
Maaf ya gaes, dari awal masih banyak typo, tetap dukung kisah mereka ya!
Selamat membaca..!!
*/*/*/*/*/*/*/*/*/*/
"Ada apa?" kata Rika saat menerima panggilan dari Jey.
"Apa bener Willa akan ke Amerika?"
"Udah lah Jey, mau dia kemana kek, itu bukan urusan lo!"
"Rik, ayo lah! Kapan dia akan datang? lalu kenapa sama sekali tidak mengabari ku?"
"Hello..., emang lo siapa ya? pacar bukan, calon bukan, jadi lo gak usah tanya apa pun lagi tentang dia."
"Rik, lo kenapa sih? kok jadi marah sama gue?"
"Masih baik gue marah, padahal pengen banget gue cincang lo sama pacar lo yang resek tu.
Penggilan terputus.
.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian
Memandang lekat foto gadis berwajah cantik yang selama ini dia cari. Morgan menyimpan foto itu pada ponsel nya.
"Woii lagi liatin apaan sih kak?" Tanya Arin menarik ponsel nya.
"Uhhh, apaan sih Rin, balikin ponsel ku!"
"Waauu, siapa ni cewek? cantik juga! Apa dia yang bernama Willa?"
"Mm!"
Merampok ponselnya kembali dari tangan Arin. "Gue mau liat bentar doang!"
"Gk boleh, nanti ponsel gue rusak!"
"Idih pelit amet sih lo. Mm.." Sambil mendudukkan bokongnya disamping Morgan. "Aku kepingin banget jadi kak Willa deh kak. Selain cantik, dan dia juga bisa mengikat hatimu."
__ADS_1
"Lebih baik jadi diri sendiri Rin! Kamu gak bakalan bisa ngikutin sifat orang."
"Iya sih, tapi aku juga mau disayang sama seperti kak Willa." Katanya sambil menatap Morgan yang tidak berpaling dari ponselnya.
"Aku sudah menyayangimu seperti adik ku sendiri!"
"Tapi aku mau nya lebih!" Katanya tersenyum imut menghadap wajah Morgan.
"Sudah lah, pergi sana, aku mau bekerja!"
"Nanti dulu deh kak, aku masi pengen tau tentang kak Willa. Apa kalian sudah pernah berjumpa selama ini?"
"Belum! Berdiri lalu mengacak rambut Arin, "Hei, anak kecil, jangan terlalu kepo urusan orang dewasa ya! Kemudian pergi meninggalkan Arin yang tengah bete dengan Morgan.
"Hei, pak dokter, gue bukan anak kecil ya!"
.
.
.
Kobaran api yang membakar setengah dari rumah warga akibat jatuh nya pesawat di desa dan juga mengakibatkan Ratusan penumpang tewas dan sebagian masih dapat di selamatkan. Pihak yang berwajib kini tengah sibuk melakukan penyelamatan. Dengan perlengkapan alat medis yang sangat minim, mereka menghubungi rumah sakit lainnya untuk ikut serta membantu penyelamatan pasien.
Sesaat terpaku dan menganga ketika melihat seorang wanita paruh baya dengan bercucuran darah pada area wajah dan kepalanya. "Tante?"
"Willa?" Dengan suara pelan dan ingin mengangkat tangannya namun tidak bisa. Willa segera membawanya untuk mendapatkan perawatan.
"Tante bertahan lah!"
"Dokter,"
panggil Willa dengan paniknya memanggil mereka yang sedang memeriksa pasien lainnya.
"Denyut nadinya mulai melemah, ayo segera bawa masuk! kata dokter saat memeriksa tante Olive. Willa melepaskan genggaman erat tangan mami Olivie.
"Tante, bertahan lah!"
"Maaf mbak, tolong sampaikan ke pihak rumah sakit lainnya untuk segera mengirim peralatan operasi!" Kata seorang dokter ke atasan nya.
Beberapa menit kemudian, beberapa heli mendarat di lapangan yang sedikit luas. Para dokter segera menurunkan peralatan medis dan segera membawanya ke sebuah ruangan lebar penanganan.
Sibuk melakukan operasi, sibuk melakukan pemeriksaan, mereka melakukan tugasnya masing-masing tanpa mengenal lelah.
Sang surya sudah mulai menampakkan pancaran cahayanya yang terlihat indah di langit. Berbeda dengan hati orang yang ada di sana, hatinya begitu hancur.
Beberapa pihak luar, baik dari pihak keluarga, pihak pengamanan, dan juga yang menyalurkan makanan sudah tiba di lokasi.
__ADS_1
"Dokter, bagaimana keadaan mami saya?" tanya Jey menghampiri seorang dokter dengan panik bercucuran keringat pada wajahnya.
"Silahkan tanya pada bagian pelayanan sebelah sana pak!"
"Ayo, Ana!" Jey kamu tenang dulu dong, jangan gegabah begitu! kata Ana menenagkan nya.
"Ee suster, bagaimana keadaan ibu Olivie, apa saya bisa bertemu dengan nya?"
"Pasien sedang di operasi pak, kami berusaha melakukan yang terbaik. Silahkan anda tunggu disana!" Menunjuk ruang tunggu yang begitu sempit.
Duduk dengan lemas menarik rambut frustasi. Begitu juga dengan papi dan Oma yang terlihat sudah lemas disampingnya.
"Sayang, kau harus kuat! Kata papi dengan deru air matanya.
Mereka saling menenangkan, berdoa untuk keselamatan mami Olivie.
"Dokter..., panggi Willa saat membawa seorang lelaki tua yang sudah tidak berdaya.
Para dokter segera membaringkan pasien dan mendorongnya ke ruangan untuk di periksa.
Melihat gadis itu dengan suara yang tidak begitu asing di telinganya. Sangat tidak jelas karena menggunakan penutup wajah juga perlengkapan seragam yang ia gunakan.
"Sepertinya kepala anda berdarah nona," kata seorang suster menghampirinya.
"Iya, sepertinya juga begitu!"
"Ayo duduk, biar saya bantu!"
Willa membuka baju dan juga penutup wajahnya. Terlihat kulit putih yang sudah bernoda goresan darah merah akibat tusukan sisa-sisa badan pesawat yang menimpanya tadi malam.
Membuka pelindung kepala dengan perlahan. Rambut panjang yang lembab berbau amis mulai terurai kebawah.
*Jep, Berdiri sekejap ketika melihat Gadis yang dia rindukan, dia nantikan, sedang berada di depan mata.
Willa*?
"Ini sedikit perih nona, mohon tahan sedikit!"
"Ayo lakukan dengan cepat suster! Oya Bagaimana keadaan nyonya Olivie?"
"Pasien sedang dalam perawatan. Kita harus membersihkan luka anda terlebih dahulu nona," kata suster yang sedang mengoleskan alkohol untuk membersihkan sisa" debu.
"Tidak perlu, saya tidak punya waktu, tolong ambilkan saja perban untuk menutupi lu_k.."
Menggantung kata luka ketika melihat seorang pria yang berdiri dihadapan nya. Hanya beberapa jarak saja yang menghalangi mata mereka.
Sama sama memandang dengan tatapan sayu. Ana berdiri dan memegang tangan Jey untuk mengalihkan pandangan mereka. "Sayang," panggilnya mengelus tangan itu untuk dia bawa duduk kembali.
__ADS_1