
Diharapkan kepada tim pengaman untuk segera kembali.
Seseorang yang berdiri di balik pintu tengah mengamati gadis yang sangat ia rindukan. Seakan akan hatinya hancur melihat gadis itu terluka. Timingnya tidak begitu tepat.
Mengambil obat luka dari tangan suster dan meneteskan pada kepalanya. Memejamkan mata dan merasakan perih di bagian luka lalu mengikatnya dengan perban.
"Bukan seperti itu nona, biar saya bantu!"
"Auuuuu.." Ringisnya saat merasa pusing di bagian kepala. "Biar saya bantu nona!" Belum sempat membersihkan luka pada bagian lengan, panggilan kedua sudah menghentikan acara pengobatan. Willa segera mengambil baju nya dan memandang lurus kedepan melihat Jey yang sedang di rangkul oleh seorang gadis di sampingnya.
Beranjak pergi dari tempat itu.
Apakah aku harus bahagia dengan perjumpaan ini? Air matanya menetes membasahi pipi yang bernoda itu.
Menunduk dan meremas rambut frustasi. Ini sungguh menyakitkan baginya. Andai saja dia lebih bersabar menunggu, mungkin sekarang dia bisa memeluk gadis itu dalam dekapannya.
Beberapa jam sudah berlalu, mereka bergantian menunggu mami Olive di ruangan itu. Melirik setiap petugas yang datang dan Berharap dapat melihat kembali gadis itu.
Hari sudah menunjukkan pukul 18,30 wib, Jey menyuruh supir untuk menjemput oma ke lokasi. Sementara Ana yang berusaha keras tetap ingin menemani Jey juga disana. Bukan khwatir terhadap calon mertuanya, namun takut akan kehilangan sang pacar.
Berbaring terlentang ditanah dengan merilekskan diri untuk istrahat sejenak. Sudah beberapa hari ini mereka tidak sama sekali berani memanjakan dirinya berguling di kasur.
Tanpa berbicara, mereka memejamkan matanya sejenak tanpa ada pikiran yang melelahkan otak nya. "Willa, sepertinya kepala mu terluka," kata Danie mengguncang tubuh Willa dengan pelan.
"Mm.."
"Aku akan memanggil tim medis!"
"Tidak perlu, aku yang akan kesana!" Ayo bersihkan diri kalian, kita akan bergantian was was dengan yang lain! Malam ini kita bisa istrhat memulihkan tenaga untuk melanjutkan aktifitas besok pagi." katanya bangkit dari tempat itu.
Setelah membersihkan diri, Melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air kompres. Kepalanya sungguh terasa sangat berat, suhu tubuhnya sudah mulai menggigil. Sejenak ingin mengambil bowl, seseorang mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna putih.
Mengerutkan keningnya dan perlahan membalikkan arah tubuhnya. Melihat seorang pria gagah yang menatapnya sayu. Menutup mulut dengan kedua tangannya, seakan akan itu sebuah mimpi melihat pria ganteng yang berseragam putih.
"Morgan?" Panggilnya pelan
Mengangguk dan bersikap gagu. Sejak selesai bertugas, Morgan berusaha mencari keberadaan Willa dan berusaha mendekati gadis itu.
"Aaa, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu lagi! Apa kamu masi mengingatku?" Tanya Willa memegang lengan Morgan
"I_iya aku masi mengingatmu!"
Tanpa sadar Willa memeluk Morgan yang kini terdiam kaku. Jantungnya berdebar seketika tubuhnya saling bersentuhan.
"Morgan, aku sangat merindukan mu! Tanpa menjawab, Morgan perlahan melepaskan pelukkannya. "Aa Willa, kamu terluka, aku akan mengobatinya. ucapnya terbata bata
Morgan dengan mantap mengobati luka dibagian kepala juga tangan Willa. "Morgan, aku tidak nyangka, kamu akan jadi dokter profesional seperti ini." katanya memecahkan kecanggungan mereka.
Tangan Morgan mulai bergetar ketika beralih mengobati tangan Willa. "Aku juga tidak menyangka kamu menjadi gadis sehebat ini. Mengucapkan tanpa melirik dan sibuk memberikan obat merah di lengannya yang robek.
"Sttt, " Memejamkan mata dan meremas tangan Morgan merasakan perih luka yang mengaga.
"Morgan, kenapa tangan mu yang bergetar?" katanya melihat tangan Morgan mulai bergetar ketika Willa memegang tangannya.
" Aa tidak apa". Willa, sepertinya badanmu sedikit panas, tunggu, disini aku akan ambilkan obat penurun demam. Jangan kemana mana!"
__ADS_1
Beberapa menit lalu Morgan juga sempat bertemu dengan Jey dan Ana disana. Mereka saling berjabat tangan layaknya seorang teman dan melupakan semua masa lalu yang pernah terjadi diantara keduanya.
Melihat Ana disampingnya, Morgan merasa ini adalah kesempatan besar baginya untuk dekat kembali dengan Willa.
Morgan kembali dengan dua plastik tentengan di tangannya dan Duduk kembali disamping Willa. "Ini, kamu makan dulu! memberikan beberapa makanan Jerman yang sengaja ia stok untuk beberapa hari kedepan.
"Ini banyak sekali, ini beneran semua buat aku?"
Willa mulai membuka bungkusan snek itu dan, "Wah, sepertinya ini sangat enak!"
Mencoba dan mengunyah dengan pelan. "mmm.." Membuka bungkusan kedua dan menyantapnya dengan lahap.
Tidak lepas dari pengamatan Morgan. Tidak berani berbicara dan hanya melihat gadis yang disampingnya menikmati makanan itu penuh di mulutnya.
"Morgan, kamu mau?"
"Tidak, makan lah!"
Membuka bungkusan ketiga dan sesaat Willa terdiam dalam kunyahan nya. "Ck, selama 5 tahun ini, aku bahkan tidak pernah menikmati
rasa makanan senikmat ini!"
Mengingat sejenak orang yang berada di dalam sana, yang baru ia temui tadi siang. Kini membuat air mata bening itu mulai mengalir. Dia sendiri bahkan tidak berani berjumpa dengan ku dan tidak menanyakan kabarku.
Melihat gadis itu sedang merenung dan menangis, "Tidak baik menangis didepan rezeki!"
"Aa maaf, aku hanya terharu saja!"
"Ayo minum obat mu! Memberikan obat itu ketangan Willa.
Willa, kamu terlihat sangat cantik.
"Oya, bagaimana di Jerman? apakah sungguh menyenangkan?"
"Aaa biasa saja."
Melirik Morgan yang terlihat gagu saat berbicara padanya. Morgan kok jadi pendiam begini sih? aku kan bingung mau ngomong apa lagi.
"Wil, pakai ini, kamu pasti kedinginan!"
Memberikan minyak angin conicare.
"eh iya, kebetulan sekali aku sangat suka dengan minyak anginnya. Mm enak juga ya di perhatiin sama kamu. Baru aja ketemu, udah kasi makanan, obat, dan juga ini!" kata Willa berusaha meledek Morgan.
"Pacar kamu pasti beruntung dapat cwok sebaik kamu."
"Aku belum punya pacar."
Mengerutkan dahinya kemudian tertawa. "Apa? cwok seganteng kamu tidak punya pacar?"
"Aaa aku menunggu seseorang!"
Katanya terbata bata meremas jarinya yang sudah mulai dingin.
wkwkkw apa dia bener-bener Morgan?
__ADS_1
"Oh ya? Lagi nunggu siapa sih?"
Katanya mencolek lengan Morgan dengan lembut. Astaga gue kok jadi gerogi begini sih?
Tenang Mor, lo harus tenang!
"Morgan?"
"Aa iya Wil?
"Kamu lagi nunggu siapa?"
"Ada, seorang gadis!"
Apa gue harus bilang sekarang ya? ah rasanya mulut gue sangat susah untuk mengungkapkan nya.
Willa hanya tersenyum menatap Morgan yang terlihat gelisah. Morgan kok jadi salah tingkah begini sih? menekan perutnya dan menahan tawanya.
Beberapa saat mereka hanya terdiam dan tidak tau harus bertanya tentang apa lagi. "Morgan, kamu ingat gak, aku masi punya utang banyak waktu SMA!"
"Utang apa?"
"Ya, waktu itu kan kamu yang ngebantu aku buat bangun restoran mixwhite. Coba liat deh, menunjukkan ponselnya ke hadapan Morgan."Aku sudah punya tabungan buat bayar utang ku sama kamu!" Memcoba tersenyum menunjukkan kartu miliknya.
Morgan melihat kartu itu dengan jumlah isi nya. Menatap Willa dengan tatapan kosong.
"Emm mungkin ini tidak seberapa, sebagian isinya sudah ku gunakan. Tapi ini hasil kerja keras ku selama bertahun lamanya.
Dan, aku berharap kamu akan menerimanya.
"Ini rasanya manis loh, sama kayak aku!" katanya mulai membuat lelucon.
"Willa, Mencoba mengegam tangan Willa membawa ke pangkuannya. "Aa_aku sangat merindukan mu. Aku sudah lama mencarimu, aku sama sekali tidak menginginkan uang itu.
Mengambil tangan Willa dan meletakan tepat pada dadanya. "Tapi hati ku sangat menginginkan mu, sangat ingin menyayangi mu." ucapnya dengan gagu.
Mungkin ini saatnya aku mencoba membuka hati untuk nya.
"Mungkin aku tidak mengerti dengan yang nama nya cinta, tapi aku ingin belajar bersama mu. Aku akan berusaha membuat mu bahagia." Willa bisa merasakan tangan nya sudah mulai bergetar dan berkeringat.
Menunggu jawaban dan menatap Willa dengan mata serius.
"Willa, apa kamu mengizinkan ku untuk menyayangimu sebagai kekasih?"
"Morgan, aku sangat takut jika pekerjaan ku_ "Aku tidak keberatan dengan tugas mu!" potong Morgan
"Apa kamu yakin bisa membuatku bahagia?" tanya Willa mulai tersenyum.
"Iya, aku akan berusaha membuat mu bahagia setiap hari!"
"Kamu gk jago gombal ah, bagaimana bisa kamu membuat ku bahagia, sementara aku dan kamu memiliki jarak."
"Ya, aku akan melakukan cara apapun meski kita saling jauh!" Oh ya? dengan cara apa coba?"
"Ada! Mm apa aku di terima?"
__ADS_1