
Hari ini tim medis akan berangkat ke kota tempat mereka bertugas masing-masing. Keadaan disini juga semakin membaik.
Morgan melirik Willa yang berada pada barisan depan di hadapannya. Mereka akan melakukan perpisahan dan memberi penghormatan bagi tim ralawan.
Setelah barisan di bubarkan, Willa masih berdiri di tempat menatapi Morgan yang sedang mengambil tasnya. Ia tatap mata gadis itu dan menghampirinya.
"Apa kamu bersedih?" tanya Morgan sambil memegang bahunya.
"Ya, tentu saja."
"Aku akan menunggumu di Jerman, seperti janjimu padaku. Jaga dirimu baik-baik untuk ku.
"Mmm, kamu juga!"
"I love you, sayang!" ucap Morgan mengelus pipi gadis itu. Willa hanya mengangguk dan memegang tangan Morgan pada wajahnya.
Mungkin masih sulit baginya mengucapkan kata sayang pada sang pacar, namun ia janji tidak akan mendua dan belajar menyayangi Morgan. Berbalik dan melihat Willa yang masi berdiri di tempat itu dan Melambaikan tangannya.
Ingin rasanya aku membawa mu ikut bersama ku. Tapi aku mungkin terlalu egois untuk menyuruhmu bergenti bekerja.
*/*/*/*/
Jam berganti jam, kini malam sudah menunjukkan gelapnya beserta angin yang bertiup kencang. Willa duduk didepan ruang medis sambil mengotak atik ponselnya membalas chat dari Morgan.
Tidak lama kemudian ponselnya bergetar kembali. Ni anak ya, katanya mau mandi, kok malah nlfon sih. Dia ambil kembali ponselnya didalam saku dan melihat nama 'Ardika'.
Sejenak berfikir, di angkat atau tidak ya?
Positive tingking Wil, batin nya.
~Hay? katanya memulai percakapan dan tersenyum pada lelaki itu.
Jey menatapnya lekat tanpa berkedip. Sungguh dia merasa bahwa mantan kekasihnya itu sangat cantik malam ini.
~Bang Jey? panggilnya lagi.
~Iya Wil?
~Lagi liatin apa sih? kok bengong?
~Gk ada, cuma liatin kamu aja.
~Sepertinya aku baru liat deh, Kamu menggunakan seragam itu, bang. semakin ganteng loh.
~Oh, ya? Seganteng apa? ledek Jey mulai tersenyum.
__ADS_1
~Uuu pantang aja di puji langsung, ya!
~Dari dulu kali gantengnya, Wil.
~Mmm, iya, iya.
Sejenak mereka terdiam dan saling berpandangan. Kenapa hatiku terasa sakit jika melihatnya, batin Willa.
~Bagaimana keadaan tante, bang?
~Sudah lumayan baik, Will. Mmm, bagaimana hubungan mu dengan Morgan? tanyanya gugup.
~Aaa baik, kok.
Willa memikirkan sebuah alasan untuk mengakhir panggilan mereka.
~Willa tutup ya bg, mau absen tugas dulu.
Aku tau kalau kamu berusaha menghindar Wil.
~Ya, sudah. Jaga diri mu baik-baik Wil! Aku sayang kamu. ucapnya mengakhiri panggilan.
Uuff, tahan Wil, ingat kamu sudah punya Morgan.
Jey merebahkan punggungnya ke badan kasur. Mengingat ingat sebuah janji yang dahulu ia ucapkan, dan ia ingkari juga. Ini sungguh menyakitkan bagi batin nya. Usaha dan juga kerja kerasnya terasa sia-sia, karena tidak bisa ia nikmati bersama dengan Willa.
Tok...tok...
"Hay!" kata Ana yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Ada apa, An?"
"Kamu lagi ngapain, sih?" sambil berjalan menghampiri lelaki nya.
"Tidak, ada. Aku hanya rebahan aja. Oya ada apa kamu malam-malam kesini?"
"Aku kangen sama kamu!" ucapnya melingkarkan tangannya ke pinggang Jey.
"Ana, jangan begitu! Tidak enak jika ada yang melihat." Melepaskan tangan Ana dengan perlahan
"Loh, kenapa? Aku ini kan pacar kamu. Oya, kapan sih kamu lamar aku, Jey? Papa kepengen aku cepet-cepet nikah."
Melirik gadis itu dengan tatapan terkejut.
"Kenapa? biasa aja ah mukanya!"
__ADS_1
"Menikah?" ucapnya dengan gagu.
"Iya, menikah."
"Aa Ana, aku belum siap untuk itu!"
"Belum siap, bagaimana? Apa jangan-jangan kamu cuma mempermainkan perasaan aku, Jey?" kata Ana mulai berontak.
"Bukan begitu_"
"Aaa udah lah, aku tau perasaan kamu masi pada gadis itu, kan? Apa sih istimewa nya dia? Dia itu cuma gadis miskin." Ucapnya tanpa sadar dan menutup mulutnya.
Jey menatapnya lekat dan beranjak dari kasur. "Udah, selesai? silahkan kamu keluar!"
"Aaa maksud aku bukan ingin_."
"Ana, tolong kamu keluar!"
"Jey, kamu lebih ngebela perempuan itu?"
"Tidak, Ana! Aku hanya tidak ingin berdebat dengan mu. Dan satu lagi, jangan menghina Willa. Dia sama sekali tidak bersalah atas perasaan ku seperti yang kau tuduh."
"Kalau bukan karna dia, ayo kita menikah!"
Meremas rambutnya frustasi. Sejenak memejamkan matanya dan, "Maafkan aku Ana, berikan aku waktu untuk memikirkan soal pernikahan."
"Seberapa lama lagi, aa? Aku tau apa yang kau pikirkan, Jey. Sampai kapan si kamu menginginkan Willa?. Baik lah, kalau begitu Aku sendiri yang akan bicara padanya."
Mengambil ponsel Jey yang terletak di kasur.
"Ana, kamu mau apa?"
"Aku akan bicara padanya untuk melepasmu."
Berusaha ngerebut ponselnya dari genggaman Ana. setelah melakukan beberapa panggilan, Namun tidak di jawab juga. "Sudah lah, Ana! Aku hanya bersahabat dengan Willa. Dan aku belum siap menikah dengan mu karena aku tidak ingin membuatmu kecewa dengan perasaan ku. Tolong, berikan aku waktu."
"Tapi sampai kapan, Jey? Kita bahkan sudah lama berhubungan, namun hatimu tetap pada gadis itu. Kamu pernah gak sih mikirin perasaan aku?"
"Ana," Memegang tangan Ana dengan perlahan. "Dari awal aku sudah katakan padamu, untuk tidak memaksaku menyayangi mu. Untuk tidak memaksaku membuka hati untuk mu. Karena aku tau, setiap aku melihatnya, hatiku tidak akan tinggal diam menyayangi nya. Dan maafkan aku, sudah membuatmu kecewa.
Par..!!
Satu tamparan tepat pada pipi kanan nya. "Jadi kamu nyalahin aku dengan hubungan kita? Aku benci tau gak sama kamu!"
"Maafkan aku, Ana!"
__ADS_1
"Kamu tidak lebih dari seorang pencundang, Jey."