
Jangan lupa kasi vote ya gaes😀
Selamat membaca!
Mereka kini sudah sampai di sebuah villa terdekat pantai itu. Villa itu memiliki 1 kamar dan ruang tamu yang tidak begitu lebar. Willa mengemasi barang-barangnya yang ada di koper. "Mor, aku jadi ingat villa papa yang di Indonesia." Ucap Willa sambil mengeluarkan baju tidurnya.
"Kalau begitu, kenapa tidak pulang kesana?"
"Aku belum punya waktu."
"Benarkah?" Mendekati Willa dan memeluk pinggangnya.
"Berarti waktu liburan sama aku doang nih yang ada?"
"Ya karena kan gk jauh-jauh juga! menghadap Morgan. "Aku kangen papa sama mama, Mor!"
"Iya sayang, aku mengerti. Nanti kalau kita punya waktu, aku akan nemenin kamu pulang ke Indonesia."
"Mm. Yasudah aku mau ganti baju dulu."
Willa pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Ia memakai terusan dibawah lutut. Sejenak ia terdiam dan bersandar pada dinding kamar mandi. Papa, Willa kangen sama kalian. Air matanya mulai menetes membasahi pipi mulus itu.
Beberapa menit di kamar mandi, Willa kembali ke kamar untuk menyisir rambutnya.
Sedangkan Morgan sedang sibuk memeriksa laporan yang di kirim oleh rs. Namanya saja cuti, namun ia tetap harus bekerja secara online. Melihat jam pada tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, ia kembalu melirik ke kamar.
Willa keluar dan langsung menuju dapur tanpa menyapanya. Wahh, cantik sekali pacar gue!
Membuat dua cangkir kopi dan snek untuk mereka santap sebelum tidur. Ia bawakan copi itu ke hadapan Morgan. "Minum dulu."
"Trimakasi, sayang! Menyerup kopi dengan perlahan.
"Kamu lagi sibuk?"
"Gk kok, sayang." Menggeser posisinya mendekati gadis itu. Menyelipkan anak rambut ke balik telinga. "Sayang, aku ingin mempercepat pertunangan kita."
Mengerutkan dahinya dan tersenyum. "Kenapa sih gak sabaran banget?" Memegang wajah Morgan."
"Mm, tentu saja. Aku ingin cepet-cepet kamu jadi milik ku." Mengecup telapak tangan itu.
"Mama juga pengen sekali ketemu sama kamu. Bagaimana kalau besok kita berangkat ke Jerman?"
__ADS_1
"Kamu suka ngebut-ngebut, ya?" Ia cubit perut Morgan.
"Aauu. sakit sayang! Mau ya?"
"Sayang, aku tidak lama bercuti. Jadi kamu sabar sedikit, ya!"
"Sayang?Tadi kamu bilang apa? aku gk salah dengar kan?"
"Lebay deh kamu!"
"Baru pertama kali nya kamu manggil aku sayang."
"Lalu?"
"Ya senang sekali sayang!"
"Ckk, aku jadi heran deh, dulu kamu gk sensitif seperti ini, Mor!"
"Eitt, panggil sayang lagi dong!"
"Gak mau!"
"Bener gak mau, aa bener gak mau?" Ia gelitik perut Willa sampai gadis itu minta ampun.
"Ngaco kamu!" katanya meraup lembut wajah lelaki itu.
"Gk ngapain-ngapain kok, sayang! Aku cuma pengen peluk-peluk kamu!"
"Nih," melemparkan bantal sofa ke pangkuan Morgan. "Peluk aja itu!"
"Tunggu, tunggu! Ok, aku akan tidur di sini. Tapi temenin bentar lagi ya!" Menyandarkan kepalanya di bahu Willa.
"Gk, aku sudah ngantuk."
"Ayo dong sayang, 10 menit aja ya!"
"Janji 10 menit?"
Mengangguk dan tersenyum menang. Tentu saja maksudnya bukan sekedar nemenin nonton, melainkan bermesraan dengan kekasihnya itu. Ia kini mulai meraba wajah Willa dan mendekatkan posisi mereka. Perlahan menyandarkan kepala gadis itu ke sandaran sofa. Ia perdalam ciuman nya menyelusupkan lidah kedalam rongga mulut sang pacar. Menindih tubuh langsing itu dan menggenggam jarinya. Willa pukul pundak Morgan, karena merasa nafasnya begitu berat. Ia lanjutkan lagi aksi mencium ceruk leher mulus itu.
"Aakk!"
__ADS_1
Morgan menggeser tubuh itu ke tempat yang lebih luas. Sama-sama dengan tatapan sayu menahan hasrat masing-masing. Menyatukan kening dan mulai lagi mencium Willa. Ia bisa merasakan berat tubuh kekar itu menindih bekas perutnya yang sobek bulan lalu.
"Aaauu."
Morgan berhenti sejenak dan menatapnya. "Ada apa, sayang?"
"Sayang, perut aku sakit!"
"Sakit?" Ia segera beranjak dan membuka baju Willa pada bagian perut."
"Aaa, sayang, ini bekas luka."
"Iihh, kamu ngapain sih buka-buka. Aku kan malu." menurunkan bajunya.
Tidak peduli dengan perkataan Willa, Morgan melihat kembali luka itu. Terlihat bekas jaitan yang panjang. Bekas itu bukan cuma 1. Morgan menyuruh Willa untuk duduk dan berbalik. "Kamu mau ngapain, sih?"
"Diam!" Sejenak memejamkan matanya dan, "Maaf!" Ia buka kancing baju Willa dan melihat bekas jaitan panjang di punggungnya.
"Apa-apaan ini, Willa?" suara nya begitu marah. Kali ini dia tidak memanggil dengan sebutan sayang. Gadis yang dihadapannya sampai melalak mendengar kemarahan Morgan. "Morgan, kamu kenapa?"
"Berarti selama ini kamu berbohong pada ku! Setiap aku tanya, kamu selalu bilang baik dan baik. Lalu apa itu?" tunjuknya semakin marah.
Berdiri dan menghadap Morgan. "Sayang, apa yang membuatmu begitu marah?" ia pegang bahu Morgan.
"Aku paling benci orang yang selalu berbohong. Aku hanya tidak ingin kau terluka, tapi sepertinya janji mu padaku tidak bisa kau tepati."
"Hei, kamu kenapa sih?"
"Apa kamu lupa, kamu sudah berjanji pada ku, tidak akan pernah terluka. Lalu apa itu? Aku bener-bener kecewa sama kamu. Tukang boong!" ucapnya lalu pergi mengambil kopernya. "Morgan, kamu mau kemana?"
"Tunggu, Morgan!"
"Lepas, aku tidak ingin bicara dengan mu!"
"Morgan!" teriak Willa saat Morgan keluar dari villa itu sambil membawa kopernya.
"Aaa, apa ini?" tanya Willa terheran heran menarik helaian rambutnya.
Sementara Morgan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju bandara. Sungguh ia kebawa emosi dan juga sangat kecewa.
kecewa sama siapa coba?
__ADS_1
Gila kali ya si Morgan, marah-marah gak jelas.