
Mereka sudah duduk dan memulai sarapannya. "Ini semua, Willa yang masak loh!" kata mama tersenyum.
"Sangat enak! Oya, kakek mau bertanya nak, Willa!"
"Silahkan kek!"
"Apa kamu seorang dokter, sama seperti Morgan?"
"Mmhh, tidak kek!" sedikit melirik lelaki itu."
"Lalu apa pekerjaan kamu?" sambung bibi Ina (mama Argo) Sementara Argo sudah menusuk nusuk daging di piringnya.
"Aku seorang tentara, kek!"
Mereka serentak melihat Willa dan Ina menjatuhkan sendok makannya ke piring. Kakek memandang Morgan yang hanya biasa saja.
"Mbak, Apa kamu tidak memberitau Morgan mengenai aturan di keluarga besar kita?" kata Ina ke mama Morgan.
"Ina, tolong jaga sikap mu!"
Semua orang disana menghentikan makannya. Sementara Morgan memegang tangan Willa di bawah sana.
"Mm, Willa, selama ini kamu bertugas dimana? tanya kakek lagi.
"Di kota Xxx kek."
Mengingat kejadian yang menimpa putranya beberapa bulan lalu di kota itu, Ina langsung melajukan pertanyaan. "Apa kamu tau kejadian beberapa bulan lalu disana, putra saya hampir tewas oleh seorang tentara."
__ADS_1
"Ina, kenapa kamu membahas masalah itu disini?" papa Morgan
"Kali aja dia tau, mas!" ucapnya cuek
"Lantas kalau dia tau, kamu mau apa, Ina?" sambung mama.
"Mbak, sampe sekarang aku itu gak terima atas perlakuan mereka ke Argo. Nyawa anak aku hampir melayang, mbak."
Suasana di ruang makan itu sudah semakin canggung. Sesaat Mereka saling melirik, "Sudah, sudah! Tidak baik berdebat di depan makanan." potong kakek.
"Iya tante, lagian kita berkumpul disini untuk membicarakan pernikahan kami." Morgan
"Morgan, tante hanya ingin tau. Lagian, tante rasa Willa tidak keberatan memberitau tentang kejadian itu, kan?" melirik Willa.
Wauu, sepertinya suasana semakin menarik, nih! batin Argo.
Dengan cepat dia menjawab. "Maaf, tante, itu adalah sebuah privasi dalam pekerjaan saya.
"Ck, lihat itu Morgan, belum apa-apa dia sudah menyembunyikan hal yang perlu kita ketahui, sebentar lagi kamu yang akan di sembunyikan dari dunia ini."
"Ina, tolong jaga bicaramu!" kata papa lagi.
"Sudahlah, mas. Kamu jangan bela-bela dia. Aturan Di keluarga kita harus menikahi orang yang sederajat."
"Cukup, tante!" kali ini Morgan yang angkat bicara. "Jangan mencampuri kehidupan ku! Aku tidak meminta restu dari kalian. Jadi kalian hanya perlu mengetahuinya saja. Jika kalian berkenan untuk hadir, ya silahkan! Jika tidak, itu juga tidak masalah bagi saya!" ucapnya tegas.
Semua mata memandang Morgan dengan kejutnya. Dia bahkan tidak butuh restu dari orang yang tidak menginginkan pernikahannya terjadi. Ia hanya perlu restu dari kedua orang tuanya. Ya, sudah jelas mama dan papa nya merestui mereka. Jadi itu sudah cukup baginya untuk melanjutkan acara selanjutnya.
__ADS_1
Kali ini kakek yang angkat bicara, "Morgan, apa yang kau katakan? apa kau tidak menghargai kakek disini?"
"Maafkan saya, kek!"
Menatap Morgan sejenak. "Apa kau sudah yakin dengan pilihanmu?"
Menatap Willa dan menggenggam tangan nya, "Iya, kek!"
"Baik, lah. Kakek juga merestui kalian, tapi dengan satu syarat!" menggantung kata-katanya dan melirik Willa.
"Willa harus berhenti dari pekerjaannya!"
Prengg...!!
Suara riang sendok sudah ia jatuhkan ke piring. Sama-sama terkejut dengan perkataan kakek. Ia remas ujung roknya dan mengepal tangannya. "Kek, itu sungguh gk mungkin!" kata Morgan berdiri.
"Morgan, duduk! Ini sudah menjadi keputusan kakek. Jika dia tidak mau," masih menatap Willa yang sudah menunduk. "Maka kakek tidak bisa merestui kalian."
"Pa_" sambung papaMorgan.
"Diam, kamu! Apa kau tidak mengatakan pada Morgan tentang peraturan di keluarga kita?"
"Maaf kek, kali ini Morgan tidak mengikuti printahmu. Aku akan tetap menikahi Willa tanpa harus menunggu restu dari mu!"
Menatap Morgan yang sudah ingin menarik Willa, "Baik, lah! Jika itu keputusan mu, jangan salahkan kakek jika harus menendang mama dan papa mu keluar dari keluarga kita. Semua saham yang mereka gunakan, akan kakek tarik tanpa ada yang tersisa."
"Pergilah, bawa gadis yang kau cintai itu!"
__ADS_1
Semua orang yang ada disana melalakan matanya kecuali Argo yang tersenyum licik. Bagus, kek. Memang seharusnya begitu.