Menunggumu

Menunggumu
bab 60


__ADS_3

Sudah sekitar 8 bulan aku mengikuti masa pelatihan. Banyak sekali rintangan, tangisan, kelemahan dan segala macam yang aku lalui. Melewati malam yang menyeramkan, melewati masa pelatihan saat berperang dan semua itu tidak lepas dari keluhan ku.


Sejenak aku mengingat orang yang jauh di alam sana. Aku sungguh merindukan mereka.Seandainya papa dan mama bisa merasakan hati ku yang hancur ketika aku lemah. Iya saat ini aku sangat lemah.


Aku hanya bisa menikmati suasana tempur dengan lawan didalam hutan. Suara jangkrik yang setiap malam saling bersahutan ditempat ini. Malam ini kami bahkan tidak bisa menginap di posko. Kami terjebak di hutan dengan hujan yang mulai deras.


Mencari tempat perlindungan di bawah pohon. Aku duduk dan menampung titik titik hujan di tangan ku. Air mataku mulai menetes mengingat seseorang yang sudah sangat jauh di hatiku. Sudah lama tidak saling berkomunikasi.


"Apa kabar kamu disana bang Jey? Aku sungguh merindukanmu. Maaf selama 8 bulan ini aku tidak memberi kabar. Aku yakin kamu pasti mengkhawatirkan ku. Aku baik baik aja disini bang, meski pun sakit, terluka, aku janji akan pulang dalam keadaan selamat. Tunggu aku ya!"


Beberapa saat kemudian komandan Arif memberikan aba aba untuk mereka melakukan kegiatan selanjutnya.


"Ada apa Willa?" tanya Manik ketika ingin mengajak Willa untuk berdiri dari duduknya.


"Gpp bang, ayo kita lanjut lagi."


*/*/*/*/*/*/


AMERIKA


Jey melajukan mobilnya menuju kampus.Selama di perjalanan, Jey menikmati lagu yang di bawakan oleh kekasihnya itu ketika mereka bernyanyi bersama 9 bulan yang lalu.


Tidak ada pikiran yang negativ terhadap ku walaupun aku sudah lama tidak memberinya kabar.


Willa??


"Aku merindukanmu! Kamu ada dimana sayang?


Beberapa menit di perjalanan, Jey sudah sampai di gerbang kampus. Disana Ana sudah menunggunya dengan tersenyum ketika sudah melihat wajah laki" itu.


Menghampir Jey, "Aku nunggu kamu loh dari tadi." kata Ana memegang lengan Jey.


"Maaf Ana, aku terlambat. Oya, apa proposalnya sudah selesai?"


"Udah kok Jey, kamu tinggal mempresentasikan nya nanti. Semangat ya?"


"Trimakasih Ana, kamu sudah banyak membantuku." Trimakasih doang nih?


"Mm jadi apa lagi? ledek Jey tersenyum ke Ana."


Aku mau hati kamu Jey, Aku mau kamu memberi rasa cinta untukku.


"Ya apa kek, pokoknya kamu harus bawa aku jalan". Mau ya Jey, abisnya ni otak suntuk banget. " Baik lah, Nanti sore aku akan menemanimu jalan".

__ADS_1


"Yang bener?"


"Mmm."


Sore harinya Jey mengajak Ana ke sebuah taman. Taman itu sangat indah dan sejuk. "Apa kamu sering ke tempat ini Jey?"


"Tidak, aku hanya melihat nya saja dari internet."


"Oh ya? apa kamu suka berjalan" ke taman?


"Gk juga sih, selama disini aku tidak begitu menyukai taman."


"Kenapa? Sambil mendudukkan bokongnya dan menutupi paha nya dengan jaketnya.


"Aku tidak ingin menikmati suasana taman kecuali dengan seseorang..."


Ana memandang Jey tanpa berkedip. Ketika ingin menanyakan siapa, Jey langsung berdiri dan melangkahkan kakinya ke tukang penjual es krim. "Bang, es krim coklat nya 2 ya."


"Ini buat kamu!"


"Mm kamu kok tau aku suka es krim, makasih ya! Semua cewek kan memang suka es krim."


Terhenti sejenak dari cup eskrim nya mendengar Jey mengatakan hal itu. Tersenyum canggung dan,


"Iya sih."


"Baik kok An," Menjawab dengan singkat.


"Tapi, kalian sudah lama tak berkabar, Apa kamu yakin dia juga setia sama kamu disana?"


"Iya aku yakin."


"Seperti apa sih gadis itu, aku jadi penasaran?" tanya Ana kepo. Awal dari perjumpaan mereka Ana sudah ada hati untuk lelaki ini. Hanya saja ketika dia melihat foto seorang gadis di ponsel Jey, Ana perlahan ingin tau dan tidak ingin menyerah mendapatkan hati lelaki itu dengan cara baik.


"Dia cantik dan juga mandiri. Semua yang ada pada dirinya dan aku sangat menginginkanya. Kurang lebih 2 tahun yang lalu kami sudah berjauhan, tapi hati ku masih saja menginginkannya. Bahkan aku sempat bertunangan dengan Jeslin, aku membuat hatinya terluka, bahkan sampai saat itu juga dia memiliki perasaaan yang sama dengan ku. Kami saling mencintai diantara larangan mami."


Tanpa mengalihkan pandangannya, wajahnya sudah terlihat berbeda dari sebelum mendengarkan cerita dari lelaki ini. Hatinya juga semakin berdebar.


Kok nyesek ya! Kalau tau hatiku terasa sakit begini, aku tidak akan menanyakan tentang gadis yang dia cintai.


"An? Kamu kenapa?"


"Aa apa, mm tidak ada kok. Trus gimana lagi?"

__ADS_1


"Ya seperti itu lah," Melihat Ana yang sudah merasa canggung, Jey menanyakan hal yang sama dari pertanyaan sebelumnya.


"Kalau kamu gimana, Udah ada pacar, belum?"


"Hehe, jangan kan pacar, temen dekat saja aku tak punya selain kamu." Menatap lurus kedepan namun sudut mata nya masi bisa memandang lelaki itu yang juga memandang nya. Sebenarnya itu adalah sebuah kode, namun lelaki menanggapinya biasa saja.


Tidak ingin membuat suasana lebih canggung, Jey sengaja mengajak Ana untuk pergi dari taman itu. Selama di perjalanan Ana juga hanya terdiam menatap pemandangan luar yang sudah mulai gelap.


"An, bagaimana kalau kita makan dulu, aku udah laper nih?"


"Boleh," katanya mulai tersenyum.


Memasuki restoran besar di Amerika, mereka memesan beberapa makanan kesukaan masing-masing. Tanpa sengaja dan tidak di duga, Rika melihat Jey yang sedang makan berdua dengan seorang gadis.


Itu kan Jey, dan siapa gadis itu? Tidak bisa di biarin nih, gue akan kesana.


Menghampiri mereka dan menarik kursi di sebrlah Jey. "Hay Jey, senang bertemu kembali di sini."


"Eh Rik, gue kaget tau gak! Iya kamu sama siapa datang kemari"?


"Sama Willa!"


Melalakkan matanya sesaat terhenti mengunyah nasi di dalam mulut. Berdiri dan melihat ke segala arah, berharap sekali melihat sosok gadis yang bernama Willa.


"Rika, dimana Willa?"


"Hahaha, segitunya takutnya ya kamu?"


Sementara Ana hanya terdiam menikmati pembicaraan mereka berdua. Dia memang tidak mengenal gadis yang datang tiba tiba ini. Ketika menyebut nama Willa, Ana percaya kalau dia salah satu teman dari orang yang di cintai Jey.


"Rik, lo lagi becanda ya?" Tanya nya kemudian mendudukn dirinya ke tempat semula. Menatap Rika yang terlihat santai dengan melipat tangan di dada.


"Yang lo pikir Willa bisa sampai kesini?"


Cewe baru ya?" Tanya Rika melirik gadis yang juga tersenyum manis padanya.


"Aa ini Ana, dia temen se kampus ku."


Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing - masing. "Bagaimana dengan kuliah mu Rik?"


"Lancar, rencana libur semester ini gue mau balek ke Indonesia Jey."


"Jangan bilang karna Reno ya?"

__ADS_1


"Hehe, itu juga masuk alasan kedua."


Akhirnya Rika ikut bergabung makan bersama dengan mereka. Bercerita mengenai kuliah masing masing. Dari sudut pandangan Ana, Rika bisa melihat kalau gadis itu juga punya perasaan terhadap Jey. Dari cara pandang, dari cara ingin tau dan semua tidak lepas dari kepekaan Rika.


__ADS_2