
Se sampai nya di rumah, ayra langsung turun. Aku melihat ke belakang, dia masih menunggu ku padahal aku ingin sekali mengatakan pada nya agar dia tidak perlu mengantar ku pulang.
Dengan ada dia yang mengikuti ku aku malah takut, aku takut kalau ternyata dia jahat. Aku takut kalau tiba-tiba di pertengahan jalan dia menghentikan ku dan melakukan yang tidak-tidak terhadap ku. Aku ini wanita dan dia lelaki, aku yakin sekali dengan postur tubuh itu dia merupakan pria normal.
kalian bayangkan saja pria dan wanita berjalan beriringan di jalan yang sepi, bagaimana aku tidak takut. Walau menggunakan motor tetapi bisa jadi dia menghadang ku.
“ayy tolong bilangin ke dia aku ga mau di antar”.
“udah gapapa, ga usah takut, dia baik. Ntar kalo kamu masih takut, kamu harus jalan di depan dia, kalo kamu merasa ada yang aneh kamu haru naikin kecepatan motor mu”. Ayra tau aku takut namun dia tidak membantu ku mengusir laki-laki itu.
“yaudah deh, aku pulang dulu ya”.
Sepanjang jalan aku memperhatikan spion, lebih tepat nya aku melihat dia, melihat dia mengikuti ku agar jika ada yang aneh aku bisa segera melaju kan motor ku dengan kecepatan di atas rata-rata.
Setelah sampai di rumah aku merasa menyesal telah berpikir yang tidak-tidak tentang nya. Tenyata benar yang di katakan ayra, dia baik. Dia mengantar ku sampai ke rumah. Dia tidak mampir di rumah ku, dia berlalu begitu saja setelah melihat ku sampai di rumah.
...****************...
Setelah beberapa hari sejak dia, lelaki yang kata nya menyukai ku mengantar kami.
kalian tau? Sebenar nya aku tidak percaya ketika ayra mengatakan hal itu, karena untuk seseorang yang menyukai seseorang dia terlalu santai dan cuek. Dia memperlihatkan dirinya seolah “jangan kan menyukai memandang saja aku tidak ingin”. Seperti itulah aku menyimpulkan nya.
Bel baru saja berbunyi pertanda jam istirahat telah tiba. Setelah guru keluar dari kelas aku membereskan peralatan menulis ku dari meja. Aku melihat aca masih saja duduk di kursi nya. Tidak seperti biasa nya, biasa nya begitu bel berbunyi dia bersama teman-teman yang lain akan bergegas keluar.
“ga ke kantin ibu ca?”. Aca menggeleng kemudian menidurkan kepala nya di atas meja dengan berbantalkan kedua tangan nya.
__ADS_1
“kenapa ca?. Ga biasa nya gini”. Dia diam saja seperti tak ingin mengatakan apa-apa.
“eh ca yuk ke kantin”. Ajak ayra, mereka bertiga sudah siap menuju ke kantin hanya tinggal menunggu aca saja.
“kalian duluan dehh, aku lagi pusing. Ntar kalo udah mendingan aku nyusul”.
“yaudah kita duluan ya”. Ayra dan teman-teman yang lain berlalu pergi.
“kamu sakit ca?”. Aca mengangguk. Aku meraba kening nya, seperti nya tidak menunjuk kan tanda-tanda dia demam, atau mungkin saja dia bukan demam tapi sakit yang lain?.
“kamu kalo sakit ngapain sekolah ca. Dari kapan sakit nya?”. Tanya ku khawatir.
“dari semalam”. Aku melongo terkejut.
“ya Tuhan ca, kenapa di tahan aja?”.
Aku yang pusing nih kalau seperti ini, aku tau mana ada sakit yang di sengaja. Lagi pula saat merasa kurang sehat kan bisa istirahat terlebih dahulu di rumah, apa mungkin dia tidak mau libur sekolah karena tidak ingin jika tidak berjumpa denis sehari saja?, karena yang ku tahu mereka tidak pernah berjumpa di luar sekolah. pasti aca tidak ingin membuang kesempatan yang hanya bisa di lakukan di sekolah saja.
“mau aku panggil in denis kesini?”. Aca kembali menggeleng.
Dari arah luar fathan datang menghampiri ku dengan jajanan di tangan nya.
Dia memainkan mata nya bertanya kepada ku tanpa suara.“kenapa?”. Aku menggeleng.
“kamu makan dulu ya”. Menyerah kan kantong plastik yang berisi kan jajanan.
__ADS_1
“kamu udah makan?”. Tanya ku, karena semua makanan yang di bawa oleh nya di berikan kepada ku. Tak ada yang tersisa untuk nya.
“udah tadi di kantin”. Fathan mengacak rambut ku. Aca menenggak kan kepala nya melihat ke arah fathan.
“kamu mau duduk di sini?”. Tanya aca karena aca tau disaat dia bersama yang lain pergi ke kantin, fathan akan duduk di Kursi nya untuk menemani ku.
“ga usah, kamu tiduran aja. Aku mau balik ke kantin”. Mendengar itu aca kembali menidurkan kepala nya seperti tadi.
“aku pergi dulu ya, makan nya di abisin”. Aku mengangguk
“makasih ya”. Setelah mengelus kepala ku dia berlalu pergi.
“makan dulu ca”.
“ga usah, fathan ngasih nya buat kamu”.
“ihh gapapa ini banyak kok, ga mungkin juga aku abisin sendiri”.
“beneran?”. Aku mengangguk sambil tersenyum meyakinkan.
Aca menyuapkan beberapa makanan ke dalam mulut nya hingga mulut nya penuh kemudian meneteskan air mata. Aku yang melihat hal tersebut bingung.
“aku putus sama denis”. Dia menunduk sambil mengunyah dengan air mata yang mengalir.
Aku tidak mengatakan apa-apa, aku hanya ingin mendengar dia berkeluh-kesah.
__ADS_1
Kalian tau?. Disaat seseorang sedang mengadu kepada kita itu artinya dia mempercayai kita dan di saat seseorang mengadu kita cukup dengar kan saja tidak perlu memberi kan nasehat atau menghakimi nya atau yang lebih parah membandingkan masalah kita dengan nya. Kita tidak mengerti perasaan nya, seberapa keras pun dia menjelaskan nya kita tidak akan mengerti. Maka dari itu lebih baik dengar kan saja, mereka hanya butuh di dengar kan agar merasa lebih tenang. Disaat mereka menanyakan pendapat kita maka disitu lah kita bisa memberi kan nasehat.