Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Dapat Hidayah Dari Mana?


__ADS_3

Sementara itu di lain sisi, ada seorang yang dari tadi merapalkan ayat-ayat serta meyakinkan diri bahwa ia bisa.


"Non, ini udah 10 menit Non di dalam mobil, lho. Nanti pagarnya di tutup satpam tuh," peringat sopir melirik ke arah jam.


Sudah lewat 10 menit yang lalu mereka sampai di depan gedung sekolah Afifa, SMK Negri 6 Jakarta.


"Baik, Pak. Makasih, ya," ucap Afifa merapikan ransel dan turun dari mobil.


Ia menatap gedung sekolah dan menghela napas, masuk ke dalam sekolah yang sudah ada satpam menunggunya.


"Kelas saya di mana, ya?" gumam Afifa planga-plongo melihat ke berbagai arah.


Dirinya juga tak melihat ketiga temannya dari tadi, berjalan ke sambil melihat pamplet di setiap kelas yang menunjukkan itu kelas berapa.


"Woy, Mega!" teriak seseorang dari belakang membuat Afifa tersenyum.


Benar saja, itu adalah temannya yang baru saja sampai, "Kalian dari mana saja, sih? Saya nunggu dari tadi, lho," ucap Afifa dengan memajukan bibirnya.


"Hehe, maaf. Kita beli dasi dulu, nih!" tunjuk Kanaya pada dasinya yang sudah terpasang di leher.


Sedangkan Afifa, tadi dia terpaksa minta bantuan oleh Bibi agar dipasangkan dasi. Ia sudah mencoba melihat tutorial dari internet.


Tapi, sama saja dirinya tak bisa mengikuti, "Widih, tumben banget sapatu lu full hitam. Ntar, bingung dah kepala sekolah mau nyita sepatu siapa," cibir Wendi membuat mereka menatap ke arah sepatu Afifa begitu pun dengan dia.


"Yaudah, kita ke kelas dulu, yuk! Bentar lagi mau waktunya upacara, nih!" terang Megi mengingatkan.


Mereka mengangguk dan berjalan ke arah kelas, saat meletakkan tas suara bel pertanda akan dimulai upacara pun berbunyi.


Orang yang ada di kelas berhambur ke lapangan dan langsung membuat bentuk barisan masing-masing per kelasnya.


"Lu bawa laptopnya, 'kan?" tanya Kanaya yang berjalan di samping Afifa.


"Bawa, kok."


"Bagus kalau gitu."

__ADS_1


Mereka masuk ke barisan kelas sendiri dibagian paling belakang, tak sengaja mata Afifa melihat ke arah laki-laki yang tersenyum ke arahnya.


Ia langsung clingak-clinguk melihat senyuman laki-laki itu untuk siapa, merasa risih Afifa bertanya pada Kanaya yang berada di barisan sampingnya.


"Kanaya, itu siapa?" tanya Afifa berbisik.


"Mana?" Afifa mengarahkan kepala Kanaya ke arah laki-laki yang tak diketahuinya itu.


"Lah, itu, 'kan fans lu," cibir Kanaya mengalihkan pandangan menatap ke arah Afifa, "dia ketua osis, woy! Masa lu lupa? Dia penggemar lu garis keras!" Kenaya tertawa dan menggelengkan kepala menatap kembali lurus ke depan.


"Astagfirullah, ada-ada aja. Masa, kayak gitu penggemar. Lagian, ngapain yang digemari manusia akhir zaman kayak aku?


Kenapa bukannya baginda serta yang terdahulu aja? Padahal banyak tuh yang harus di gemari orang terdahulu," gumam Afifa tak habis pikir.


Dirinya memilih untuk fokus ke arah depan dengan menyipitkan mata akibat panasnya cuaca pagi ini.


Acara dimulai, Afifa melihat step by step pelaksanaan upacara hari ini. Beberapa guru ada yang mengelilingi barisan per kelas.


Entah untuk apa tujuannya, 'Mungkin, ada rajia massal kali, ya?' batin Afifa melihat ke arah guru yang hampir dekat ke barisannya menggunakan ekor matanya sedangkan wajah tetap menghadap ke depan.


Afifa langsung menoleh, "Iya, Buk?" tanya Afifa saat mendapati guru yang tadi sudah berada di belakangnya.


"Tumben banget kamu sepatunya hitam, baru kebeli yang hitam sekarang?" tanya guru dengan sedikit ketus padanya.


Afifa hanya bisa cengengesan dan menggaruk kepala yang tak gatal, ia sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh guru ini.


Tak mungkin jika ia harus bertanya, bisa-bisa gurunya nanti merasa ada yang aneh dan tak biasa dari diri Mega.


Padahal, emang benar ada yang aneh. Orang jiwanya saja sudah tak sama, tentu saja aneh.


"Pakai anak kerudung, kerudungnya nutupi dada, dasi, topi, sepatu hitam. Dapat hidayah dari mana kamu?" tanya guru yang masih berada di belakang Afifa lagi.


Sedangkan Afifa sudah kembali fokus menghadap ke depan, ia tak tahu harus menjawab apa.


Suara sepatu melangkah menjauh dari Afifa, ia melirik ke arah belakangnya dan benar saja sudah tak ada lagi guru tadi di belakang.

__ADS_1


Suara riuh mengalihkan pandangan semua orang di salah satu barisan, bahkan Afifa juga menatap ke arah situ.


Seseorang berlari ke arah barisan yang riuh tadi, "Heleh, palingan itu juga anak kepala sekolah yang ada di belakang kamu tadi. Tiap upacara pasti pingsan mulu, masa anak kepala sekolah makanannya kagak bergizi, sih? Atau ... masa anak kepala sekolah gak pernah sarapan pas mau upacara, sih?" papar Kanaya berbisik pada Afifa.


Osis tadi yang melihat Afifa pun keluar dari barisan tadi dengan membawa murid yang pingsan. Ia sempat melirik ke arah Afifa sebentar tapi dengan cepat Afifa mengalihkan pandangan.


"Kenapa dia tiap upacara pingsan? Apa punya penyakit?" tanya Afifa yang mulai kepo.


"Aelah, kayak kagak tau aja lu. Mau caper ke osis-lah, dia 'kan demen banget sama tuh cowok. Bukan cuma dia aja, sih, tapi hampir semua cewek di sekolah ini.


Tapi, mata tuh cowok emang rada bermasalah. Masa yang dia kejar cewek kaya lu gini, Mega! Aneh emang tuh orang," ujar Kanaya dengan wajah kesalnya.


Afifa membalikan badan menatap osis tadi yang masih menggendong anak kepala sekolah ke UKS dengan kepala sekolah yang ikut berjalan di belakang mereka.


Mungkin, kepala sekolah khawatir bahwa anaknya kenapa-kenapa. Padahal, hal tersebut setiap saat terjadi kata Kanaya. Lantas, buat apa khawatir, eh!


"Seluruh peserta upacara, istirahat di tempat ... grak!" titah pembina upacara pagi ini saat pemimpin upacara akan menyampaikan nasihat-nya.


Afifa menyapu peluhnya sebelum berposisi istrahat di tempat, "Lama dah ini, sampe lima jam baru kelar," gerutu Kanaya membuat Afifa menahan tawanya.


"Kamu cantik," ucap seseorang berbisik di dekat telinga Afifa membuat bulu kuduknya berdiri. Ia melihat ke arah kiri sudah ada osis yang tersenyum ke arahnya.


"Astaghfirullah," kata Afifa saat mendapati jaraknya begitu dekat. Afifa langsung pindah tempat ke belakang Kanaya dengan posisi tangan yang masih di punggung.


Kanaya yang mendapati bahwa Afifa pindah langsung melihat ke arah barisannya tadi dengan wajah marah.


"Lu ngapain ke situ? Itu barisan Mega!" tegur Kanaya.


"Udah, Kanaya. Gak papa, saya di sini aja," ucap Afifa yang tak ingin ada keributan.


"Saya gak ngapain-ngapain, orang Mega yang mau pindah."


"Dia gak mungkin pindah kalo dia ngerasa gak nyaman, lu ketua osis seharusnya otak lu gak secetek itu dalam berpikir!"


"Udah, Kanaya. Gak papa, kok," ungkap Afifa mencoba menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2