
Sekarang aku berada di mobil tentu nya dengan teman-teman yang lain. Kalian tau kan maksud nya?.
Ya, kami kalah dari pertandingan ini, hanya dua orang teman ku yang memenangkan perlombaan dan menduduki posisi ke tiga dari perlombaan pembuatan film pendek dan cipta puisi.
Karena menduduki posisi ke tiga mereka berdua juga ikut di pulang kan karena yang akan di bawa ke provinsi hanya lah peserta yang menduduki posisi pertama.
Tidak ada yang menangis karena tidak menang, termasuk aku. Aku sedari awal sudah yakin tidak akan menang begitu melihat karya-karya dari peserta lain yang begitu cantik dan ku yakin nilai jual nya juga bukan main.
Hanya satu yang membuat ku yakin untuk menang, yaitu perkataan bu desi.
“salah satu juri merupakan juri yang akan memberi kan nilai lebih kepada peserta yang memanfaatkan limbah kertas untuk kerajinan”. Hanya itu satu-satu nya semangat ku untuk menang, tetapi akhir nya tidak menang juga.
“jadi siapa besok yang akan ke sekolah?. Kemungkinan kita sampai ke rumah jam 10 malam jadi yang ga ke sekolah akan ibu izin kan kepada wali kelas nya masing-masing”. Ucap bu meli, namun satu pun tidak ada yang menjawab.
Kemudian bu meli mengabsen nama kami satu persatu untuk menanyakan kesanggupan kami bersekolah esok pagi nya.
“yuna anjeli. Gimana, sanggup ke sekolah besok?”. Aku diam saat di tanya, aku bingung harus menjawab apa, mau bilang sanggup mungkin saja tidak sanggup, mau bilang tidak sanggup tapi sungkan.
“gimana?, sanggup ga?. Kalau ga sanggup ibu buat izin”.
“udah bu ga usah di tanya. Izin kan saja semua, mereka pasti capek pulang dari sini”. Mendengar tanggapan bu desi aku bersyukur , ini lah yang ku maksud. Beruntung nya bu desi menjawab demikian.
...****************...
__ADS_1
Seminggu kemudian.
“tumben mau ke kantin?”. Ucap aca dengan wajah yang tampak kesal. Bagaimana tidak kesal, aku mengganggu waktu bucin nya besama arhan.
“pengen aja, udah lama ga ke sana”. Rosa menggandeng tangan ku.
“ aku aja yang temenin yuna, kamu balik aja ke kelas”.
“dari tadi kek. Sekarang ga mau lagi aku balik ke kelas, mending sekalian jajan”.
“dasar. Ingat ya di setiap kejadian ada hikmah di balik nya”. Aku menasehati bak ustadzah.
“lah ini nemenin kamu, hikmah apa yang ku dapat?”.
Kami menuruni tangga satu persatu. Tidak ada lagi dari kami yang berbicara karena harus menuruni tangga jika tidak fokus dan jatuh, percaya lah sakit nya bukan main apa lagi malu nya.
“huh cape”. Aca duduk di sebuah kursi yang berada di depan kelas di bawah tangga.
“aelah baru segitu”. Celetuk ku.
“tunggu ya kamu, lihat pembalasan ku”. Aca menatap ku dengan mata elang nya. Aku tau itu candaan di dalam persahabatan.
“heh kamu yuna ya?”. Seorang dari belakang mendorong keras bahu ku hingga hampir saja aku terjatuh ke depan.
__ADS_1
“apa sih?”. Ku lirik orang yang mendorong ku.
“mentang-mentang kakak kelas main seenak nya aja”. Tambah ku lagi.
Aca dan rosa memegang tangan ku seolah menyuruh ku berhenti menjawab kasar.
“kamu kan yang di chat pacar ku?”. Dia menatap ku dengan emosi yang berapi-api.
“pacar mu siapa mba?, yang nge chat aku banyak”. Ku coba jawab sesantai mungkin.
“aku tu paling ga suka tipe-tipe cewe yang kaya gini”. Dia melihat teman nya saat berbicara seolah mengadu.
“kamu ga harus suka sama aku karena aku juga ga suka sama kamu”.
“ga ada sopan sopan nya jadi adik kelas”. Teman nya melayang kan tangan ingin menampar ku namun di tahan oleh aca.
“masalah nya apa sih kak? Ga bisa di omongin baik-baik?”. Aca pun ikut nimbrung.
“udah ca biar aku yang ngomong”. Bisik ku kepada aca kemudian rosa pun ikut membantu menenangkan aca.
“sok cantik banget, pake lipstik lagi”. Dia menyapu bibir ku dengan kasar. Ku tepis tangan nya.
“ aku cantik untuk diri ku sendiri. Yang mana sih pacar nya kakak?, biar sekalian ku rebut, masa udah dapat tuduhan nya ga dapat orang nya”.
__ADS_1
Kemudian aku menarik tangan aca dan rosa untuk pergi dari sana. Meninggalkan mereka yang menatapku kesal.