
Pelajaran telah selesai, buku yang dibawa Mega tak sengaja terjatuh membuat ia harus menyusun buku satu per satu.
"Kalian tau, gak, tentang Ning itu? Ck! Apa bagusnya, sih, dia? Sebelum dia nunjukin diri, kek banyak banget santri yang ngidolakan dia.
Pas sekarang, gue liat biasa aja kok orangnya. Tapi, tetap aja orang-orang pada tergila-gila sama dia. Aneh!
Seorang Ning dihukum, apa pantas itu jadi idola? Hahaha, apalagi sampai Ustadz Ridwan kayaknya suka juga deh sama dia.
Padahal jelas-jelas, cantikan aku juga dibanding dia itu. Apalah dia cuma anak seorang pemilik pondok pesantren, gue anak pemilik sekolah elit di Jakarta biasa aja tuh," cerca santriwati yang berkumpul di dekat koridor santriwati.
Mega tersenyum dengan menyeringai mendengar ghibah wanita itu, ia mengepal tangannya dan memunguti buku serta bangkit tegap.
Orang tersebut dan teman-temannya tak mengetahui bahwa Mega ada di belakang mereka.
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kalian akan merasa jijik. Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat : 12)."
Mega membaca arti ayat tersebut sambil melangkah mendekat ke arah mereka. Mereka yang mendengar seseorang berbicara di belakang mereka langsung membalikkan tubuh menatap ke arah Mega yang tersenyum.
Wajah kaget dan ketakutan terlihat di wajah mereka berempat, Mega yang merasa sudah lumayan dekat dengan mereka akhirnya berhenti sedangkan mereka berempat berdiri gelagapan.
"Imam Nawawi berkata: [Ketahuilah, bahwasanya ghibah adalah seburuk-buruknya hal yang buruk, dan ghibah merupakan keburukan yang paling tersebar pada manusia, sehingga tidak ada yang selamat dari ghibah ini kecuali hanya segelintir manusia.]" sambung Mega dengan memeluk bukunya dengan senyum yang tak sulit diartikan.
"Imam Syafi’i berkata pula, [Jagalah lisanmu wahai manusia Janganlah lisanmu sampai menyengat-mu, sesungguhnya dia seperti ular Betapa banyak penghuni kubur yang terbunuh oleh lisannya Padahal dulu orang-orang yang pemberani takut bertemu dengannya.]
Mega tersenyum dengan bibir yang terangkat sebelah, tangannya terulur merapikan baju yang tengah dipakai oleh santriwati itu.
"Jaga lisan, ya, jangan sampai suka ghibah. Kalau ada yang mau dibicarakan sama saya, boleh langsung bertemu dengan saya, kok. Oke?! Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh!" salam Mega berjalan pergi meninggalkan mereka semua.
Sedangkan ke-empat wanita tadi malah hanya menunduk saat mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut Mega.
"Kan, kamu, sih! Ketauan sama Ning jadinya!" gerutu salah satu temannya.
"Tau, tuh! Gimana kalau Ning ngadu ke Kyai? Berabe urusannya, nih!" timpal kembali dari mereka menyalahkan.
"Argkk ... kalian kenapa jadi pada salahin aku, sih? Aku juga gak tau kalau dia ada di belakang kita!
Kalian tenang aja, sebagai seorang Ning seharusnya dia gak mudah melaporkan pada Kyai.
__ADS_1
Aku yakin, dia gak akan melaporkan hal ini, kok. Lagian, cuma ghibah doang. Kita gak melakukan hal apa pun pada dia," bela wanita itu tak terima disalahkan.
"Cuma kamu bilang? Itu dosa kamu bilang cuma? Seolah dosa itu hal yang sepele, udah, deh. Kalau kamu masih gak suka apalagi dendam sama Ning. Kita gak mau ikutan.
Bisa-bisa kita nanti dimarahi sama orang tua kita, mereka juga masukin kita ke sini untuk belajar dan menjadi anak yang lebih baik bukannya malah ngejar laki-laki!" protes salah satu dari mereka dan memilih pergi.
"Bener, aku juga gak mau ikut-ikutan deh!"
"Sama!"
Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan wanita itu sendiri dengan kaget melihat perubahan sikap teman-temannya yang malah langsung menjauh padanya.
"Ha? Kalian tinggalin aku?!" pekik wanita itu tanpa dihiraukan teman-temannya, "liat aja Ning, aku akan buat pelajaran untuk Ning yang ganjen pada para laki-laki di sini terlebih lagi pada Ustadz Ridwan."
Wanita itu menatap lurus ke depan dengan wajah dipenuhi; dendam, ambisi yang salah juga iri pada Mega.
Mega berjalan melihat-lihat sekitar lapangan yang di lalui oleh para santri, dirinya berniat ingin pulang terlebih dahulu merebahkan tubuhnya yang sudah dirasa lelah.
"Assalamualaikum, maaf Ning," salam seseorang dari samping membuat langkah Mega terpaksa berhenti.
Dengan helaan napas dan wajah yang sudah sangat letih, "Waalaikumsalam, iya, ada apa?" tanya Mega menatap laki-kaki di hadapannya sekarang.
Bahu Mega semakin merosot dan rasa malasnya pun bertambah kala mendengar penuturan yang diberikannya.
"Baik, saya antar dulu ke rumah buku dan izin sama Umi, ya. Kamu duluan aja, nanti saya ke sana," titah Mega mengalihkan pandangan saat kepala laki-laki itu akan terangkat.
"Kalau begitu, saya permisi Ning. Jangan lama-lama, Ning. Agar pekerjaannya selesai sore ini."
"Iya," jawab Mega singkat dan pergi begitu saja meninggalkan santri tadi.
Umi sedang berada di halaman rumah, merapikan bunga-bunga yang ada dari daun kering.
"Dor!" teriak Mega memegang kedua bahu Umi membuat wanita itu ber-istigfar juga kaget akibat ulah Mega.
"Kamu, ini, ya. Kalo tadi Umi kenapa-kenapa, gimana?" tanya Umi dengan tegas sembari berdiri.
"Hehe, maaf Umi," kata Mega cengengesan.
__ADS_1
Umi menggelengkan kepala dan menatap ke arah Mega, "Sekarang di suruh apa sama Ustadz Ridwan?"
"Disuruh cabut rumput Umi, Afifa ke sana dulu, ya," ujar Mega memberi tahu.
"Yaudah, letakkan buku kamu dan segera ke belakang pondok, ya."
Mega mengangguk meskipun rasa malas sudah menahan tubuhnya untuk tak pergi ke sana, tapi apa yang bisa dia buat?
Tak ada alasan untuk menolak apa yang sudah diperintahkan oleh Ustadz Ridwan pada Mega. Ia hanya bisa pasrah saja dengan apa yang terjadi.
Sesampainya di belakang pondok, ada 3 santriwati di situ juga Ustadzah yang mengawasi dari jauh.
Mega berdiri dan melihat ke arah para laki-laki yang sedang membuat sesuatu, ia tertarik dengan apa yang tengah dilakukan mereka.
"Eh, mau ke mana?" tanya suara bariton menghentikan langkah Mega yang ingin melihat ke sana.
"Eh, Ustadz hehe. Gak mau ke mana-mana, kok," jawab Mega cengengesan.
"Kamu cabut rumput yang ada di sini aja Ning, di situ bagian laki-laki nanti. Mereka sedang memperbaiki dulu," tutur Ustadz Ridwan menjelaskan tugas Mega dan diangguki olehnya.
Ustadz Ridwan berlalu dengan membawa alat-alat sedangkan Mega jongkok bersama ke-tiga santriwati tadi.
"Kalian di hukum karena apa?" tanya Mega menatap wajah santriwati yang asing baginya.
"Lupa ngerjain tugas Ning dan lupa Dhuha juga."
"Ya, ampun kalian. Tapi, lumayan, ya. Daripada di suruh berdiri di lapangan karena lupa salat Dhuha."
"Biasanya itu hukuman karena lalai melakukan salat wajib, sih Ning."
"Kok kalian tau? Pernah ngerasain?" tanya Mega kaget.
"Enggakalah Ning, kalau soal begitu sudah diberi tahu apa hukuman yang akan diberi."
Mega hanya manggut-manggut sambil menatap ke arah para laki-laki tadi, "Yah ... gak bisa!"
"Gimana ini Ustadz?"
__ADS_1
"Udah capek-capek."
Keluhan keluar dari mulut mereka saat sesuatu yang tengah mereka buat ternyata tak sesuai dengan kemauan.