
Author sangat meminta maaf sebab awal dari cerita ini masih banyak typo. Author akan berusaha pada bab-bab selanjutnya akan menulis dengan baik. Jangan lupa tetap dukung kisah mereka ya gaes. Tinggalkan jejak like, vote kalian😊. Selamat membaca!!
*/*/*/*/*/*/
Sang surya kini mulai memunculkan pancaran sinarnya menyinari bumi. Dengan segera kami akan melanjutkan tugas yang tertunda kemarin. Aku memberikan pengarahan ke pada tim untuk segera membereskan tulang-tulang badan pesawat. Kejadian ini sungguh menyisakan kisah yang berbagai macam. Aku tidak tau harus sedih atau bahagia.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, aku duduk sambil menundukkan kepala ku yang terasa berat. Akibat luka yang masih membekas kemarin, tenaga ku terasa gampang capek. Aku membuka pelindung kepala ku dan rambut panjangku sudah terurai kebawah tidak beraturan. Keringat yang bercucuran di pipi kotorku semakin derasnya mengalir.
"Willa.." panggil seorang lelaki menghampiri ku, yaitu Adi.
"Ada apa?" kataku tanpa menoleh padanya.
"Ada seorang dari pasien yang ingin bertemu dengan mu. Mungkin dia akan di bawa ke rumah sakit kota siang ini.
"Siapa?"
"Siapa ya tadi nama nya, kalau gk salah ibu Olivie."
Aku langsung melirik Adi dengan tatapan heran. Tanpa berfikir panjang, aku langsung beranjak dari sana dan berjalan menuju ruangan. Sesampai di depan pintu, aku melihat Jey duduk di samping ibunya.
Perlahan aku menghampirinya. "Tante?"
Mereka melihatku dari atas sampai ke ujung kaki. Ibu Olivie mengerutkan keningnya ketika melihat wajah ku. "Kenapa muka mu kotor sekali, Willa?" katanya mulai memegang telapak tangan ku.
"Aa ini, aku baru istrhat dari tugas tante." Aku melirik Jey yang juga menatap ku lekat. "Apa tante memanggilku?"
"Iya, sayang. Hari ini tante akan berangkat ke Amerika," masi berbicara sangan pelan. "Sebelum pergi, tante ingin mengucapkan terima kasih pada mu!"
Aku mengangguk dan mulai duduk di sampingnya. "Aku akan mendoakan agar tante cepat sehat." Memegang tangan nya dan mencium telapak tangan tante Olivie. Deraian air mata tante Olivie sudah menetes di pipinya dan melihat kami secara bergantian. "Tante akan lebih sehat dan bahagia, jika kalian bisa bersama kembali!" Aku menatap Jey yang juga terdiam membisu berdiri di sampingku. Aku mengelus tangan tante Olivie dan, "Kami sudah berjanji menjadi seorang sahabat tante. Dan kami akan bahagia bersama pasangan kami masing-masing!"
Beberapa menit berbicara, tante Olivie dan juga pasien lainnya kini sudah di bawa ke mobil ambulan menuju kota. Sebelum ikut masuk menemani mami nya, Jey membalikan pandangannya ke belakang untuk melihat ku.
__ADS_1
Aku melambaikan tangan ku untuk mengucapkan salam perpisahan. Lambaian itu tidak ia balas, namun air matanya juga mengalir ketika melihat ku sampai jauh.
Kini malam pun sudah tiba. Kami segera bergegas untuk membersihkan diri. Aku mengambil ponselku dan melihat beberapa pesan dari nomor tidak di kenal. Aku membuka pesan itu yang dikirim pukul 8,00 tadi pagi
~Jangan lupa sarapan!"
kemudian beralih ke pesan berikutnya pukul 1 siang.
~Jangan lupa makan siang, dan jangan terlalu menyibukkan diri mu menangisi laki-laki lain. Aku sangat cemburu!
pesan terakhir sekitar 5 menit yang lalu.
~Ayo bertemu di belakang, akan ku ganti perban mu!
Aku mulai membalas pesan singkatnya.
~Iya, 1 jam lagi aku tiba disana.
Aku mengambil anduk serta pakaian terusan yang akan aku pakai. Segera ke kamar mandi dan setelah selasai aku memakai minyak conicare untuk mengurangi dingin yang menusuk kulit telanjangku.
Aku berjalan menuju belakang dapur dan melihat punggung gagah dari lelaki itu.
"Morgan?"
Morgan melihat ku berjalan pelan menghampirinya. "Kaki mu terluka?" katanya membantuku untuk duduk di sebuah batu.
"Iya, sedikit doang!"
" Apa sakit sekali?"
"Gk kok!"
__ADS_1
"Ulurkan tanganmu!"
Setelah selesai mengganti perban di tangan ku, Morgan memberikan sebuah permen. Mungkin aku menganggapnya itu permen, namun kata Morgan itu adalah vitamin C.
"Wil,?"
"Mm..?"
Morgan menatapku dengan tatapan kosong. "3 bulan kedepan, mari kita menikah?" katanya sambil menggenggam tangan ku. Aku sampai melalak dan mengaga. Apa katanya, menikah? Waduhh, ini Morgan serius gak, ya? padahal aku kan cuma ngetes dia doang semalem.
"Morgan, kamu serius?"
"Apa aku terlihat bercanda?"
Mengangkat tangan ku dan meletakkan pada dadanya yang bidang. "Aku ingin menjaga mu dan menyayangimu."
"Tapi tidak secepat itu."
"Aku takut akan kehilangan mu lagi. Dan aku gak mau itu terjadi."
"Aku tidak akan pergi lagi!" kata ku tersenyum padanya.
Perlahan Morgan mendekatkan wajahny Ke wajahku. Dia merapikan anak rambut kebalik telinga ku. "Kamu sangat cantik." Sesaat kami terdiam namun pandangan kami semakin mendekat. Dia mulai memiringkan kepalanya untuk mencium ku. Aku memejamkan mataku dan aku bisa mendengar debaran jantungnya yang tidak karuan.
Sedetik lagi bibir kami akan menempel, namun suara bowl yang terjadi di dapur mengejutkan dan menghentikan Morgan. Kami saling tertawa dan aku mengusap wajahnya lembut.
"Kita pindah ya?" katanya berbisik padaku.
" Pindah kemana?"
"Ada, tempat yang lebih indah disana!"
__ADS_1
"Tapi mau ngapain?"
"Gk ada, aku cuma menikmati suasana malam yang sejut bersama mu."