
Sesampai di luar, di sebuah tempat yang yang jauh dari keramaian. Sejenak kami terdiam menatap langit dengan bintang yang berbinar-binar. "Aku sudah gagal menjadikan mu sebagai bintang dihidup ku," kata Jey memecahkan keheningan kami. Kemudian dia perlahan menghadapku. "Wil, maafkan aku telah mengingkar janji ku, padamu." Aku juga mencoba melihat nya dengan tatapan sayu.
"Lupakan, bang! Aku sudah memaafkan sejak lama. Ya, jujur, mencoba menahan air mata yang sudah mengujung. "Aku akui memang sangat sulit aku di beri cinta, sangat sulit disayang. Aku bahkan lebih memilih tugasku untuk mencintai negara, dan menomor duakan tentang perasaan ku. Dan, menekankan kata dan, lalu menghembuskan nafas dengan pelan, "Aku berharap, hatimu dan hati ku lebih bersahabat."
"Apa kamu yakin kita bisa bersahabat, Wil?"
Perlahan aku tidak bisa menahan air mata ini untuk tidak mengalir. Mungkin ini saat nya aku mengungkapkan sesak di dalam dada ku.
"Iya, bang! Aku yakin kita bisa saling menyayangi dalam arti sahabat."
"Tapi, aku tidak yakin. Setiap aku melihat mu, hati ku bergerak ingin sekali memeluk mu. Dan sebagian besar cintaku, masih tertuju padamu."
"Ck, bagaimana bisa ini dinamakan cinta bang? sementara gadis yang didalam sana, sepertinya sangat menyayangimu."
"Aku sendiri juga tidak paham mengenal cinta bersama nya. Yang aku tau, aku hanya mengikuti alur kisah yang biasa saja seperti seorang teman dengan nya!
Aku mengerutkan keningku melihat Jey yang berbicara seperti itu. "Ck, bang, itu kamu sangat salah besar mempermainkan cinta nya."
"Iya aku tau itu, Wil. Dan, aku mohon sama kamu," Perlahan memegang tangan ku, "Kamu bantu aku untuk melupakan mu! "Jangan pernah muncul dihadapan ku." Air yang semakin menggenang, terurai kedua kaliny.
Jey perlahan mengusap air mata ku. "Kalau kamu hadir kembali, hati ini tidak tahan ingin memeluk mu. Tolong, jangan biarkan aku menyakiti gadis itu!"
Aku mengangguk cepat bersama dengan air mataku. Memejamkan mataku ketika dia mengusap air bening itu dengan lembut. "Kamu jangan khawatir, bang. Tapi, cara untuk tidak bertemu dengan mu, aku tidak yakin.
Aku akan memakai caraku sendiri. Aku sudah belajar membuka hati ku untuk orang lain. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Mari kita bersahabat."
"Siapa?" katanya dengan wajah penasaran
"Morgan, kami akan saling belajar mengenal cinta. Mungkin ini sangat lucu, dengan usia seperti ini masih ingin mengenal arti dari cinta. Tapi, kegagalan ku dengan mu membuatku lebih ingin mengartikan cinta yang sesungguhnya dengan Morgan."
Aku angkat tangannya dan mempersatukan telapak tangan kami. Aku juga bisa merasakan tangan nya yang lembut dan halus, tidak seperti tangan ku yang kasar. "Ini, adalah awal dari persahabatan kita. Belajar lah mencintai pasangan mu, bang! Maka dengan itu, perasaan kita akan lebih baik.
"Tapi, Will..."
__ADS_1
"Ayo, bg, kita kembali ke sana, Mereka sudah menunggu. Aku tidak ingin membuat hati mereka terluka melihat kita yang berlama-lama membahas masa lalu."
"Wil, boleh aku memeluk mu untuk terakhir kalinya?"
Aku sejenak terdiam menatapnya yang juga sudah mulai berkaca-kaca. Ya mungkin dengan berpelukkan, kami bisa melepas semua unek-unek ini dan menjalani hidup dengan pasangan masing-masing.
"Iya, bang!"
Dengan langsung Jey memeluk tubuh ku dengan erat, dan sangat erat. Aku juga mulai merangkul bahunya dengan erat. Sesak nafas kami yang terhembus sangat kencang tak karuan terhembus begitu saja. Semakin lama erat pelukkannya membuat ku susah untuk bernafas. Aku mencoba melepasnya, namun tidak bisa. Perlahan dia mencium rambutku dengan uraian tangisnya.
"Bang, jangan menangis lagi!"
Mengangguk dan semakin terdengar isakan tangisnya. Aku mencoba perlahan melepaskan pelukan kami. "Sudah, cukup bang!" Aku menghapus air matany Dengan tangan ku yang kasar.
"Ayo kita, kesana!"
"Silahkan, duluan!"
Dengan langsung aku berlalu dari hadapan nya. Deruan air mataku juga bercecer di sepanjang perjalanan ku. Ketika sampai di depan pintu, aku sudah melihat Ana dan juga Morgan berdiri disana. Aku mengusap air mataku.
"Iya, ayo kita pergi! Aku masih ada tugas."
Kami pergi dan meninggalkan Ana yang terheran menatap ku. Morgan mengantar ku sampai di depan markas.
"Jangan, menangis! Bukan kah, kita sudah bersama? Aku sangat cemburu loh, jika kamu menangisi lelaki lain! katanya tersenyum di depan mata ku. "ckk, kalau cemburu kenapa kamu tersenyum begitu?"
"Ini tandanya cemburu berlebihan."
"Apa iya ada, begitu? Yang aku tau, kalau cemburu berlebihan ya, marah."
"Aku tidak berhak, memarahimu! Karena, " Morgan perlahan memegang bahuku! "Aku sangat menyayangimu!
"Boong, dulu kau sering membentakku!"
__ADS_1
"Maafkan, keilafan ku Wil! Jangan marah padaku, karena aku bisa melakukan hal bodoh di luar dugaan ku."
"Wkwkwk, seperti apa itu hal bodoh?"
"Ya, aku gk bilang sekarang! Oya, mana ponsel mu?"
"Nih, buat apa?"
"Bagaimana aku berpacaran, jika tidak berkomunikasi."
"Emang, kamu pacar aku?"
Menatap ku dengan mata besar. Loh, ini maksudnya apa ya? tadi cinta gue udah diterima, bukan?
"Ya, iya lah."
"Aku gk mau jadi pacar kamu!"
Hati Morgan semakin gagu. Apa ini berpengaruh dengan pertemuan nya dengan Jey? apa mereka kembali bersama?
Tadi aku menyuruhnya pergi untuk menyelesaikan masalah nya. Ini Willa gimana sih?
"Wil, apa kata mu? katanya dengan wajah kusut. "Jadi, apa yang aku dengar tadi itu semua salah?"
"Mm.."
Menjabak helaian rambutnya dengan frustasi. Sementara aku yang melihatnya sudah menahan tawa ku.
"Willa, ini _"
"Aku tidak ingin berpacaran dengan mu,," Masi saja menatapku tanpa melalak. Perlahan aku mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Aku mau, kamu ngelamar aku jadi istriii!"
__ADS_1
Kataku kemudian tersenyum dan meninggalkan nya yang terdiam membisu.
Aaa apa katanya tadi? Ngelamar? jadi Istri?