
Malam ini aku duduk bersama bunda dan ayah.
"yah Kata Bu guru udah boleh mikir mau kemana setelah tamat, 3 bulan lagi kami mau ujian nasional".
"Ayah mau kakak Coba tes polw*n tapi sambil menunggu pendaftaran di buka Kakak kuliah dulu".
"Aku pengen kedokteran yah, kata Ayah aku boleh bermimpi setinggi-tinggi nya". aku berkata demikian karena ayah benar benar mengatakan pada ku untuk bermimpi sesuka hati ku, masalah lain nya akan ayah ku usaha kan.
"kalau untuk sekolah kedokteran Ayah nggak yakin Ayah Sanggup". aku sudah menunjukkan wajah kecewa ku pada ayah, sedangkan bunda hanya diam saja.
"kata ayah dulu ayah bakal nyanggupi apapun itu demi kebahagiaan anak ayah, Kenapa ayah ingkar janji?". aku mulai meneteskan air mata.
"Iya Ayah ngerti tapi apa kakak mau ngeliat Ayah jadi gila setelah Kakak menjadi dokter?. Oke kalau gitu kita jangan mikir jauh dulu, sekarang Ayah tanya kakak gimana kalau nanti di pertengahan jalan sekitar 2 tahun atau 3 tahun kuliah kedokteran Ayah sanggup membiayai nya tapi setelah itu Ayah tidak sanggup lagi, apa kakak mau berhenti di tengah jalan? sedangkan waktu dan Uang sudah banyak di habis kan. ayah takut nak, ayah takut jika kakak tidak bisa mencapai mimpi kakak ayah takut Kakak akan kecewa, melihat kakak kecewa tentu saja bukan hal yang mudah bagi ayah, ayah bisa gila nak. sebelum kakak kecewa terlalu jauh ayah mau mengganti mimpi kakak, dari pada jika sudah memulai namun berhenti di tengah jalan?, uang dan waktu sudah di korbankan, apa Kakak yakin Kakak sanggup menghadapi itu?. yang paling penting Kakak IPS, masuk kedokteran susah kalau nggak ada dasar nya".
__ADS_1
"bilang aja Ini masalah uang, jurusan bukan penghalang, uang masalah nya". setelah berkata demikian aku masuk ke kamar dengan mata yang sedari tadi menetes tidak mau berhenti.
banyak sekali anak bercita-cita tinggi namun ekonomi menghalangi, untuk apa bangsa dan negara menyuruh anak-anak bercita-cita setinggi langit jika masalah utama nya adalah uang?.
pepatah yang kaya semakin kaya sangat terasa nyata bagi ku.
aku memang hidup di dalam keluarga yang berada namun berada nya keluarga ku hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kebutuhan kewajiban saja.
selang beberapa menit Bunda masuk ke kamar ku, bunda duduk di pinggiran kasur sedangkan aku menangis dalam keadaan telungkup.
"Aku tau Bun tapi aku tetap kecewa". Aku berbicara masih pada posisi semula.
"Sini lihat Bunda dulu". bunda membalikkan tubuh ku.
__ADS_1
"Kalau Kakak sayang sama ayah dan bunda Kakak dengerin kata ayah ya".
"Aku benci sekolah Bun, dari awal aku udah memilih masuk ke MIPA tetapi mereka memasukkan ku ke IPS saat aku komplain mereka malah bilang MIPA dan IPS sama saja, aku bisa kemana pun asal mau belajar tetapi bukti nya sekarang aku nggak bisa pergi ke tujuan ku".
"Nggak sepenuh nya salah mereka sayang ayah dan bunda juga salah karena nggak punya uang".
"mereka lebih salah bunda, seharusnya anak wajib di beri kan jalan ke mana mereka ingin pergi. bukan hak mereka menentukan jalan Itu hak kami sebagai pemilik tujuan, jika mereka menentukan jalan yang tidak sesuai seperti yang Kami ingin kan. Bagaimana dengan kami?, kami di tuntut belajar pelajaran yang tidak ingin kami mengerti dan tidak kami sukai, kami di tuntut mengerti semua pelajaran yang mereka saja kadang tidak mengerti. jika kami tidak suka Bagaimana kami bisa bersemangat meraih jalur nya?. selama ini aku udah berusaha sekeras mungkin untuk membuat ayah dan bunda bahagia aku terpaksa memahami hal yang tidak ingin ku pahami demi sebuah angka di ujung semester. Aku capek Bun".
"semua nya udah terjadi sayang kamu mau nangis sampai pagi pun tidak akan bisa merubah yang sudah terjadi, sekarang kakak ikuti nasehat Ayah ya?. ayah bilang ke bunda, Ayah pengen lihat anak perempuan nya menjadi pahlawan keluarga".aku mengangguk.
Kemudian Entah dari mana datang Elisa.
"Kakak Kenapa Bun?". tanya nya.
__ADS_1
"nggak papa, keluar dulu ya Kakak mau istirahat. Bunda keluar ya, kamu istirahat nangis nya udah cukup untuk malam ini". Bunda keluar kamar di ikuti Elisa di belakang.
"Cita-cita hanyalah ilusi bagi anak dari orang tua yang tak berposisi"