
Hari hari berlalu, ujian yang sulit pun sudah kami lalui. Sekarang kami hanya menunggu hasil raport yang menjawab usaha keras kami selama satu semester penuh ini.
“ehh ngapain mereka ke sini?”. Tanya innara. Aku yang samar-samar mendengar pun melihat kearah pintu.
Lelaki itu melambai ke arah ku, tidak biasa nya dia ke sini. Dia masuk dengan menebarkan senyuman nya kepada para wanita di kelas ini. Itu lah kebiasaan nya, menebarkan senyum menggoda kepada manusia mana pun asal kan perempuan.
“ngapain kesini? Rezky mau jumpa ayra?”. Tanya ku beruntun.
“aku mau jumpa kamu, hehe”. Aku memukul lengan nya pelan.
“elehh, ga percaya aku”. Omongan laki-laki memang sulit di percaya kan?.
“emang wajah ku wajah-wajah pembohong?”.
“nah kan, ga perlu aku bilang pun kamu udah tau”. Jawaban ku membuat ia mencibir kesal seperti bayi yang kehilangan mainan nya.
“aku punya hadiah buat kamu”.
“ha?”. Mendengar kata hadiah membuat ku berpikir dalam rangka apa ku dapat kan hadiah tersebut.
“iya hadiah kalau kamu masuk kedalam 10 besar”. Sepuluh besar yang ia maksud disini adalah peringkat di dalam kelas.
“jangan kasih harapan, aku ga mau berharap”. Benar kan?, berharap kepada laki-laki adalah hal yang paling sakit.
__ADS_1
“liat aja nanti”. Kenza meyakinkan ku.
“yuk balik”. Rezky memukul pelan bahu kenza dari belakang.
“kenza kata nya mau pindah ke kelas kami, kamu balik sendiri aja”. Canda ku.
“iya biar deketan sama kamu”. Dia dengan senyum menggoda nya.
“paansih sana balik”. Aku mendorong tubuh nya hingga keluar dari kelas, sedang kan rezky mengikuti dari belakang.
“yuna!! Sini”. Rosa dari jauh memanggil ku setelah rezky dan kenza kembali ke kelas mereka. Aku berjalan cepat menghampiri nya.
“temenin aku yuk”. Ajak nya.
“udah, ikut aja”.
Sepanjang perjalanan mengikuti rosa yang entah ingin kemana, kami berbincang-bincang.
“tau ga na?, aca lagi deket sama arhan”.
“bukan nya arhan sama velly ya?”. Tanya ku karena arhan dan velly terlihat sangat dekat dulu, tapi aku tidak tau sekarang karena aku tidak terlalu memperhatikan mereka.
“kamu kan tau sendiri velly gimana orang nya, semua lelaki di embat. Bosan sini ganti sana”.
__ADS_1
Memang benar kata rosa tapi...
“aku ga mau fitnah”.
“bukannya fitnah, emang kenyataan kok”. Sampai lah kami di sini.
“kenapa ga bilang aja dari tadi mau ke toilet?”. Tanya ku.
“ya gapapa biar kamu ikut aja, di kelas banyak orang ga enak ngomong”.
“bukan ngomong, ngegosip yang iya”. Rosa tertawa dengan perkataan ku.
“tunggu bentar ya”. Aku mengangguk.
Selama menunggu rosa aku berpikir, memang benar kata rosa. Velly menyukai semua lelaki, dengan tubuh nya yang indah dan wajah nya yang cantik, lelaki mana yang tak suka?. Aku saja yang perempuan menyukai nya.
Jika velly sudah menyukai lelaki, ia tidak peduli mau lelaki itu punya pacar atau tidak, asal kan tampan dan selagi ia bisa mendapatkan nya. Ayra saja menyebut nya sang penggoda, pasal nya rezky hampir saja terkena rayuan maut milik velly saat mereka berpacaran dulu.
Dan ayra?. Ayra akan menghantam siapa saja yang mengganggu orang yang ia sayang bahkan dengan sahabat nya sendiri pun, seperti saat berselisih paham dengan aca dulu.
Dan sekarang kalian tau? Ayra sudah berpacaran lagi entah yang seberapa kian kali nya setelah rezky, aku tidak mengenal lelaki itu yang aku tau dia selalu berganti-ganti menceritakan pria. Kata nya dia tetap hanya ingin rezky tetapi dia dengan lelaki lain.
“udah yuk balik”. Kata rosa, menghentikan lamunan ku. Aku mengangguk.
__ADS_1