
Hay😊 kembali lagi. Maaf sudah lama tak bersua. Jangan lupa dukung kisah mereka ya!
selamat membaca!!
***
Membereskan semua barang-barang nya dan duduk di tepi kasur. Semua tak selancar yang mereka bayangkan. Morgan mengetuk pintu kamar dan melihat gadis itu menunduk sambil menangis.
"Wil,?" katanya memegang tangan Willa
"Maafkan aku, sudah membuat mu menangis. Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya."
"Morgan, apa mungkin kita bisa bersama?"
"Pasti, aku harap kamu bersabar, ya! Aku akan bicara baik-baik dengan kakek."
"Morgan, bisa Kah kamu antar aku ke bandara?"
"Wil?"
"Sudah lah, ini bukan waktu yang tepat untuk kita bertunangan. Ayo, aku mau pulang!"
"Tidak. kita harus selesaikan masalah ini dulu dengan kakek."
"Aku tidak bisa ikut campur dengan masalah keluargamu. Aku sudah katakan dari jauh hari jangan terlalu terburu-buru."
Beberapa kali Morgan mencoba untuk menahan tangan Willa yang sibuk mengemasi perlengkapannya. Kali ini dia bener-bener ingin pergi dari hadapan Morgan dengan keluarganya. Hatinya sangat bergejolak sejak awal ketemu dengan Argo Ziko. Ingin sekali ia hajar keparat itu. Setelah selesai, Willa berpamitan ke mama Morgan.
Awalnya mama menahan nya, namun alasannya begitu tepat karena pekerjaan yang mendesak.
Ketika ingin keluar dari ruang tamu, mereka berpapasan denga Argo dan juga mamanya. "Oh, mau pulang, ya? sebentar deh, gue mau ngomong, Mor."
__ADS_1
"Morgan, ayo aku tidak punya waktu banyak." jawab Willa.
"Iya. Nanti saja, mas."
"Gue mau ungkapkan kebenarannya, Mor."
"Morgan, ayo."
"Lo mau kemana, aa?" bentak Argo ke Willa.
"Mas! Gue gak suka ya, lo ngebentak Willa."
"Ada apa ini?" kata mama dan papa menghampiri mereka.
"Tepat sekali, aku mau bilang sama kalian semua." ucap Argo melirik Willa dengan tajam.
"Dan ini adalah pertimbangan buat lo, Mor. Bahwa gadis yang sangat lo cintai ini_" sejenak menghentikan ucapannya. "Adalah seorang pembunuh."
"Lepasin gue. Lo tanya sendiri sama dia. Dia adalah tentara yang hampir membuat nyawa gue melayang." tunjuk Argo ke wajahnya
"Kurang ajar kamu, ya, Plakkk!" sebuah tamparan mengenai wajah cantiknya. Mama Argo berusaha untuk menyerang nya,namun tangan Mogan menghalangi itu. Ia tidak berbicara, tapi sesaat hatinya termakan oleh kata-kata Argo.
"Apa benar, Wil? Apa benar kamu yang sudah membuat mas Argo celaka?" suaranya memenuhi ruangan tanpa melihat Willa.
"Morgan_"
"Jawab!"
"Morgan, pelankan suaramu! Kita bisa tanyakan ini baik-baik ke Willa." sambung papa.
"Pergi kamu dari sini!" Usirnya tanpa melihatnya.
__ADS_1
"Tidak, Morgan. Enak saja km melepaskan gadis ini begitu saja. Saya selaku ibunya merasa keberatan atas kasus beberapa bulan lalu menimpa Argo. Dan saya akan menindak lanjuti kasus ini."
Hatinya sudah mulai merasa bergejolak. Ia tatap Argo dan mendekat. "Jika aku mempunyai kesempatan kedua, aku akan melenyapkan mu dengan tangan ku sendiri." Ia hampiri kembali mama Argo.
"Silahkan, saya tunggu anda di jalur hukum!"
"Morgan, Apa kau tau? aku tidak begitu suka bersanding dengan keparat itu. Ini adalah kartu nama saya, saya akan tunggu tuntutan mu di jalur hukum."
Ia lempar sebuah kartu nama miliknya ke hadapan Argo dan segera menarik kopernya. Tidak ada satu orang pun yang bersuara pada saat itu. Begitu juga dengan Morgan, dia hanya melihat punggung gadis nya yang sudah berlalu dari hadapannya. Disatu sisi ia tidak ingin Willa pergi sebelum meraka mendapat restu dari kakek. Sementara di sisi lain, ia kecewa dengan kejadian yang sudah menimpa sepupunya.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dengan cuaca yang tidak baik. Willa sudah duduk di kursi bandara menunggu keberangkatan pesawat yang sedang di tunda. Ia sungguh ingin pergi dari kota ini.
"Krukkkk!!" bunyi perutny sudah mulai berseru. Ia lupa, dari siang ia belum mengisi perutnya akibat perdebatan tadi. Segera ia cari toko kue di tempat itu. Ketika ingin meraih ponsel di dalam saku, ia tidak sengaja menabrak seseorang di hadapannya.
"Auuu...!!"
"Maaf, maaf mbak, saya tidak sengaja."
ucap lelaki itu.
Suara itu?
Ia, suara yang tidak asing baginya.
"Mbak?"
Perlahan ia menoleh pada lelaki itu. Tidak salah lagi, dia adalah lelaki yang pernah mengisi hatinya. " Willa?"
"Bang, Jey?"
__ADS_1