Menjadi Seorang Ning

Menjadi Seorang Ning
Memperkeruh Segalanya


__ADS_3

Sesampainya di kantin, Afifa mencari keberadaan Leon. Ie mengedarkan pandangan dan mendapati laki-laki itu di bangku paling belakang.


Mengayunkan langkah dan berhenti di sampingnya, Leon melihat ke arah samping dengan mendongak.


"Duduk!" titah Leon diangguki oleh Afifa.


Dirinya duduk di depan Leon, jarak yang begitu dekat hanya tersekat meja bulat di tengah mereka.


"Ada apa, Kak?" tanya Afifa tanpa basa-basi.


"Tunggu kali, minum atau makan dulu," potong Leon menatap ke arah jualan di kantin dengan mengangkat tangannya.


"Ini bukan restoran Kak, gak ada sistem layani datang ke sini. Kalau mau, kita yang ke depan mesen dan tunggu makanannya," celetuk Afifa membuat Leon menatap ke arah dirinya kembali.


"Oh, begitu? Mangkanya, lu pindah ke sekolah yang lebih high school. Di kampus gue udah ada pelayannya, kok. Gak perlu capek-capek bangkit kayak gini," gerutu Leon bangkit dari bangku.


Ia berjalan ke depan untuk memesan makanan sedangkan Afifa hanya menggelengkan kepala menatap punggung laki-laki yang semakin menjauh.


[Mega, lu di mana?]


[Udah kagak ada bodyguard lu, tuh!]


[Lu pulang, ya?]


Kanaya, Megi dan Wendi ternyata tetap mencari Afifa meskipun mereka marah atau bahkan ngambek dengan dirinya.


[Aku lagi ada di kantin, teman-teman. Sama Kak Leon di sini] ungkap Afifa membalas pesan di grup.


[Ha? Leon?]


[Iya, salah satu mahasiswa yang datang tadi.]


[Yang mau dijodohkan sama lu?]


[Iya]


[Asyik! Liat ah, yang mana tuh Kak Leon]


[Kita langsung otw ke sana!]


[Tungguin kita!]


Afifa langsung panik melihat mereka yang malah ingin datang ke sini, 'Aduh, gimana kalau mereka malah ngacaukan semuanya? Kalo Kak Leon marah gimana nanti?' batin Afifa merutuki dirinya sendiri dengan memukul kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa? Kekerasan kepala lu, ya?" celetuk suara bariton milik Leon membuat Afifa langsung mendongak dan menghentikan aktifitasnya tadi.


"Eh, e-enggak, Kak."


Leon meletakkan makanan di meja dan duduk kembali, "Gue gak tau lu sukanya apa, makan aja apa yang gue pesan dan habiskan?" tegasnya menekan setiap kalimat.


Afifa hanya mengangguk dan mengambil mie ayam bagian dirinya, "Kak, kok banyak banget, sih? Ini udah mie ayam pakai bakso pulak," protes Afifa merasa tak akan sanggup menghabiskan.


"Gue gak terima protes, makan aja!" terang Leon sedangkan Afifa hanya mencebik bibirnya.


Mereka akhirnya mulai makan mie ayam yang dipesan Leon, mau tak mau Afifa harus memakannya bagaimana pun tidak boleh mubazir.


"Jadi, lu sekarang tinggal sama Mama kandung lu?" tanya Leon di sela-sela mengunyah mie-nya.


"Iya, Kak. Karena hal itu, jadi mau gak mau aku harus ikut sama Mama. Oh, iya, kenapa bodyguard aku gak ada di depan kelas tadi Kak? Ke mana?"


"Mereka gue suruh pergi."


"Ha? Kok bisa?" tanya Afifa dengan nada kuat membuat bebera orang di dalam kantin menatap ke arah mereka.


Afifa hanya cengengesan menatap ke arah mereka sebab merasa tak enak, dirinya juga melihat bahwa sudah ada ketiga temannya di dekat meja mereka yang sedang menguping.


Leon meletakkan sumpitnya dan menumpuk kedua tangannya menatap lekat ke arah Afifa, "Pahami baik-baik apa yang gue katakan, gue gak akan mengulang ini kembali. Jadi, kalo lu gak paham, yaudah. Salahkan otak lu yang kesulitan paham itu.


Jadi, ketika lu minta gue agar izinkan hari Jumat untuk pergi. Mama lu ngasih izin dengan syarat gue ikut sama lu dan jagain lu.


Karena ... gue minta agar bodyguard lu gak perlu ikut ke mana pun kita pergi nanti. Jadi, tadi gue minta sama bodyguard lu untuk pergi.


Sebab, lu nanti pulangnya sama gue. Gue yang akan jaga dan bawa lu pulang."


"Lah, Kakak 'kan harus kuliah. Kenapa malah jadi jagain aku?"


"Kelas gue gak ada hari ini, itu sebabnya dosen nyuruh gue dan geng gue untuk datang ke sekolah kalian ini."


"Terus, sekarang temen Kakak mana?" tanya Afifa melihat ke sekeliling kantin. Bisa jadi, ia tak memperhatikan bahwa ada teman Leon di sini.


"Mereka udah pergi, sibuk sama pacar mereka masing-masing," ucap Leon dan kembali memakan mie-nya.


"Terus, Kakak kenapa gak sibuk sama pacar Kakak?" tanya Afifa polos.


"Uhuk!" Leon terbatuk mendengar ucapan Afifa barusan, dengan cepat Afifa membantu Leon untuk minum.


"Jangan pernah tanya soal hubungan gue, itu privasi!" tegasnya.

__ADS_1


"Biasa aja kali Kak," ucap Afifa kembali makan.


"Terus, lu mau ke mall sama siapa? Mana sahabat lu itu?" tanya Leon menatap ke arah Afifa.


Afifa menunjuk ke arah meja di mana ada teman-temannya, Leon mengikuti arah tangan Afifa menunjuk.


Mereka membulatkan mata saat netra Leon melihat ke arah mereka, Kanaya dengan malu dan ragu melambaikan tangan ke arahnya.


Leon mengalihkan pandangan kembali ke arah Afifa yang sekarang tengah tersenyum menatap temannya.


"Seru sekolah di sini?"


Anggukkan diberikan Afifa, "Sekolah di mana aja kayaknya akan seru kalau sama mereka bertiga."


"Tapi, kata Tante bahwa mereka buat lu sampe pingsan. Gimana bisa?"


"Oh, itu ... mmm anu, kayaknya aku aja yang kurang minum vitamin Kak. Sampe kekebalan tubuhnya kurang, capek dikit langsung pingsan gitu," tutur Afifa berbohong.


"Gue kira, mereka yang jahatin lu."


"Eh, enggak kok Kak. Mereka itu bahkan orang yang sangat baik sama aku."


Leon mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.


"Makasih, ya, Kak."


"Untuk?" tanya Leon yang sekarang mereka tengah berada di koridor sekolah menuju kelas Afifa.


"Untuk semuanya, Kakak udah traktir aku makan tadi. Udah mau izin sama Mama agar aku bisa main sama temen dan udah ngusir bodyguard aku."


"Lagian, gue heran sama lu. Bukannya dulu lu itu begajulan banget? Bahkan, gue sampe kalah sama sikap bebas lu itu.


Sekarang, dikasih bodyguard lu diam-diam aja. Mau aja gitu terima keputusan Mama lu bahkan sampai lu tinggal sama dia.


Kalo enggak, pas makan siang waktu itu aja dah ribut pasti seperti sebelum-sebelumnya. Lu, 'kan emang selalu jadi biang masalah dulu."


"Ya ... semua orang, 'kan bisa aja berubah Kak. Gak selamanya sikap dan sifat seseorang itu akan terus sama."


"Tapi, seseorang berubah pasti karena ada sebabnya. Lu apa sebabnya?"


"Karena aku tau, bahwa emosi dan tindakan yang berlebihan itu gak akan bisa menyelesaikan masalah. Yang ada, hanya semakin memperkeruh segalanya."


Leon menatap wajah Afifa yang sedang tersenyum dari samping, ia mengangguk dengan apa yang dikatakan oleh Afifa barusan.

__ADS_1


__ADS_2