Menunggumu

Menunggumu
bab 68


__ADS_3

Menunggu jawaban dengan tidak sabar dan Menatap ku dengan pandangan ragu. "Morgan, memegang tangan nya yang sudah mulai keringat dingin, "Apa kamu, yakin?"


"Iya, Wil." katanya mantap.


Aku menatapnya dengan serius. Aku mulai menyandarkan kepala ku di bahunya. Morgan dengan terkejut menatap ku. "Aku, juga ingin belajar mengenal cinta bersama mu!" kata ku masih dengan bersandar dan menatap langit.


"Aku, ingin sekali disayang, di beri cinta. Aku harap kedepan nya, aku tidak mengecewakan mu dengan jarak diantara kita."


Aku bisa mendengar debaran jantungnya yang begitu kencang di telinga ku. Segugup ini kah seorang Morgan yang aku kenal yang begitu pemberani, tidak takut dengan siapa pun. "Ck, ini Morgan kok jadi kalem-kalem amet , ya?"


Oh god, ini gue mimpi atau bukan ,ya? Will Menerima cinta gue?


"Mm, Wil, apa ini serius?"


Mengadahkan kepala ku melihat nya, "emang aku terlihat bercanda? masih berpura-pura menatapnya jutek. "Aa tidak, tidak. Aku sangat percaya." katanya menjawab ku dengan cepat.


Kami kembali terdiam sesaat dengan pikiran masing-masing. Lalu aku angkat bicara. "Morgan, aku tidak ingin ada janji, aku ingin kita menjalani hubungan ini dengan perasaan yang sejujurnya."


"Iya, Wil." Katanya masih dengan gugup.


*/*/*/*/


"Dimana ,Willa?" tanya mami Olivie dengan suara serak melihat ke kanan kiri kasur. Jey, dan juga papi saling berpandangan heran. Kenapa tiba-tiba mami menanyakan tentang Willa?


"Mami, jangan banyak gerak dulu, ya! kata papi memegang tangan mami. "Iya mi, dokter bilang mami belum bisa banyak berbicara, nanti kelelahan." sambung Jey.

__ADS_1


"Jey, Willa yang menolong mami! Mami ingin bertemu dengan nya."


"Mm, Willa sedang bertugas mi, besok saja ya, ini sudah terlalu malam."


Sementara Ana yang sudah berdiri memasang raut wajah khawatir. Perasaannya nya tidak tenang, apa lagi setelah Olivie mengatakan ingin berjumpa dengan Willa. Bagaimana kalau tante menyuruh Jey dan Willa untuk bersama kembali? Ini sungguh membuatnya ingin cepat pergi dari sana membawa kekasinya jauh jauh dari mantan nya.


Bagaimana mungkin aku menemui Willa? Aku bahkan tidak siap melihat gadis itu. Aku tidak bisa melihat nya menangis dan Aku tidak siap melihat hatinya terluka.


"Jey, tante sudah sadar. Bagaimana kalau kita membawanya ke Amerika, untuk mendapatkan pengobatan yang lebih canggih!" ucap Ana.


"Ini sudah terlalu malam, Ana. Lagi pula dokter pasti belum mengizinkan kita untuk membawa mami. Kita tunggu saja besok. Kamu pulang lah dengan papi, biar aku yang ngejaga mami disini."


"Aku akan menemani kamu disini, Jey."


*/*/*/*/*/*


"Operasinya berjalan lancar, kita tunggu saja tante Olivie sampai sadar. Mm, apa kamu ingin melihatnya?"


"Tidak, aku sudah melihatnya tadi!"


"Kapan?"


"Ya, tadi." jawabku dengan gagu.


"Ayo aku temani!" kata Morgan memegang tangan ku. "Kamu harus mencoba untuk lebih kuat, Will. Jangan takut, ada aku!"

__ADS_1


"Ayo!"


Kami berjalan dengan beriringan masuk ke ruangan itu. Ketika sampai di depan pintu, Aku menghembus nafasku dengan pelan, aku tidak boleh lemah di depannya. Aku pasti bisa! Ketika sudah melihat sosok tubuh tegap itu dengan seorang gadis di samping nya, kami berjalan menghampiri mereka.


Dengan sigap Jey berdiri ketika melihat kami mendekatinya. Wajah merahnya fokus menatapku. Aku berdiri di samping papi nya dan tersenyum pada mereka. "Tante?" kata ku perlahan memegang tangan tante Olivie.


"Willa? tante Olivie mencoba menjawabku dengan pelan. "Cepat sembuh, tante!"


"Willa, tante minta maaf selama ini sudah berbuat jahat sama kamu. Terima kasin sudah menolongku! ucapnya memegang tangan ku kembali.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar. "Yang terpenting, tante cepat sembuh ya!" Tante Olivie memandang Morgan di samping ku yang juga tersenyum padanya. Dan juga menatap Jey yang hanya menunduk menahan perasaannya.


Ya, Tuhan, apa yang ku lakukan? Aku bahkan melukai perasaan anak ku sendiri dengan memisahkan dia dengan Willa. Aku tau, hatinya juga pasti masi sama untuk Willa. batin Olivie.


Aku melirik Jey yang menunduk bergantian dengan Ana. "Bang, Jey, kamu apa kabar?" dengan sontak Jey menatapku dengan cepat. Jey sangat rindu mendengar suara itu. Suara yang sudah beberapa tahun tidak ia dengar.


"Aa_ aku baik Wil. ucapnya dengan gagu. "Bagaimana dengan mu?"


"Seperti yang kamu liat, aku baik!" mencoba tersenyum. Oh Tuhan, ini sungguh tidak adil. Sepertinya hati ku tidak bersahabat dengan perjumpaan ini. Tenang, Wil, lo jangan menangis di depan nya.


"Aaa kalau begitu, aku permisi dulu ya, tante!" kata ku memegang tangan Morgan untuk berlalu dari sana.


"Aa, Wil, bolah kah aku bicara dengan mu!" kata Jey menghentikan langkah kami.


Morgan menatapku dengan mengedipkan matanya. "Pergi lah, selesaikan semua dengan baik! kata Morgan

__ADS_1


"Jey,,," panggil Ana dengan menahan tangan Jey.


"Ana, biarkan mereka berbicara sebentar!" potong Morgan.


__ADS_2