
Berhubung karena keberangkatannya di tunda, Jey mengajaknya ke sebuah restoran untuk makan malam bersama. Di sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam diri saja.
"Bang, Jey?"
"Iya, Wil?"
"Bagaimana kabar tante?"
"Mami baik-baik saja. O ya, ini tadi kamu mau kemana?"
"mau ke Arab ,bang." dengan ekspresi biasa saja.
"Apa pertunangan mu sudah selesai?"
Sejenak menghentikan kunyahannya dan menatap Jey dengan tatapan kosong. Ia mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengatakan ini. "Mm, kita akan bertunangan setelah waktunya tiba nanti."
"Bahkan kamu tidak mengundangku, Wil?"
"Bukan begitu, bang. Aa aku juga belum siap dengan ini semua. Tujuan ku kesini hanya untuk trevling aja bersama Morgan."
Ia tatap Willa dengan tajam. Ia juga tau kalau gadis ini sedang berbohong. Tapi Jey merasa kalau tidak sewajarnya ia ikut campur dengan masalah mereka.
"Ooh. Wil, mau kepantai gak? kebetulan didaerah sini ada pantai. Bagaimana kalau kita kesana?"
"Oh ya? Mau dong, bang!"
Beberapa menit di perjalanan, mereka sudah sampai di pantai. Willa ingin sekali melepas penat di hatinya. "Bg, Jey boleh teriak gak?"
"Teriak? buat apa Wil?"
"Disini tu sakit." ia tunjuk pada hatinya.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kesana! Kamu lebih leluasa berteriak sepuas hatimu."
Willa dan Jey berlari ke pinggiran pantai yang ombaknya lumayan deras.
setiba disana, Willa merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara sejuk yang merasuk rongga hidungnya.
"UuAaaaaa!!"
Teriaknya sekuat mungkin!
Jauhi Morgan, jika kau tidak ingin hidup mu menderita. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa menerima mu di keluarga kami. Kau hanya gadis miskin yang tidak tau malu bersanding dengan cucuku.
"Wil, pelan-pelan, gendang telingaku bisa pecah."
"Bg Jey, jauh jauh, aku ingin teriak lagi."
Ia tatap Willa dengan lekat, selama dia mengenal gadis itu, ia tidak pernah melihat sosoknya yang begitu hancur. Meskipun ia pernah melukai hatinya, tetapi itu jauh dari penglihatannya. Berteriak sekencang mungkin sambil meneteskan air mata. Perlahan ia menjatuhkan kakiny Untuk bersujut. Jey juga ikut duduk disampingnya.
"Wil, apakah begitu sakit?"
"Lalu sekarang bagaimana? Sudah sembuh?"
"Sedikit."
Kemudian mereka terdiam sejenak menikmati suasana hati masing-masing. "Bang, ayo kita pergi, nanti aku bisa ketinggalan pesawat."
"ckk, pilotnya aja masih disini, masa ia pesawatnya terbang gitu aja."
"Aa? maksud kamu?"
"Ya, iya. Coba mana liat tiket kamu."
__ADS_1
"Nih! Oo iya betul, berarti kalau kamu pilotnya, seharusnya aku bisa numpang gratis dong."
"Emang itu pesawat aku?"
Mereka saling meledek dan kembali menikmati sejenak tiupan angin yang membuat rambutnya beterbangan di udara.
Mereka juga menghabiskan waktu selama 3 jam kedepan. Setelah itu Jey pun mengajaknya kembali ke bandara. Mereka akan berangkat malam ini. Sebelum menaiki pesawat, mereka saling berjabat tangan.
"Sampai jumpa kembali, Wil."
Willa mengangguk.
***
Sudah beberapa jam Morgan mencari Willa di bandara namun tidak di temukan juga. tadi, Ia juga cek pesawat yang akan di tumpanginya, dan bahkan pesawat itu di tunda selama beberapa jam ke depan. "Kemana Willa? ponselnya juga tidak aktif lagi."
Ketika ia tanyakan sekali lagi, mereka bilang pesawat tersebut sudah berangkat sekitar 10 menit lalu. Morgan merasa jantungnya begitu panas. Ia sangat khawatir dengan gadis itu. "Ya tuhan apa yang harus gue lakukan?" menarik helaian rambutnya.
Sayang, maafin aku.
***
Sudah sekitar 30 menit Willa memejamkan matanya di pesawat. Ia menatap awan yang begitu gelap. Petir juga beberapa kali menyambar di langit. Cuaca kini semakin tidak baik. Koneksi pesawat juga semakin tidak terkontrol.
Ya Tuhan, apa yang terjadi? batin Jey**.
Pramugari memberitahukan untuk tetap waswas dan tenang.
"Darr...darr!!"
Suara petir menyambar. Badan pesawat semakin oleng kiri kanan. Semua penumpang berteriak dan berusaha bertahan di tempat.
__ADS_1
Kembali dengan kami, pemirsa, Pesawat yang bertujuan ke kota Xxx sedang kehilangan koneksi dengan xxx. Hal ini diakibatkan cuaca yang kurang membaik. dann blaaa..blaaa...
Ia jatuhkan remot tv dengan tangan yang bergetar......