
Setelah semua rayuan maut yang ku keluar kan, akhir nya ayra mau ikut dengan ku
“ihh,,,, cantik banget sayang nya aku,,”. Aku memegang bahu ayra dan menatap nya sambil tersenyum. Dia terlihat malas.
“eleh giliran ada mau nya, cantikk,,,,, sayang,,,, cihh”. Lihat lah dia sungguh kasar, dia telah merobek-robek hati ku.
“hehe,,, udah yuk, nanti kita telat”. Aku memakai helm dan sarung tangan karena melihat cuaca yang masih saja panas padahal jam sudah menunjuk kan bahwa hari sudah sore.
Setelah ayra naik dan berpegangan, aku melaju kan motor ku.
“ dimana sih lapangan nya, tau gini berangkat lebih awal tadi”.
“bentar na, ini aku lagi tanya temen-temen lain”.
sudah setengah jam kami berputar-putar tak tau arah. Bodoh nya aku tidak meminta alamat yang jelas pada fathan. Jika begini mereka pasti sudah mulai bertanding dan fathan pasti mengira aku tidak datang.
“na, ini arhan baru ngirim lokasi nya. ayo berangkat”. Dengan cepat ku pakai kembali sarung tangan ku dan mulai melaju kan motor ku.
...****************...
Benar saja, se sampai nya kami di sana mereka sudah selesai untuk babak pertama dan sekarang tim fathan sedang beristirahat.
Aku melihat fathan melambaikan tangan pada ku, ku sambut lambaian itu dengan senyuman.
“kok kamu lama, aku kira kamu ga datang”. Dia menghampiri ku
“na, aku di sana ya bareng teman yang lain”. Ayra menunjuk ke arah arhan dan teman teman yang lain nya.
“iya ayy, hati-hati”. Aku terkadang memang begini. Padahal ayra hanya pergi dari ku beberapa meter saja tetapi aku bertingkah seolah ia akan pergi jauh.
__ADS_1
Fathan memperhatikan ku sambil tersenyum kemudian setelah menyadari ayra tidak lagi bersama kami, dia mensejajarkan tinggi nya dengan ku.
“tadi kami kesasar. Kamu sih ngasih alamat ga jelas, aku mana pernah ketempat ginian”. Aku melampiaskan kekesalan tadi kepada nya. Dia hanya tersenyum melihat ku kesal.
Aku memperhatikan wajah nya yang penuh dengan keringat. Aku mengelap bagian wajah nya dari kening hingga ke leher menggunakan tangan kosong ku.
“cape?”. Dia mengangguk dengan wajah bak bayi sedang mengadu kepada ibu nya, sengaja di buat agar terlihat manja. Inilah salah satu hal yang aku suka dari nya, dia hanya terlihat manja disaat dia sedang bersama ku.
Di saat aku masih tersenyum karena tingkah manja nya tiba-tiba dia mendekat kan telinga ku.
“sayang, ada bawa tisu?". Setengah berbisik.
“ ihh fathan apaan sih. jangan gitu ya lain kali, ga baik”.
“ga baik kenapa?”. Sambil menegakkan tubuh nya kembali. Entah dia memang tidak tau atau memang pura-pura tidak tau.
“ udah ihh,,,” dia tertawa dengan wajah polos nya.
“AL!” mendengar suara itu aku dan fathan menoleh bersama.
Dia menghampiri kami.
“hai”. Aku menyapa nya lebih dulu. Dia seperti pura-pura tidak melihat bahwa ada aku disini bersama fathan.
“hai”. Dia membalas sapaan ku kemudian kembali beralih pada fathan .
“jadi gimana tadi kalian menang?”.
“masih belum, baru babak pertama”.
__ADS_1
“ooo gitu ya, ngomong-ngomong dia siapa al?”.
“aku yuna, teman nya fathan”. Ku ulurkan tangan ku dan di sambut oleh nya sambil tersenyum penuh arti.
“aku della, mantan nya fathan”.
“aku tau kok, fathan cerita banyak tentang kamu”. Padahal yang ku ucapkan tidak sepenuh nya benar, aku mengatakan begitu hanya agar tidak terlihat bodoh dan menyedihkan di hadapan nya. Aku ingin dia mengerti dari kata-kata ku bahwa aku dan fathan cukup dekat sehingga fathan bercerita banyak pada ku.
“ohh iya?. Al jarang loh cerita tentang perempuan, kalau dia sering ceritain tentang aku, itu arti nya dia masih sayang sama aku. Iya kan al?”.
Aku tidak menyangka akan begini, dia pintar membolak-balikkan perkataan. Aku ingin tertawa karena yang ku katakan tadi merupakan kebohongan, akan tetapi fathan memegang tangan ku dan menjawab perkataan della.
“del kamu apaan sih, na ayo duduk di sana, bentar lagi aku mau mulai babak ke-2”. Fathan menarik tangan ku mendekati ring pembatas lapangan dan penonton. Ada beberapa kursi di sana yang di sediakan memang untuk diduduki oleh para penonton.
“ jadi nama panggilan sayang nya ‘al’ ya?. Kayak nya bagus dia yang manggil deh dari pada ‘an” yang aku panggil”.
kalian tau kan nama lengkap fathan adalah Alfathan, aku biasa memanggil nya memakai dua huruf belakang nama nya yaitu ‘An’. Aku tidak menyangka bahwa della mantan nya memanggil nya ‘Al’.
“udah na gausah di pikirin. Mau dia manggil apa, kamu juga manggil apa, yang penting itu tetap masih nama ku. Kamu jangan buat aku ngulang kata-kata yang seharus nya kamu sudah tau”.
Maksud fathan di sini adalah kata-kata “aku sayang kamu”.
Setelah mengatakan itu fathan kembali ke lapangan karena babak selanjutnya akan segera di mulai.
Perempuan memang terkadang ribet, hanya berbeda satu huruf saja dia akan memperpanjang kan masalah nya sampai ia merasa kan puas. Hanya laki-laki yang mengerti lah yang akan mengerti.
Beberapa menit bertanding di lapangan akhir nya tim fathan memenangkan babak kedua dan mereka menjadi juara kedua. Saat nama nya dipanggil ke depan sebagai perwakilan tim nya, dia menampilkan senyum yang sangat indah.
Dari senyum nya aku belajar, bahwa yang manis bukan hanya gula.
__ADS_1