
...****************...
Jam istirahat tiba.
Karena kejadian tadi pagi aku menjadi malas Ke kantin, sebenar nya untuk keluar kelas saja aku sangat malas. Takut juga jika tiba-tiba melihat fathan dan della lagi.
Tetapi di sini aku sekarang di koridor kelas, melihat ke bawah, menonton murid laki-laki yang bermain bola.
Aku bersama reno, tadi nya aku sendiri tetapi tiba-tiba ku lihat ke samping sudah ada reno di sana yang berjarak kurang lebih 2 meter dari ku. Kami tidak berbicara, reno juga sama seperti ku menonton para murid bermain bola.
“yunaa!!!”. Ku lihat ke arah sumber suara. Aku tersenyum lesu lalu ku lambai tangan ku agar innara menghampiri ku.
“berdua aja?”.
“bertiga”. Jawab reno singkat.
“satu lagi mana?”.
“setan nya”.
“oh”. Innara yang merasa di ganggu hanya menjawab satu kata dua huruf.
“eh ngomong-ngomong kalian cocok banget berdua”. Lanjut innara. Namun, kami hanya diam saja.
“kamu ga suka sama yuna ren?”.
“emm... suka”. Aku melihat ke arah reno dengan tatapan tidak percaya.
“trus kenapa ga pacaran?”.
“ya gapapa”.
“ayo tembak yuna ren”. Aku beranjak pergi.
Mendengar mereka membahas itu hanya akan membuat ku merasa canggung saat berjumpa reno.
Melihat ku pergi kemudian innara menyusul ku.
__ADS_1
“belum bisa lupain dia?”. Aku menggeleng
“seneng gini?”. Aku kembali menggeleng.
Bagaimana aku bisa senang jika harus melupakan seseorang dengan terpaksa.
“sebenar nya ada banyak cara agar kita bahagia, salah satu nya melupakan orang yang sudah menyia-nyiakan cinta kita”.
“dan itu ga semudah membalik kan telapak tangan”. Aku melanjutkan pernyataan innara.
...****************...
Sesi mencari pelatih sudah kami lakukan. Hari ini adalah hari pertama kami akan berjumpa pelatih nari dan hari pertama juga kami latihan.
“gimana ayy?”. Tanya kania.
“coba deh yuna yang ngomong”. Ayra menyerah kan ponsel nya kepada ku.
“siapa?”. Tanya ku tanpa suara.
“andra”. Jawab kania.
“halo”.
“iya”. Jawab ia di seberang sana.
“kamu ga datang?. Ini kan hari pertama”.
“lusa aku datang, hari ini aku malas”.
“ga bisa dong ndra, ini kan latihan pertama. Coba bilang ke aku alasan yang logis”.
“aku lagi malas yunaa...”.
“jadi inti nya kamu datang atau ga?”. Segaja aku bertanya begitu karena tidak ada guna nya memaksa. Sesuatu yang di paksa tidak akan berakhir baik.
“iya datang, telat gapapa kan?”.
__ADS_1
“iya telat telat dikit gapapa”.
“udah ya aku kasih hp nya ke ayra lagi”. Lanjut ku. Aku langsung memberi kan handphone nya kembali kepada ayra.
“gimana?”. Tanya mereka, tentu nya tanpa suara agar tidak di dengar oleh andra.
Aku menyatukan jempol dan jari telunjuk ku menandakan sesuatu yang berhasil.
“ihh cepat dong datang”. Mendengar suara ayra yang setengah berteriak kami semua terdiam, kami memperhatikan ayra, seperti nya ia masih berbicara dengan andra.
“kok gitu sih, kamu kira mudah buat kami nyari pelatih ke sana kemari?. Kamu ga tau di untung, tinggal datang aja susah banget”.
“ya udah keluar aja sana!!!”.
“ayy jangan gitu”. Masih berbicara tanpa suara. Aku mengelus pelan bahu nya.
“aku benci dia”.
“matiin dulu”. Aku menunjuk ke arah ponsel nya.
Ayra mendekat kan ponsel nya dengan mulut nya kemudian berbicara setengah berteriak.
“biarin, biar dia denger!”. Kemudian baru ia memutuskan panggilan telepon nya.
“kenapa sih ay?. Tadi dia udah setuju buat datang”.
“ga tau, gila dia!!”.
“trus jadi nya gimana?”. Dea ikut bertanya.
“dia keluar dari kelompok kita”.
“hah beneran?”. Kami semua terkejut, separah itu efek dari pertengkaran mereka.
“kita jadi ga cukup anggota dong”. Ucap ku.
“gapapa nanti pasti dia balik lagi”. Ayra berbicara dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
“coba kamu bujuk dia deh ayy, minta maaf sama dia”. Kania memberi saran. Ayra hanya mengangguk saja.
Setelah lama menunggu pelatih ternyata hari ini kami tidak latihan, pelatih hanya memperkenalkan diri, memberi kan jadwal latihan dan memberi tahu alat apa saja yang harus kami sediakan dan bawa saat latihan.