Mentari (2021)

Mentari (2021)
25


__ADS_3

Beberapa saat kemudian alvi teman se geng fathan menghampiri kami.


“bendahara, minta uang dikit dong”. Alvi duduk di atas meja di depan ku. Aku menatap risih pada nya tetapi itu tidak membuat nya pergi dari hadapan ku.


“buat apa sih?”. Tanya ku kesal.


“kok gitu?. Cewe cantik ga boleh marah-marah ntar cepat tua”.


“kamu juga minta uang seakan akan kamu minta sama ibu mu, kamu kira dia ibu mu?. Dia itu bendahara kelas”. Aca juga yang kelihatan risih ikut nimbrung.


“perlu ca, kalau ga perlu mana mungkin aku minta. Kalian taukan kelas kita mau tandingan futsal?”. Aku dan aca mengangguk sekilas.


“nahh, aku, fathan, arhan, dan yang lain nya ikut. Jadi, kami butuh uang buat daftarin tim kami. Kamu juga pasti taukan fathan suka futsal?. Fathan juga kapten di tim kami loh. Jadi ga salah kan minta uang kas, toh kami juga mau banggain kelas”. Jelas nya detail.


“ga usah bawa-bawa fathan, tau aja kelemahan yuna”.


“udah caa,,,”. Aku menghentikan aca, jika tidak maka aku yakin masalah nya bukan hanya sampai di sini saja.


“ntar dulu deh aku pikirin, ini juga bukan uangku. Lagian kenapa harus pake uang kas sih?”. yang di tanya malah hanya senyum manis menampakkan gigi putihnya.


“kalian kan bisa minta sumbangan dari kawan-kawan. Ntar kalau pake uang kas trus tiba-tiba ada keperluan kelas yang mendesak, trus uangnya gaada gimana?. Mana uang kas seminggu 2000 perorang,,, hadeuhhh”. Lanjutku.


“ pokok nya ntar kabarin ya na”.

__ADS_1


“iya deh, sana pergi”. Setelah mengusir alvi, aku dan aca kembali lagi kesesi curhat-curhat kami tentang para jantan pemikat hati.


...****************...


Jam istirahat tiba, seperti biasa aca dan rosa akan ke kantin ibu. Ngapain?, ya mereka ngebucin di sana, tidak lupa ayra dan via juga ikut.


Sedangkan aku, aku sekarang enggan berada di luar kelas karena setiap hari fathan akan duduk berbincang dengan ku di dalam kelas. Tidak menjadi hal yang asing lagi saat kami duduk berdua mereka semua tau sedekat apa kami, dan tidak ada juga yang berani komplain kedekatan kami karena fathan akan membunuh mereka dengan tatapan tajam nya.


kalian ingin mendengar kata-kata andalan fathan?.


“jadilah pembantu kami, biar kalian bisa mengurus hidup kami”.


kata-kata itu membuat sebagian siswa takut tetapi aku kagum mendengar nya. Aku tau dia berusaha melindungi ku dari ocehan para siswa-siswi dengan menggunakan kata itu. Sepertinya cinta ku sekarang berada di tingkat tertinggi. Tetapi aku juga tidak dapat menilai nya, yang pasti cinta ku akan naik satu tingkat saat ia mengeluarkan suara nya. Itulah tingkat tergila dari jatuh cinta.


“denger-denger kamu udah baikan ya, sama dia?”. Dia mengangguk kemudian menatap ke arah ku.


“aca yang bilang”. jawabku. Dia kembali mengangguk.


“ga baik na bermusuhan lama-lama, aku cuma ga mau mutusin tali silahturahmi. Ga salah kan?”.


“engga an. Maafin aku ya, aku cemburu”. Aku tertawa tapi tawa ini adalah tawa yang ku sengaja. Bukan tawa senang namun juga tidak terlihat seperti tawa yang sakit.


“aku egois an, padahal kita Cuma temenan”. Aku menatap ke lantai.

__ADS_1


“kamu harus percaya sama aku na. Aku sayang sama kamu. Kamu tau kan tahap sesudah kita sayang kepada seseorang?, dan aku udah sampai ke tahap itu na. Aku cinta sama kamu”. Lihat lah dia, dia mengatakan dia mencintai ku namun saat ia mengatakan itu aku tidak melihat sedikit pun keseriusan di dalam nya, bahkan dia tidak menatap ku saat mengatakan itu.


“mana an?. Tolong tunjukin ke aku tahap yang kamu bilang itu, kenapa aku sama sekali ga bisa melihat nya?. Aku ga bisa merasakan nya. Aku bisa mendengar kata-kata itu dari kamu, tapi aku ga bisa ngerasain sedikit pun keseriusan dalam kata-kata itu. Kalau kamu mau menetap maka perjelas, kalau kamu mau pergi maka percepat, jangan abu-abu begini. Kamu taukan, perasaan semakin lama ia berharap maka akan semakin sakit pula nanti nya”.


Ini terlalu dramatis, jika aku mengingat nya di masa depan pasti aku akan merasa malu.


“udah na, lupain aja ya?”. Aku mengangguk lesu, aku benar-benar tidak ingin memaksa dia. Namun, terkadang aku kehilangan kendali atas diri ku. Oleh sebab itu, tak jarang aku mengode bahkan menuntut secara langsung kejelasan hubungan ini.


“tadi alvi ada minta uang ke kamu kan?”. Aku kembali mengangguk, tak ingin mengeluarkan suara karena terlalu kecewa.


“berhubung aku kapten tim ya, kalau gaada uang kas biar aku aja yang tanggung uang pendaftaran nya”. fathan melihat ke bawah sambil memainkan jari nya.


“gapapa kok, tadi aku udah tanya teman-teman, katanya gapapa pake uang kas. Ntar uang nya aku kasih ya”. Aku tau dia bukan berasal dari keluarga yang kaya raya, jika harus dia yang menanggung untuk tim dari mana dia akan mendapatkan uang itu. Lagi pula aku sudah membicarakan itu dengan teman-teman yang lain, banyak dari mereka yang ingin menyumbangkan dana.


“makasih ya na. Besok jangan lupa datang, tim aku tanding nya sesi ke dua”.


“insyaallah ya an, ntar aku usahain”.


Aku mengatakan begitu karena aku tidak mungkin datang sendirian, aca dan rosa juga tidak mungkin menemani ku, mereka sangat di batasi berpergian oleh orang tua mereka. Jadi, aku harus mencari cara untuk merayu ayra agar mau menemani ku, dan karena ayra terkadang memiliki mood yang plin plan aku tidak bisa berjanji untuk pergi. Jika ayra mau menemani ku, aku akan pergi dan jika tidak ya, yasudah. Mau bagaimana lagi.


“yaudah aku tunggu ya”. Aku mengangguk.


“aku pergi dulu ya?”.

__ADS_1


“iya”. Dia pasti pergi untuk bertemu teman-teman nya di kantin. Dilihat dari pembicaraan kami tadi dia pasti bosan dengan ku.


Setelah ia pergi, aku keluar kelas menyusul aca, rosa, ayra, dan via di kantin ibu karena aku juga bosan berada di kelas sendirian, mungkin saja di sana akan sedikit terhibur melihat mereka yang bucin.


__ADS_2