
Menunduk saat mereka berada didalam heli menepuk dada dan meneteskan air matanya. Aku bahkan tidak sempat berjumpa dengan mu, aku sangat rindu, aku rindu. Tanpa dia sadari isakan tangisnya membuat mereka yang di sebelahnya melirik.
"Kamu baik-baik aja?"
Menepuk pundak nya dan menghapus air matanya lalu menatap mereka. "Iya, aku gpp kok."
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai pada tujuan. Berlari mengambil posisi bersiap. Jam sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Berjalan menyelusuri hutan masih didalam area perbatasan Arab. Dengan sekejab sekutu menyerang mereka meledakkan ranjau sekitar beberapa jarak tempuh saja.
*/*/*/*/*/*/*/*/
Keesokan harinya Jey dan Ana berencana untuk bershoping di sebuah mol Di Indonesia. Banyak barang yang di beli oleh Ana. "Ana, buat apa barang sebanyak ini?"
Membantu Ana untuk membawa beberapa paperbag. "Aku sudah lama tidak shoping sayang, ya jadi aku pengen borong gaun" nya. Cantik - cantik loh!"
Mengingat Mantan kekasih yang tidak seperti ini. Jey hanya diam dan menyusun barang-barang Ana ke mobil. Mereka berfoto di sebuah tempat, Itu juga Ana yang memaksa
Beberapa menit kemudian Jey mengarahkan mobilnya ke Restoran terbesar milik papanya. Mereka akan makan siang bersama disana. Ketika ingin mencari tempat, Jey melihat Rika duduk sendiri di ujung sebelah kanan. "Ana, itu sepertinya Rika, ayo kesana!"
"Iya Jey."
"Hey Rik," Melambaikan tangan dan menghampiri Rika. "Eh kalian.."
"Kamu sendiri aja Rik? kata Jey menarik kursi untuk Ana. "Aku lagi nungguin Reno Jey, kita gabung aja ya, sebentar lagi dia juga datang."
"Tidak ditawarkan juga kita udah duduk disini," ledek Jey. Mereka saling tertawa.
"Oya gue ke toilet sebentar, nanti kalau Reno telvon, tolong lo angkat, ya!"
Beberapa menit kemudian, suara getaran ponsel Rika terdengar yang terletak di meja. Menggeser layar yang tertera nama ayang beb. Terkekeh geli saat melihat kealayan nama itu.
"Hallo?"
__ADS_1
Reno terkejut ketika mendengar suara Jey dari seberang telvon. "Kok lo yang angkat Jey, dimana Rika?" Lagi di toilet, lo dimana? buruan gih masuk!"
Setelah panggilan terputus, Jey melihat sebuah foto pertunangannya kemarin dengan seorang gadis berseragam tentara. Sambil menunggu Reno tiba, Rika membuka" foto pertunangannya.
Mengerutkan dahinya saat melihat gadis itu. Tampak sangat tidak asing namun berbeda. Memperbesar foto dan melihat beberapa detik tanpa berkedip. fokus dan Menganga ketika melihat foto gadis yang selama ini dia rindukan. Jantungnya berdetak kencang.
Gadis yang sangat kurus, pipinya sedikit menciut bergoreskan noda biru.
Willa? Apa ini bener-bener Willa ku?
"Sayang, kamu lagi liat apa? tanya Ana yang sedang meliriknya sambil membereskan lipsticnya. "Jay..,"panggilnya lagi.
"Aa iya?" Melirik Ana dan segera mengeluarkan foto itu lalu meletakkan kembali ponsel Rika. "Kamu liat apa sih, kok serius amet?"
"Oo itu, tadi aku lagi liat foto pertunangan mereka kemaren."
Mencari sosok Rika, dan melihat Jey dan Ana duduk di ujung sebelah kanan. "Oii, kok kalian ada disini, dimana Rika?"
"Rika lagi di toilet," sambung Ana.
Menatap langit-langit Restoran dan menghembus pelan. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Jey menyapa mami dan papi di ruang tamu. Mereka sedang menonton di televisi sambil bercerita.
Beberapa dari prajurit pembela negara dari Arab yang terluka akibat ledakan bom sekitar pukul 4 subuh tadi. 20 orang diantaranya yang tidak dapat diselamatkan lagi dan 10 orang yang masih dalam perawatan.
"Aduh-aduh itu sangat mengerikan pi. Mami jadi gk kebayang, betapa kasiannya mereka."
Mengingat sesuatu yang dia liat di ponsel Rika, Jey sejenak terbayang mengingat kalau dulu Willa tinggal di Arab. Segera berlalu dari sana dan memasuki kamarnya.
Willa?
"Hallo Jey?"
"Lo lagi dimana Ren, ada yang mau gue tanyakan." Lo mau nanya apa Jey?
__ADS_1
"Tadi gue gk sengaja ngeliat foto kalian dan seorang gadis tentara pada acara kemaren.
Terhenti sejenak dan menghembuskan nafasnya pelan
"Apa itu Willa?"
Tanpa berfikir panjang, Reno mengatakan kejadian kemaren malam saat mereka berjumpa dengan Willa. "Willa titip salam buat lo Jey. Bahkan dia juga belum tau kalau lo dan Ana sudah berpacaran. Kalau melihat kondisi nya, gue jadi mengerti kenapa dia tidak pernah berkabar selama 5 tahun ini. Bahkan kemaren kita sempat tidak mengenalinya. Dia terlihat sangat kurus dan Ya seperti itu lah yang gue liat."
Setelah panggilan terputus, Perlahan mendudukan dirinya dilantai bersandar pada pinggir kasur. Ini sungguh cobaan cobaan yang sangat berat. Meneteskan air mata dan melihat kembali foto itu. Tadi Jey sempat mengirim foto mereka ke ponselnya.
Menatap lekat wajah gadis itu yang memang tidak seperti Willa yang dulu. Meraba layar tepat pada wajahnya. Wajah cantiknya yang sedikit meluntur akibat goresan bekas luka. Semakin deras air mata mengalir, dan seandainya dia tau dari awal, Jey tidak akan membiarkan Willa menjadi seorang tentara.
Tanpa begitupun, Jey sudah berjanji akan membahagiakan Willa dengan caranya.
"Maafkan aku yang telah melukaimu ke sekian kali nya."
*/*/*/*/*/*/*/*
Menyapa mami dan papi dimeja makan adalah kebiasaan yang sudah jarang ia lakukan. "Kamu mau makan nasi atau makan roti sayang?" tanya mami
Melihat menu yang ada di meja makan. ada ayam goreng semur, sayur tumis, dan juga asam manis. "Nasi pake ikan asam manis aja mi!
"Jey kapan kamu akan balek ke Amerika nak? " Mungkin munggu depan pi." Mengangguk pelan dan sejenak menatap Jey yang terlihat loyo. "Oya sayang, Mami liat di sosial media, kamu lagi dekat dengan gadis pilot itu ya? Mm kalau gak salah namanya Ana." Sambung mami dengan semangatnya.
Berhenti sejenak dan menatap Jey yang hanya fokus pada sendokan nasi ke mulutnya. "Jey?" panggil papi.
"Iya pi?"
"Itu tidak benar kan?"
"Loh, papi kok gitu sih, bagaimana tidak benar, orang mami liat sendiri kok. Lagian mami rasa mereka sangat cocok pi. Ana juga tidak kalah cantik dengan Jeslin."
"Jey?"
__ADS_1
"Iya pi. Jey lagi dekat sama Ana." Menunduk dan menghembuskan nafasnya pelan. Maafkan aku pi, ini semua salah ku!