
Di sini lah keberadaan Morgan dan Willa saat ini. Melirik Morgan dengan tatapan heran. "Morgan, kenapa kamu bawa aku ke ruang uks? "Diem lo! lo gk usah sok hebat dan jangan kemana-mana tunggu gue disini!"
"Willa, apa kamu sedang sakit? tanya Santi
"Tidak, aku baik baik saja kok." Lalu buat apa dia membawa kamu kesini?" Mungkin sinting nya Morgan kumat kali."
Mereka saling menertawakan kelakuan Lelaki aneh itu. Beberapa menit berlalu Morgan kembali lagi dengan membawa beberapa kantong makanan.
"Nih, lo pasti laparkan, jangan sampai lo pingsang di sekolah ini dan lo, menunjuk Santi, jangan biarkan dia kluar dari sini." Melirik kedua gadis yang di hadapannya sedang menahan tawanya, Morgan lalu keluar dari sana.
~ Jey, nanti pulang sekolah langsung kerumah ya sayang! pesan masuk dari mami olive
~Iya mi!
"Jey lo ada acara gak? kita pergi nonton yk!"
"Gue harus pulang kerumah, lain kali aja Ren!"
"Yaa elah, pasti mami lo yang nyuruh ya? nolak sekali-kali napa bro?
"Lo gk tau sih mami gue orang nya gimana."
"Zaka..." Panggil Jeni melambaikan tangannya. "Bidadari lo tu Ka, sambung Reno.
"Ada apa Jeni sayang?"
"Idihh mual perut gue dengarnya," kata Reno memalingkan pandangannya
"Apaan si panggil sayang segala, jadian aja belum?" O jadi lo nungguin gue tembak ni?
"Tembak saja pake senjata lo Ka!"
"Eh jangan , nanti kalau gue tembak bolong dong hhahaha."
"Nyebelin banget sih lo smua." Pergi meninggalkan mereka dengan kesalnya.
Sementara Jey hanya terdiam saja mendengar percakapan kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jey, apa lo udah ungkapin perasaan lo ke Willa? tanya Reno.
"Belum."
"Tunggu apa lagi bro, nunggu di tikung si Morgan ya? sambung Zaka. Kalau gue perhatiin tu anak juga suka sama Willa.
"Gue lagi nunggu waktu yang tepat!"
*/*/*/*/*/*/
Morgan menarik tangan Willa masuk ke dalam mobilnya, "Lo ikut pulang sama gue."
Morgan, lepasin tangan aku, aku udah janji pulang bareng Jeni.
"Diem lo! Jangan membantah kalau tidak mau tangan lo gue patahin."
"Morgan, apa kah kamu masi berurusan dengan anak anak berutal itu?"
"Bukan urusan lo."
"Memang bukan urusan aku, tapi pikirin juga masa depan kamu, apa kamu mau jadi..."
"Udah cukup. Sekarang lo diem duduk manis saja, gue nggak fokus nyetir denger omelan lo terus.
.
.
.
Minggu depan ujian kenaikan kelas akan segera berlangsung. Jey mengingat perkataan maminya, selepas bagi rapot nanti, Jey akan pindah keluar negeri. Waktunya hanya sekitar 2 minggu lagi untuk berjumpa dengan Willa.
dreettt... dreettt....
panggilan dari Jey.
"Hallo?"
__ADS_1
"Wil, nanti malam keluar yuk!"
"Tapi bang-" Udah tenang saja, nanti aku yang minta ijin sama papa kamu.
"Baik lah kalau begitu."
Beberapa jam kemudian, Jey sudah tiba dan berbincang" dengan papa nya. Rehan tau kalau Jey anak dari Wisnu jaya, maka dari itu dia mengijinkan lelaki ini pergi bersama putrinya.
"Kita mau kemana bang?" tanya Willa.
"Nanti kamu juga akan tau." Beberapa menit di perjalanan, kini mereka sudah tiba di sebuah restoran pinggir pantai.
"ayo turun!"
"Bang, indah sekali tempat ini, ucap Willa sejenak memejamkan matanya dan menikmati sejuknya angin pantai itu.
"Will, aku mau ngomong sesuatu sama kamu."Apa bang?" Masih dengan mata terpejam.
Memandang gadis yang ada di hadapannya,"Willa, aku sayang sama kamu!"
Sedikit terkejut dan membuka matanya perlahan. Dia angkat telapak tangan Willa dan meletakkan pada dadanya. Detak jantungnya yang bergetar cepat dapat dia rasakan.
"Aku cinta sama kamu Wil, kamu mau gk jadi pacar aku"?
Ini mungkin seperti mimpi, mendengar ucapan cinta yang baru saja menusuk suasana hatinya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Saling berpandang dan tanpa harus berfikir panjang lebar Willa menganggukan kepalanya.
"Iya aku mau, aku juga sayang sama kamu!" Tersenyum malu pada bahu lelaki itu.
Mengambil setangkai bunga yang sengaja ia bawakan tadi. Memberikan tanda kasih sayang.
"Apa aku boleh panggil kamu sayang? bisik nya. Mengangguk lagi.
"sayang!"
"Wil, berjanjilah padaku, kita akan selalu bersama. Apa pun yang terjadi nanti kedepannya, aku akan menungggu mu di tempat ni.!
sstttt!!
__ADS_1
"Jangan terlalu berfikir jauh bang. baru saja kita bersama seakan akan kamu mengucapkan sebuah kata perpisahan."
Saling berpandangan dan dan menyatukan kening mereka. Perlahan Jey memegang dagu nya, mencium kening nya dan turun ke hidung.