runyam keadaan, "G-gimana cara ngerjainnya, Buk?" gelagap Kanaya melihat angka-angka di papan tulis.
"Lah, terus, kalian tadi ketawa-ketawa bahas soal apa? Bahas soal yang ada di papan tulis, 'kan?" tanya guru dengan tegas.
"Hehe, bukan Buk."
Kanaya dan Wendi hanya menunduk dengan tangan tertaut di bawah, "Yaudah, kembali kalian ke bangku masing-masing!" perintah guru.
Mereka akhirnya berjalan kembali ke bangku masing-masing, Afifa mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri.
"Permisi Bu," salam seseorang dari luar.
"Iya, ada apa?"
"Kita di sini mau edukasi juga promosi kampus kita, Buk. Sebelumnya sudah izin pada kepala sekolah dan disetujui," jelas salah satu diantara mereka berempat.
"Oh, baiklah. Silahkan masuk!" titah guru yang sekarang mengajar memberi mereka kesempatan.
Suara sorakan kekaguman terdengar memenuhi ruangan, Afifa yang belum melihat ke arah para mahasiswa yang datang pun akhirnya melihat ke depan.
Di mana sudah ada empat orang yang berdiri di depan mereka semua, Afifa hanya melihat sekilas lalu melihat kembali ke arah teman kelas wanitanya.
"Aa ... ganteng banget!"
"Kak ... aku otw langsung daftar ke kampus Kakak deh."
__ADS_1
"Nah, Wendi! Kayak begitu cowok," ejek Kanaya yang juga ikut mumuja laki-laki di depan kelas semua.
Kembali pandangan Afifa melihat ke arah depan, matanya menyipit kala merasa kenal salah satu diantara laki-laki itu.
Pandangan mereka bertemu tapi Afifa lebih dulu memutuskan pandangan itu dengan mengalihkan ke arah lain.
"Sut! Kakak yang paling ganteng itu liatin lu mulu, lu kenal?" tanya Megi berbisik.
Digelengkan Afifa kepalanya dengan alis yang tertaut, mereka memulai persentasi tentang visi juga misi kampus di mana mereka menimba ilmu.
Ketiga laki-laki tadi masuk ke setiap lorong bangku untuk memberikan brosur dan entah memang disengaja atau tidak.
Leon. Ya, laki-laki itu berjalan ke lorong Afifa yang di belakangnya ada Kanaya dan seberang ada Wendi berada.
Langkah kaki berhenti di sampingnya, Afifa yang mengalihkan pandangan dari tadi akhirnya melihat ke arah samping.
"Istirahat nanti, temui gue di kantin!" jelas Leon meletakkan brosur dan beralih dari meja Afifa.
Ia menelan saliva dan melirik ke arah belakang di mana wajah datar laki-laki berkulit putih itu berada.
Sekitar 15 menit para mahasiswa ini menjelaskan dan berkenalan pada mereka semua, bel tanda istirahat pun berbunyi pertanda tugas mereka telah selesai.
Afifa memasukkan semua bukunya ke dalam tas, Wendi, Kanaya dan Megi sudah pergi duluan. Bukan berarti mereka tidak mengajak Afifa.
Tapi, Afifa akan bertemu dengan Leon nantinya di kantin. Afifa keluar dari kelas dan melihat ke kanan dan kiri.
"Lah, ke mana bodyguard-nya?" gumam Afifa keheranan.
Setan sebelah kanan, "Pasti ... mereka diusir oleh Leon untuk pergi agar kamu gak risih, tuh, dan Leon mau ketemu sama kamu di kantin untuk ungkapin perasaan."
Setan sebelah kiri, "Gak usah kegeeran, bisa jadi dia malah akan berbuat jahat, 'kan? Apalagi orang tuanya merasa ditipu oleh pertemuan waktu itu."
Afifa menggelengkan kepala dan segera bergegas ke kantin.
Ting!
Suara notifikasi dari handphone yang ada di saku membuat langkah Afifa berhenti, ia buka handphone untuk melihat pesan dari siapa barusan.
[Ke kantin, jangan lupa apalagi lari!] pesan dari Leon dengan tegas.
[Iya,] balas Afifa singkat memegang handphone dan berjalan kembali ke kantin.
__ADS_1