
Aku mandi cukup lama karena bukan hal asing lagi jika perempuan mandi harus memainkan air dan gayung terlebih dahulu.
Setelah berganti pakaian aku berbaring di ranjang mini size milik ku, banyak teman ku yang menanyakan hasil dari perlombaan tadi melalui chat.
^^^“yuna selamat ya”.^^^
Ini pesan dari deniel, hanya dia yang mengucapkan selamat kepada ku, ku balas pesan nya setelah membalas semua pesan dari teman ku.
“makasih ya”.
^^^“yuna...”^^^
Jika sudah begini aku curiga ada maksud tersembunyi dia mengirimiku pesan.
“hm..?”.
^^^“bisa ga ya, kita balik kaya dulu lagi,^^^
^^^aku pengen kita kaya dulu lagi “.^^^
“kenapa?. Bukan nya dulu kamu yang pergi?. Di mana perempuan baru mu itu? Sekarang udah ga ada lagi tempat untuk mu, balik aja sama dia”
^^^“yuna..”^^^
“udah cukup deniel, hati aku bukan punya mu lagi, jika pun masih aku tetap ga akan milih buat balik ke kamu, karena apa? Karena aku ga akan pernah bisa ngelupain seseorang yang udah menyia-nyiakan aku. MESKIPUN AKU SANGAT MENCINTAI NYA”.
__ADS_1
Sengaja ku garis besari kalimat terakhir agar dia mengerti bahwa kesempatan kedua benar-benar tidak ada di dalam kisah cinta ku.
^^^"Tapi aku sayang kamu na”.^^^
“aku juga sayang kamu”.
“DULU”.
^^^“yuna”.^^^
Aku hanya melihat pesan nya tanpa membalas. Semakin di balas maka akan semakin panjang pembahasan nya dan semakin besar pula masalah nya.
...****************...
Seminggu kemudian
“bu, saya titip yuna ya. Dia suka muntah kalau naik mobil”. Pesan bunda.
Dari situ dapat di percaya, aku bukan lah perempuan yang matre. Kemana saja walau pun panas, naik motor adalah yang terbaik.
“iya bu”. Jawab salah satu guru.
Bunda beralih menghadap ku memegang kedua bahu ku.
“yuna dengar apa yang guru sampaikan ya.. kalau ada apa-apa langsung kabarin guru atau telepon ayah dan bunda”.
__ADS_1
“iya bun”. Aku mencium tangan bunda kemudian beralih kepada ayah.
“yah, aku berangkat ya”.
“iya hati-hati ya kak, kabarin ayah kalau sudah sampai”.
“ iya yah”. Aku mencium tangan ayah, tangan kasar yang bersejarah dalam membesarkan ku.
Selama perjalanan tidak ada yang spesial, hampir 6 jam duduk di dalam mobil, tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara, aku mengerti, kami di sini datang dari tempat yang berbeda-beda dan belum pernah bertemu sekali pun, itu lah yang membuat kami canggung. Mau bicara pun bingung harus membahas apa.
Aku duduk di pojok dekat dengan jendela. Bersandar di jendela karena sudah tidak tahan lagi ingin segera mengeluarkan sesuatu yang ku telan tadi pagi tetapi untung saja tidak ku keluar kan. Namun begitu sampai aku langsung berlari ke kamar mandi.
...****************...
Malam Pun tiba, aku duduk bersama reno. Hanya reno lah yang ku kenal di sini. Selagi ku berbincang dengan reno tiba-tiba bu desi sudah berdiri di depan kami.
“gimana barang-barang perlengkapan untuk besok sudah siap semua kan?”.
“udah bu”.
“bu lomba nya masih kaya kemarin kan?”. Tanya ku berharap mendapat sedikit bocoran.
“masih, yang terpenting kalian jangan duduk jauh-jauh. Ingat, kalian adalah partner”. Kami berdua mengangguk mengerti.
“ibu sebenar nya agak ga srek sama yang juara tiga kemarin, harus nya juara tiga itu laki-laki yang dari SMA Negeri 3 itu, tapi karena finishing nya kurang rapi jadi juri-juri milih yang lain. Sebenar nya karya nya cukup menarik”.
__ADS_1
“sayang dia bu”. Reno ikut prihatin sedangkan aku diam saja.
Aku sangat tau bahwa yang di maksud bu desi adalah deniel. Namun walaupun aku tau, itu tidak ada guna nya bagi ku.