
Sampai lah kami di kantin, di kantin di mana fathan memberikan uang jajan seminggu kepada ku.
Ku lihat della di sana.
“seragam nya sama, dia sekolah di sini?”. Tanya ku kepada dua teman yang berada di samping kiri dan kanan ku.
“murid pindahan, dia di taruh di MIPA 1”. Jawab rosa.
“sejak kapan?”.
“sejak kamu ke ibu kota”. Jawab aca.
“sejak dua minggu yang lalu”. Batin ku berbicara.
Beberapa saat kemudian aku melihat fathan tersenyum kepada della sambil membawakan makanan.
Ku perhatikan mereka dari kejauhan, della tersenyum menampakkan gigi putih nya, ia menggenggam tangan fathan dan mengucap kata terima kasih.
Tidak terdengar oleh ku namun ku tahu dari gerakan bibir nya.
“mau balik aja?”. Rosa bertanya karena memahami keadaan.
“gapapa, ayo kita jajan dulu”. Aku sebisa mungkin bersikap biasa saja.
__ADS_1
Itu lah alasan mengapa aku sangat ingin melupakan nya, banyak alasan aku tidak ingin melihat nya sampai mencari segala kesibukan yang membuat ku benar-benar lupa akan dunia.
Bukan karena benci kepada nya tetapi karena ada beberapa hal yang belum bisa aku terima, tentang tangan yang selalu ku genggam namun kini menggenggam tangan yang lain, tentang pundak yang sering ku gigit kini menjadi sandaran orang lain, tentang suara yang membuat ku candu kini menjadi yang paling merdu di telinga orang lain, tentang senyum yang selalu ku nikmati dan wangi parfum yang sering ku cium kini menjadi favorit orang lain.
Semua nya bukan milik ku lagi, dan aku masih berdiri di tempat yang sama melihat rumah yang dulu ku tempati sudah bukan aku tuan nya.
Setelah selesai segera kami kembali ke kelas, duduk bertiga dengan jajanan di antara kami.
“kok Cuma aku ya yang ga suka siapa-siapa”.
“belum lagi”. Ucap aca.
“baguslah kalau ga suka siapa-siapa”. Ucap ku sambil memasukkan satu bakso bulat kedalam mulut.
“iyalah, kalau kamu lagi suka sama seseorang banyak hal yang menyakitkan akan terjadi, banyak hal bodoh yang rela kamu lakukan, mikirin hal yang seharus nya ga perlu kamu pikirin dan pasti ada harapan-harapan yang patah karena ekspektasi sendiri, karena itulah nikmati hari mu di saat sedang tidak menyukai seseorang”.
Kita hanya perlu bersyukur atas setiap keadaan karena di balik sebuah keadaan pasti ada untung nya, begitu lah tuhan menciptakan manis di antara kepahitan.
...****************...
“Ibu akan bagi 3 kelompok yang berisi 12-15 orang . pembagian kelompok berdasarkan nomor yang akan kalian ambil dari gelas ini”. Bu ningsih menunjuk sebuah gelas kepada kami.
Masing-masing murid maju ke depan saat nama nya di panggil oleh bu Ningsih untuk mengambil sebuah gulungan kertas yang berisi nomor.
__ADS_1
Ada yaang melompat kegirangan saat mengetahui nomor yang ia pilih sama dengan sahabat nya, ada yang merenggut kesal ketika mengetahui hanya dia saja yang berada di kelompok tersebut sedangkan teman nya berada di kelompok lain.
Jika di tanya di pihak yang mana, aku berada di pihak yang pertama, yang melompat kegirangan karena nomor yang ku pilih sama dengan aca dan rosa.
“Kalian bebas mencari pelatih kalian masing masing. Ibu tidak menyarankan kalian mencari pelatih yang mahal atau berbayar namun ibu sangat berharap apa yang kalian tampil kan di penghujung semester adalah usaha terbaik yang kalian punya”.
“yahhh.. kalau gini sama aja kaya bu ningsih nyuruh kita nyari pelatih yang bagus tapi secara halus. Pelatih yang bagus mana ada yang gratisan”. Gumam aca namun terdengar jelas di telinga ku.
“ga di saran kan ca, kalau mau bagus ya harus”.
“yaa kan sama aja bodo!!!”.
“beda ca...”.
“beda nya di mana?!!. Ga nyari pelatih ya ga bagus, nyari pelatih ya pasti bayar”.
“ga tau deh, yang waras ngalah aja”.
“ya udah aku ngalah”.
“trus aku yang gila?”.
“udah-udah sama-sama ngalah kalian, biar aku yang gila”. Hanya rosa lah yang selalu menjadi penengah di saat kami berselisih paham atau disaat kami bercanda seperti tadi.
__ADS_1