
Hanya sekedar beberapa jam saja menitipkan aromanya, dan kembali terbang ke asal semula. Menatap awan awan putih yang beterbangan di langit. Betapa indahnya alam ciptaan Tuhan.
Aku bahkan tidak sempat menghirup udara sengat perkotaan yang banyak di cemari oleh kendaraan. Aku sungguh sangat merindukannya. Selama ini aku hanya mampu menghirup udara alam di hutan dan asap tempur saat berperang.
Aku melihat kebawah yang sama sekali tidak tau dimana letak kota kelahiran ku. Melihat warna biru di bawah itu mengingatkan ku sebuah pantai tempat kami saling menunggu.
Mungkin aku akan terlambat kembali, tapi aku berjanji akan kembali dengan selamat.
Beberapa jam kemudian pesawat kami mendarat di bandara Yunani, dimana pada saat ini aku sedang bertugas di tempat ini. Melakukan tugas selanjutnya yang sudah menantikan otak dan tenaga ku untuk di kuras.
*/*/*/*/*/*/*
3 bulan kemudian
Mengemasi barang barang dan perlengkapan lainnya selama seminggu ke depan di Indonesia. Morgan segera berpamitan ke mamanya. "Kamu jaga diri baik" disana ya nak!" Pasti ma!"
Beberapa menitu berlalu di pesawat, Morgan menatap awan awan yang begitu bening. Hatinya saat ini merasa sangat bahagia. Setidaknya bisa kembali ke Indonesia dan menemui gadis itu. Dia sangat" yakin kalau Willa masih tinggal di tempat yang dulu dan mengolah mixwhite dengan baik. Tersenyum dan tidak bisa membayangkan ketika nanti dia tiba disana dan melihat reaksi gadis itu.
Landas nya pesawat saat hampir tiba di lapangan membuat hatinya semakin berdebar. Pak Ras selaku supir pribadi papanya sudah menunggu disana. Melambaikan tangan ketika melihat wajah ganteng Morgan.
Kini banyak yang berubah dari segi penampilan, sifat dan cara berbicaranya. Berubah demi seseorang dan berubah menjadi lebih baik lagi adalah niat nya semenjak mengingat ingatan nya kembali.
Sesampai di gerbang utama yang mewah, Morgan menatap gedung itu dan memejamkan matanya sejenak lalu masuk kedalam rumah. Disana papa juga sudah menyambut nya.
"Selamat datang kembali di Indonesia, nak!" katanya mencoba menjalankan kursi rodanya ingin menghampiri Morgan. Dengan sigap Morgan segera memeluk papanya yang sudah tidak berdaya dan menumpahkan air matanya di bahu papa.
"Papa sehat kan, maafkan aku yang tidak pernah menjenguk mu!"
"Keadaan papa sudah mulai membaik, papa juga minta maaf selama ini sudah mengabaikan mu dengan mama mu!"
Setelah lama mereka bercerita mengenai banyak hal di Jerman, Morgan berpamitan untuk menemui seseorang.
"Kamu ingin menemui gadis itu?"
"Iya pa. A.. aku sangat merindukannya."
__ADS_1
"Pergilah, bawa dia kemari! Papa juga sekalian ingin minta maaf padanya atas kesalaahn papa di masa lalu."
"Pasti pa, aku akan membawanya kesini."
"Tapi..."
Menjeda kata katanya sejenak dan menghembuskan nafasnya pelan, "Beberapa bulan yang lalu papa juga mencarinya, namun papa tidak menemukannya di kota ini."
"Tidak mungkin pa, Willa pasti masi disini. Dia juga mempunyai cafe yang harus di urus. Dan tidak mungkin juga dia pergi jauh. Walau pun harus kuliah, mungkin dia juga akan kuliah disini."
"Tapi sebaiknya kami cari dulu, siapa tau anak buah papa aja yang salah memberi informasi." Melajukan mobilnya menyelusuri arah jalan ke villa yang hampir setiap hari dia lalui pada saat itu. Sungguh banyak sekali perubahan di tempat ini. Beberapa menit kemudian, Morgan sudah tiba depan Cafe dan melihat suasana dan gedung yang sudah berbeda dari cafe itu.
Melajukan langkahnya sedikit lebih dekat, dan melihat cafe itu sudah menjadi lebih besar dan isi didalam nya juga sudah berbeda.
"Mm permisi mbak, apa saya boleh bertemu dengan manager cafe ini?"
"Maaf mas, manager kami sedang tidak ada disini, mungkin akan pulang lusa sore."
"Kalau boleh tau kemana ya mbak?"
"Ke luar kota sedang mengurus bisninya mas." Apa ada pesan yang harus saya sampaikan?"
"Kalau begitu saya ingin bertemu chef Ari."
"Maaf mas disini juga tidak ada yang bernama Ari." Bagaiamana bisa tidak ada, sementara saya sendiri dulu yang memperkerjakan nya di tempat ini."
"Mungkin mas ini salah alamat kali."
"Bagaimana dengan Willa, sebagai pemilik cafe ini?"
Mengerutkan dahinya dan memasang wajah heran, "Ya ampun, mas salah alamat, pemilik cafe ini adalah pak Akis bukan Willa."
Morgan segera melangkahkan kaki nya menuju villa. Sesampai disana gerbang villa juga di gembok. Beberapa kali membunyikan bel, namun tidak ada yang keluar membuka pintu. Seorang wanita paruh baya yang kebetulan adalah tetangga Willa.
"Mau cari mbak Willa ya mas?"
__ADS_1
"Aa iya buk, apa ibu tau Willa dimana?"
" 1 Tahun yang lalu mbak Willa berpamitan kepada saya, katanya mau pindah keluar negri mas!" Apa mbak tau dimana?"
"Tidak mas,"
Mengangguk pelan dan menundukkan kepalanya di pagar besi tua itu. Kemudian segera melajukan mobilnya ke rumah Willa yang dulu. Beberapa menit di perjalanan, Morgan sudah tiba disana dan menanyakan ke satpam dengan nama Willa.
Satpam itu juga menjawab hal yang sama, bahwa yang bernama Willa ataupun Kori tidak ada disini.
Willa, kamu dimana?
*/*/*/*/*/*/*/*/
Malam harinya, Morgan mengambil ponselnya dan melihat kabar berita di sosmed milik nya. Masih dengan waktu yang sama yaitu 1 tahun yang lalu Willa tidak mengupdate story apa pun disini.
Hanya melihat foto terakhir yang di tag oleh Ardika Jaya saat mereka berada di bandara.
Kau terlihat manis saat memeluknya. Andaikan aku mengingat mu pada saat itu, mungkin aku juga akan terlihat manis di peluk oleh mu.
Tidak menunggu lama, Morgan melihat story yang menandai Ardika Jaya. Bersama dengan seorang gadis yang bernama Ana Akari.
Berimajinasi dengan hati masing \- masing
Siapa gadis ini? Sepertinya ini bukan Jeslin. Masi dengan perasaan kepo, Morgan melihat profil dari Ana Akari.
Banyak komentar mengenai foto itu, namun tak ada satu pun balasan dari pemiliknya. Jey sama sekali belum sempat membuka medsosnya Dan tidak mengetahui gosip terkini dari para sahabatnya yang sudah berkomentar.
Sementara Rika yang sudah mengenal Ana, tidak memberi komentar. Baginya itu tidak penting. Jika sahabatnya Willa berjodoh dengan lelaki itu, mereka pasti akan berjunpa kembali. "Teringat nya, gue rindu lo Wil." Membuka album foto saat mereka sedang berkemah di puncak. Banyak sekali foto cantik, jelek, imut, yang mereka ekpresikan disana.
"Lo dimana, sih? Udah satu tahun gak ngasi kabar ke kita." Meraba foto itu dan meneteskan air matanya. "Apa lo mau, cowok lo di rebut sama si Ana? Lo mau?"
__ADS_1
Isakannya sudah seperti ke kanak kanaaan. "Setidak nya lo chat gue sekali aja, bilang kalau lo baik baik aja. Gue bahkan gk tau, lo jadi apa sekarang?"
"Jadi apa?" Ya ampun, lo jangan berfikir aneh aneh Rika, Willa pasti baik baik aja.