
"Umi, soal perjodohan yang Umi sarankan waktu itu. Hafidz menolaknya, Hafidz tidak bisa menikah dengan Ning Afifa."
"Ha? Kenapa?"
"Hafidz tidak cinta dengan dia Umi."
"Hafidz, cinta bisa datang dengan seiring waktu," ucap Umi memandang Hafidz.
Hafidz menatap ke arah Mega meminta bantuannya, Mega bingung harus berbuat apa.
'Lagian, kalau pun Afifa suka sama nih cowok, ya. Dia gak akan bahagia, soalnya nih cowok juga gak akan cinta sama dia,' batin Mega dengan mengangguk.
"Maaf, Nyai. Saya juga tidak menyukai Akhy Hafidz, saya masih ingin fokus pada pendidikan saya Nyai.
Masih harus belajar agar menjadi madrasah terbaik untuk anak-anak saya kelak. Menurut saya. Kami berhak memilih.
Memilih untuk hidup dengan siapa nantinya, bukan berarti saya menentang. Namun, jika nantinya kami memang berjodoh pasti akan dipertemukan juga," terang Mega membuat semua mata menuju dirinya.
Ia menampilkan senyuman, ada raut kekecewaan yang terlihat pada wajah mereka kecuali Mega dan Hafidz.
Sekitar pukul lima sore, Hafidz dan keluarganya akhirnya pamit untuk pulang. Abah dan Umi mengantarkan hingga gerbang sedangkan Mega disuruh untuk tetap di rumah saja.
Dirinya masuk ke kamar dan mengambil buku diary yang pernah ditemukannya di dalam meja belajar Afifa.
[Dear; Umi dan Abah.
Hari ini, keluarga Hafidz datang ke rumah entah tujuannya apa. Afifa tidak tahu wajah Hafidz itu bagaimana.
Namun, mendengar pembicaraan Abah, Umi juga keluarga mereka yang berniat untuk menjodohkan kami.
Itu membuat Afifa sakit hati Abah, Afifa masih kelas 10 hal seperti ini membuat Afifa tak semangat untuk belajar.
Sayangnya, Afifa tak bisa untuk mengungkapkan perasaan ini. Bahwa Afifa keberatan dengan apa yang kalian rencanakan.
Afifa hanya seorang anak yang pemendam dan mengikuti apa yang orang tuanya inginkan. Afifa ingin seperti anak-anak lainya.
Bisa melakukan apa yang mereka inginkan, pergi ke tempat impian dan melakukan sesuatunya serta menggeluti hobby-nya.
Akan tetapi, itu hanya mimpi belaka sepertinya. Afifa tak mampu melakukan apa pun yang Afifa mau. Hehehe.]
__ADS_1
Mega terdiam membaca salah satu buku yang ditulis Afifa, catatan itu menjadi curahan hatinya pertama kali.
Artinya, ia merasakan awal kehancurannya saat mendengar kabar tersebut. Atau ... ada lagi? Entahlah, Afifa terlalu membingungkan.
"Assalamualaikum," salam Abah dan Umi serempak masuk ke dalam rumah.
Mega langsung buru-buru memasukkan buku kembali ke dalam laci belajar miliknya dan keluar menemui Abah juga Umi.
"Duduk!" titah Umi dengan wajah datar.
"Baik Umi," jawab Mega dengan mengangguk.
"Apa-apaan kamu menolak perjodohan ini?"
"Karena Afifa memang tidak mau dijodohkan dengan Hafidz Umi."
"Kenapa? Dia laki-laki yang baik!"
"Kita tidak berhak menilai orang itu baik atau tidaknya Umi, di depan manusia siapa yang tidak bisa berlagak baik? Namun, di depan Allah-lah semua itu terlihat dengan nyata. Baik atau tidaknya seseorang."
"Kenapa kamu sekarang seperti ini? Kenapa kamu jadi anak yang pembangkang?!"
"Sebab, apa yang Afifa mau selama ini tak pernah Umi dan Abah turuti. Umi dan Abah juga tak pernah tau mau Afifa itu apa.
Bahkan, Afifa sampai tidak diberi tahu bahwa dua hari lagi akan ikut sesi tanya jawab. Tidak ada yang bertanya apakah Afifa mau atau tidak.
Sedangkan santri juga santriwati yang ikut adalah dia yang memang mau, apakah Afifa ada ditanya hal itu? Enggak Umi.
Afifa selalu pendam apa yang Afifa rasakan, hingga Afifa mengurung diri pun tak ada yang sepenuhnya peduli sama Afifa.
Dihukum dengan kesalahan yang tak Afifa ketahui, Afifa kira itu sudah akhir dari penderitaan.
Ternyata, Afifa salah. Afifa baca, bahwa dunia seorang Ning di novel-novel itu menyenangkan. Bagaimana kalau mereka tahu aslinya, ya, Umi?
Apakah mereka akan menangis, kecewa atau malah tertawa? Karena jujur, itu yang Afifa rasakan saat ini.
Afifa tau, kok, kalau menentang keinginan orang tua itu dosa. Mau dia seorang Nyai, konglemerat atau lainnya sama saja.
Namun, kali ini Afifa tidak bisa Umi, Abah. Maaf ... Afifa tidak bisa membuat orang lain menjadi korban atas apa yang telah kita perbuat.
__ADS_1
Afifa tak mau menjadi wanita yang merebut kebahagiaan wanita lain demi kebahagiaan Afifa," papar Mega panjang dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Abah hanya menatap lantai sedangkan Umi melihat ke arah Afifa.
"Kalau seandainya kamu tau bahwa kedua orang tua kamu memiliki hutang, apakah kamu akan diam saja Nak?" tanya Umi membuat Mega yang menunduk sambil menghapus air mata seketika menatap ke arah Umi.
"Abah dan Umi punya hutang dengan mereka? Berapa juta?"
"Hutang bukan semata-mata soal uang saja Afifa. Tapi, juga soal pengorbanan diri."
"Kalau begitu, biarkan Afifa nanti yang akan mengorbankan diri bukan hati pada mereka. Tunggu hingga Afifa selesai kuliah.
Afifa ingin kuliah Abah, Umi. Afifa ingin mewujudkan apa yang Afifa inginkan. Afifa mau berdakwah lebih luas lagi bukan hanya di sekitar sini saja.
Biarkan orang-orang mengenal Afifa melalui dakwah serta bahasa yang sopan yang Afifa miliki dan pelajari di pondok ini."
Umi memalingkan wajahnya, Mega turun dari bangku dan berlutut di depan Umi.
"Umi ... Afifa mohon, Umi. Afifa tau bahwa Umi melakukan ini untuk Afifa, makasih banyak. Namun, Afifa juga punya keinginan yang ingin Afifa lakukan.
Afifa butuh dukungan, restu serta doa dari Umi juga Abah. Cukup hanya itu, maka Afifa yakin Allah akan memudahkan apa yang ingin Afifa gapai," bujuk Mega memegang lutut Umi dengan air mata yang terus menetes.
Mega sempat membaca diary Afifa yang mana wanita itu menuliskan ingin bisa keluar dari pondok dan kuliah di luar.
Kota atau negara mana saja ia mau, asalkan keluar dari pondok ini. Belakangan ini Mega baru tahu kenapa dulu Afifa hanya dirumah saja atau bahkan hanya di kamar.
Umi melihat Afifa aktif bermain dengan santriwati di pondok hingga hafalan serta tugasnya terbengkalai.
Bahkan, kado-kado dari santri juga selalu didapatkan Afifa. Afifa dulu adalah anak yang periang.
Hingga diwaktu masuk ke Madrasah, perjodohan mulai dilakukan. Dirinya harus belajar ekstra sekalian bab pranikah.
Bukan hanya itu, Umi menyuruh teman Afifa untuk pindah ke pondok lain. Pondok yang mana di kelola oleh Adiknya Umi.
Sehingga, Afifa merasa di khianati oleh mereka. Afifa ditinggalkan begitu saja dengan mereka, ia bingung dan merasa kesepian.
Sampai pada titik, dirinya tak ingin mengenal atau bahkan dekat dengan orang lain lagi. Ia tak mau bertemu dengan siapapun serta berinteraksi pada siapapun.
Karena, dia merasa bahwa setiap yang hadir pada akhirnya akan pergi kembali. Lantas, buat apa hal itu dilakukan secara berulang-ulang?
__ADS_1
Hanya akan membuat lelah serta sakit hati saja. Ditinggalkan oleh orang yang kita anggap seperti keluarga sendiri adalah hal yang menyakitkan menurutnya.