
“na “ fathan memanggil ku.
aku mencoba mengabaikan nya, aku tidak mau terlalu egois memaksakan perasaan ku pada nya biar aku lupakan dengan cara menjauh dari nya.
“eh ca, kita ada tugas apa hari ini?”. Aku berbicara dengan aca agar bisa menghindari nya.
“ga ada kok”.
“ooo... gitu ya”. Ku lirik kearah nya sekali lagi. Ku lihat ia telah berbalik arah pergi dari ku.
“ngapain sih na?. Kalo beneran sayang tuh ga gitu cara nya”.
“dia ga sayang aku ca. Aku mau membiasakan hati ku untuk jauh dari nya “.
“yaudah gapapa kamu tenang in diri aja dulu nanti di coba lagi. Ingat, usaha ga akan mengkhianati hasil”.
Sial, harapan itu datang lagi setelah mendengar perkataan aca padahal semalam sudah ku buang jauh jauh harapan ku pada nya.
__ADS_1
“kalo boleh jujur sebenar nya aku sesuka itu sama dia tapi posisi nya terlalu jauh untuk ku gapai".
“sini peluk”. Aca merentang kan tangan nya dengan cepat ku raih pelukan nya.
aku lemah saat ini, aku butuh bahu untuk bersandar.
“sekarang lupain sejenak masalah lelaki, Kita juga bisa bahagia tanpa mereka”. Aku mengangguk menyetujui pernyataan aca.
...****************...
berhari hari sudah aku mengabaikan fathan tapi dia masih berusaha mendekati ku, tak jarang dia menarik tangan ku agar aku melirik ke arah nya. sebenar nya aku tidak bisa begini aku ingin jauh dari nya namun aku mencintai nya, ingin aku membenci nya namun aku tak bisa berhenti peduli pada nya, ingin aku melupakan nya namun hanya dia satu satu nya orang yang bisa membuat aku lebih baik dalam hal mengingat.
“tolong lepasin aku”. Aku berusaha terlepas dari nya, menggerakkan tangan ku sampai tangan ku memerah.
“ tolong lepasin, ini sakit”. Aku memohon pada nya dengan sorotan mata. Namun, dia hanya diam menatap ku. Teman sekelas ku semua nya melihat ke arah kami tetapi tidak ada satupun yang berniat membantu ku, mereka hanya diam menonton. Mungkin mereka takut karena mereka paham bagaimana karakter fathan.
“fathan! Kamu kenapa sih!?. Tolong lepasin aku”. Bentak ku kemudian.
__ADS_1
“ikut aku”. kata nya dingin.
dia menarik tangan ku mengikuti nya sampai ke belakang kelas. Dia membawa ku ketempat biasa di mana dia duduk bersama teman teman nya disaat sedang malas belajar.
Aku duduk di salah satu kursi yang ada di situ, menunduk kan kepala ku menatap ke arah lantai.
“liat aku na”. Tidak ada reaksi apapun dari ku.
“aku minta maaf”. Lanjut nya.
“kan udah ku bilang ga usah minta maaf, di sini aku yang salah”.
“ na aku serius minta maaf sama kamu, aku mau kita kayak dulu lagi. Please jangan diamin aku”.
“ aku diam bukan berarti aku ga peduli an! Tapi hati aku lagi beradaptasi dengan kenyataan kalau kamu ga bisa aku miliki”.
aku masih senantiasa menatap lantai, diantara sakit hati dan malu melihat kearah nya.
__ADS_1
“na!, kita masih bisa jadi teman, emang apasih yang salah dari berteman?”.
“an, ini hati. Please ngertiin aku, kamu jangan egois dong, kamu jangan Cuma mikirin perasaan kamu. Oke kalo kamu pengen nya kita temenan tapi ga sekarang, kasih aku waktu untuk hilang kan perasaan aku dulu”.