
Mereka sampai di Jerman sekitar jam 11 malam. Hanya ada papa dan mama yang menyambut mereka. Awalnya Willa sangat terkejut melihat papa Morgan. Mengingat beberapa tahun lalu yang di lakukan lelaki tua itu padanya. Namun Morgan mampu menenangkan hatinya yang terlihat cemas. Lelaki tua itu juga sudah meminta maaf padanya saat mama sedang berada di dapur menyiapkan makan untuk mereka.
"Sayang?"Muncul dari dapur dan mengajak mereka untuk mencicipi makanan buatannya. "Kalian pasti kelelahan, mama sudah menyiapkan makanan buat kalian. Ayo, sayang silahkan makan!"
"Terimakasi, tante!"
Tersenyum dan menyodorkan sepotong kue ke mulut Morgan. "Ma, Apaan si? Morgan bisa ngambil sendiri." ungkapnya
"Eits, kamu pasti malu kan, sama Willa?"
Tersenyum canggung ketika Willa sudah memberikan kode menatapnya. "Willa, ayo makan sayang!"
"Oya Morgan, besok pagi keluarga besar kita akan datang. Nah, mama akan membicarakan tentang pernikahan kalian ke mereka."
"Uhukkk...uhuukkk!" Tersedak dan menerima air minum dari tangan Morgan.
"Pelan-pelan dong, sayang. Aku tau kue buatan mama enak sekali!" ledek Morgan yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tau kalau gadis itu belum menginginkan pernikahan.
"Mm, tante!" katanya mulai bicara. "Aku dan Morgan_
"Iya ma, kita juga udah sepakat, kok mau menikah bulan ini," potongnya. Mereka saling bertatapan muka. Ia tau wajah Willa saat ini sudah berbeda dari sebelumnya. Namun Morgan tetap menjalankan keinginannya. Ia ingin secepatnya bersatu dengan Willa.
"Morgan, aku belum selesai bicara!" ungkapnya dengan kesel.
"Udah, sayang! Biar aku aja yang ungkapkan semua nya pada mama juga papa."
Morgan, ingin sekali ku cabik-cabik tu mulut.
Morgan tidak mengizinkan Willa berbicara sepatah kata pun mengenai kelanjutan pertunangan mereka. Mama dan papa bahkan sudah menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang berlebihan itu.
"Morgan, anter Willa kekamarnya, sayang."
Waduh, gawat nih! Gue pasti di semprot cerewetnya.
"Mm, ma, Morgan kebelet pipis nih, mama aja yang anterin ya, daa...," katanya langsung berlari ke lantai dua.
Kurang ajar ya! Dia pasti sengaja mau kabur.
__ADS_1
Setelah berada di kamar, Willa segera membersihkan dirinya. Beberapa menit berlalu, ia duduk di pinggir kasur dan mengambil ponselnya.
~Besok, Dandan yang cantik ya, sayang! Good night, muuaahh😍😍😘, pesan singkat dari lelaki itu.
~Segampang itu ya, ngomong! Kamu liat aja besok!
Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku akan menikah? Ini sungguh di luar dugaan. Kenapa sih, Morgan ngebet banget!
Setelah sekian lama berfikir dan berguling-guling di kasur, Willa akhirnya jatuh kedalam mimpinya.
**
Suara alarm nya yang terdengar nyaring membangunkan gadis itu. Yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ia bangun dan membersihkan diri. Lalu ia pergi kedapur dan melihat beberapa pelayang yang sedang sibuk menyiapkan makanan.
"Pagi, nona!" sapa pelayan itu
"Mari, saya bantu!"
"Tidak usah non, ini sudah menjadi pekerjaan kami. Kalau nyonya tau dia bisa marah."
"Gak apa-apa kok, nanti biar saya aja yang bicara sama tante."
Ketika sudah sampai di depan dapur, Ia melihat tubuh langsing yang sedang menuangkan sup daging ketempatnya.
"Willa?" panggilnya mendekati Willa. "Kamu ngapain, sayang?"
"Aa ini tante, Willa lagi memasak!"
"Waahh, ini kamu semua yang masak, sayang?"
Mengangguk dan menarik kursi untuk mama duduk. "Mm, jadi laper, Ini pasti enak!"
"Willa masak sebisanya aja, tante!"
"Morgan memang jago memilih calon mantu, selain cantik, pande masak lagi."
"Tante bisa aja."
__ADS_1
"Ayo sayang, kamu mandi gih! Kakek kamu akan tiba sekitar pukul 7 pagi ini. Kita akan sarapan bersama disini. Dan mama juga sudah menyiapkan baju untuk kamu pakai."
"Apa harus berdandan, tente?"
"Iya dong, sayang."
"Tapi, Willa gak pandai berdandan!" ucapnya malu-malu."
"Biar mama aja yang ngedandanin kamu."
Jam pun sudah menunjukkan pukul 7. Mereka sudah berada di depan gerbang menyambut sang kluarga. Sudah terlihat mobil mewah memasuki gerbang utama. Morgan mendekati Willa dan tersenyum. Ia rangkul pinggang gadis itu di belakang.
"Selamat datang pa!" salam dari mama.
"Iya, iya.." kata kakek tersenyum.
"Cucu kakek, kah?" Morgan meraih tangan kakek dan memeluknya. "Bagaimana, kabar kakek?"
"Seperti yang kau lihat, nak!
"Ini?" tunjuk kakek pada nya. Willa juga memberi salam dan tersenyum manis. "Hallo, kek!"
"Wah, cantik sekali."
Mereka sudah bersalaman dan ada seorang pria yang di belakan bibinya belum ia salam. Lelaki itu ialah sepupu Morgan yang berjalan ke samping kakek.
"Argo, ayo kenalan sama Willa!" suruh kakek.
Willa langsung mengalihkan pandangannya dari bibi dan melihat Argo. Deg.. jantungnya berdebar ketika lelaki itu tersenyum licik padanya. Akhirnya musuh sudah didepan mata. Ia lihat Morgan yang kini memegang tangannya. "Sayang, ini Argo sepupu aku."
Argo ziko? sepupu?
Ia sungguh terkejut berjumpa kembali dengan Argo. Apa Morgan tidak tau tentang pekerjaannya?
"Sayang, ada apa?" Tidak di jawab.
"Calon bini lo nih, Mor? cantik ya!"
__ADS_1
"Iya, mas!" Ada apa dengan Willa? kenapa dia terkejut ketika melihat Argo?