
"Papa, Mega tau bahwa Papa dan Mama udah gak ada lagi hubungan apa-apa. Tapi, sebagai seorang laki-laki dewasa seharunsya Papa dan Mama juga bisa sama-sama dewasa dalam menyikapi takdir.
Jika memang tak diberi izin sama takdir untuk bersama dalam jangka waktu yang lama. Maka, setidaknya jangan saling bermusuhan apalagi membenci.
Bukanya dulu kalian saling sayang? Setidaknya sekarang jangan menjadi orang yang saling membenci satu sama lain.
Mega udah dewasa, bukan anak kecil lagi yang harus kalian atur-atur. Mega udah tau mana yang benar juga salah.
Fokus pada kebahagian masing-masing dan jangan saling membenci, Papa juga haru tau bahwa anak Papa bukan hanya Mega.
Ada satu lagi, wanita yang juga membutuhkan perhatian dan sayang Papa. Mega gak mau jadi anak yang membuat seseorang tidak bisa merasakan bagaimana cinta Papa.
Jika dia memang menolak untuk diberi, maka perlahan ambil hatinya Pa. Anak mana yang tak ingin mendapatkan cinta seorang Papa?
Dia hanya tidak tau bagaimana cara menerimanya. Mega mohon, jika nanti suatu saat ada lagi pertemuan di mana Papa mengajak Mega.
Maka, harus ada Kakak Mega juga. Jika dia tidak mau ikut sama kita, maka Mega juga gak akan mau ikut.
Mama ... Mega tau kalau Mama itu hanya Mama tiri Mega. Mama menjaga Papa sangat baik, ya. Percaya Ma, gak pernah ada di dalam hati Mega ingin di prioritaskan oleh Papa.
Mega mau kita semua bahagia dengan takdir Allah yang telah terjadi pada kita semua, tidak saling membenci apalagi dendam."
Afifa menelpon Papanya ketika telah selesai makan malam dengan Mama, Mama juga sedang keluar sebab katanya ada urusan.
Sengaja Afifa pinta agar suara handphone dibesarkan juga ada Mama tirinya di situ agar Mama tirinya bisa dengar apa yang akan disampaikan olehnya.
Agar tak ada lagi permusuhan apalagi iri satu dengan yang lainnya, hal tak pernah dibayangkannya akan terjadi.
"Sayang, kamu baik-baik aja, 'kan?" tanya Papa heran melihat sikap Afifa.
"Sangat Pa, Mega sangat baik-baik aja. Mega udah gede Pa, bukan anak kecil lagi. Jadi, gak ada salahnya, 'kan kalau Mega ungkapkan apa yang Mega rasakan?
Kakak juga mungkin ingin mengungkapkan apa yang dia rasakan, cuma sifat dan sikap Papa membuat dia mengurungkan niatnya itu."
__ADS_1
"Sayang, maafkan Mama jika pernah berbuat salah sama kamu. Maafkan perlakuan buruk Mama selama ini dan makasih sudah mau menerima Mama.
Mama selama ini selalu menganggap bahwa kamu yang membuat suami Mama jadi tak suka dengan anak Mama sendiri.
Ternyata, Mama baru sadar bahwa Papa selama ini sangat menyayangi anak Mama tapi dia yang memang menolak itu.
Sebab merasa dikasihani atau dicintai dengan berbeda sama kamu atau bisa jadi dicintai dengan sama membuat dia enggan menerima cinta Papa padanya."
"Sama-sama Ma, udah dulu, ya. Intinya adalah, Papa gak boleh hanya mencintai satu belah pihak anak saja meskipun dia bukan anak kandung Papa.
Ketika Papa menikahi Mama artinya Papa harus sudah siap untuk mencintai juga menyayangi Kakak.
Mega tutup dulu, ya. Mau tidur soalnya, besok sekolah. Assalamualaikum," salam Afifa menutup telepon.
Klik.
Papa dan Mama tiri Afifa yang sedang menelpon di ruang tamu tak mengetahui bahwa ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka.
Ia membekap mulutnya agar tak terdengar suara isakan, memilih masuk kembali ke kamar dan menyesali semua kesalahan serta kejahatan yang pernah diperbuat.
Lu yang ambil Papa dia sampai Papa dan Mamanya akhirnya berpisah gara-gara Ibu lu! Seharusnya ngaca dan sadar diri! Bukan malah menyalahkan dia!" makinya memukul kepalanya sendiri dengan air mata yang sudah membasahi wajah.
"Mega, maafkan Kakak, ya. Kakak memang bukan Kakak yang terbaik buat kamu," sambungnya menatap lurus ke depan seolah ada Afifa di depannya sekarang.
Di lain sisi ada seseorang yang sedang dibuat bingung dengan dirinya sendiri, punggungnya bersandar pada kepala ranjang.
"Telepon, enggak? Telepon, enggak? Telepon, enggak? Arkkk ... Leon! Lu kenapa jadi gak jelas kayak gini, sih?" rutuknya pada diri sendiri dengan menjambak rambut.
"Udah, deh, telepon aja!" sambung Leon dan memberanikan diri segera menelpon wanita yang membuat pikirannya menjadi tidak tenang.
"Halo, iya, Kak Leon? Ada apa?" tanya seseorang di sebrang saat panggilan telah tersambung.
"Eh, iya, halo Mega. Lu lagi apa?" gagap Leon.
__ADS_1
"Haha, lagi mau salat Kak. Udah dulu, ya. Udah adzan soalnya. Assalamu'alaikum," salam Afifa meletakkan handphone di nakas dan berjalan ke kamar mandi sambil menggelengkan kepalanya.
"Astaga Leon bego! Lu gak liat-liat jam, ya? Jangan tunjukin betapa jauhnya diri lu dari Tuhan! Malu dah gue malu!" geram Leon menutup wajahnya menggunakan bantal.
Tok! tok! tok!
"Leon? Mama boleh masuk?" tanya Mama yang berada di depan pintu kamar Leon.
Ia langsung membuka bantal yang menutupi wajahnya, "Iya, Ma. Masuk aja!" titah Leon merapikan kembali kasur.
Mama masuk dengan tersenyum dan membiarkan pintu terbuka, berjalan mendekat ke arah putranya.
"Gak belajar?" tanya Mama menatap meja belajar yang terus saja rapi bahkan terkadang sampai berdebu.
"Mmm ... nanti Ma."
"Sayang, kamu itu bukan anak remaja lagi. Kamu udah dewasa dan nanti akan memilih hidupmu sendiri dan Mama harap bukan sebagai beban serta pengangguran pilihan hidup kamu."
"Nanti Leon akan belajar, kok, Ma."
"Iya, Sayang. Itu setiap saat kamu ucapkan ketika Mama suruh kamu belajar, dari semester satu hingga sekarang."
Mama menepuk bahu Leon dan tersenyum, "Dia, tak akan mau dengan seseorang yang jangankan salatnya dijaga, sekolahnya dan kewajibannya sebagai seorang anak saja gak dijaga.
Wanita baik hanya untuk laki-laki baik. Kamu, udah gak baik malah gak rajin belajar dan salat pula.
Makin gak akan mau dia sama kamu dan mimpi kamu jadikan dia sebagai belahan jiwa kamu itu lebih baik kamu kubur baik-baik," ucap Mama bangkit dan meninggalkan Leon kembali.
"Ha? Dia siapa, sih? Mama sok tau banget, dah!" kata Leon menautkan alisnya menatap Mama yang sedang menutup pintu kamarnya.
Setelah Mama benar-benar pergi, Leon terdiam dan menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong.
Mencoba untuk memahami apa yang dikatakan oleh Mama tadi, bahwa memang benar nasihat darinya.
__ADS_1
'Wanita baik-baik hanya untuk laki-laki pulak.'
Seketika kalimat Mama memenuhi pikiran Leon, ia mengambil handphone dan melihat jam. Bergegas bangkit untuk masuk ke dalam kamar mandi mengambil air wudu.