Menunggumu

Menunggumu
bab 61


__ADS_3

Mengikuti prosedur atau aturan saat melakukan proses operasi itu adalah salah satu yang harus di terapkan oleh seorang dokter. Tanggung jawab terhadap pasien adalah pelayanan yang harus di terapkan. Kata seorang Dr Kosi memberikan arahan pada siswa baru bagian bedah.


Menikmati dan mendengarkan setiap pembicaraannya. Morgan mengambil sebuah video mengenai siklus pembedahan pada bagian perut. Disana banyak tahap tahap yang harus di perhatikan agar tidak terjadi kesalahan.


Setelah beberapa jam kemudian, mahasiswa di izinkan untuk beristrhat mengisi perut untuk lebih memiliki energi atau pun ilustrasi yang bagus saat belajar selanjutnya.


Mengambil ponselnya disaku dan melihat up story terbaru. Mencari di kolom pencarian nama Willa Karina. Terakhir update setelah 9 bulan yang lalu. "Dimana dia?"


Mencari nama Rika yang termasuk salah satu sahabat nya sejak SMa, namun gadis itu juga sudah jarang terlihat bersama Willa. Yang ada malah Rika juga pernah up di storynya kalau dirinya sangat merindukan gadis kurus, tinggi juga cantik yaitu sahabatnya sendiri.


Jujur dengan perasaan sendiri tanpa mengungkapkan pada orang lain atau teman terdekatnya, "Aku sangat merindukkan mu Willa."


1 Bulan yang lalu Morgan sudah mengingat kembali ingatannya yang terkuras 1 tahun yang lalu. Dia mengingat kejadian yang pernah terjadi selama di Indonesia. Bagaimana ntah kenapa dia bisa memasuki fakultas kedokteran. Sungguh tidak masuk akan baginya dulu jika harus menjadi seorang dokter. Tetapi takdir juga tidak bisa ia lawan. Berpasrah dan mengikuti alur kehidupan akan menjadi lebih baik lah yang harus di lakukan sekarang.


Yang terakhir dia melihat saat Jey dan Willa berpelukan di bandara. Sesaat mengalihkan pandangannya dari ponsel namun tetap masih ngotot memandang foto itu kembali. Andaikan dia tidak ilang ingatan, mungkin pada saat itu juga, dia sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Willa.


Morgan berharap takdir akan memberikan kesempatan untuknya bersama dengan Willa yang sudah lama ada di hatinya.


"Morgan... "panggil Riana.


Menyimpan ponsel dan memandang arah gadis itu. Tersenyum biasa dan melambaikan tangannya. Riana membawa dua cup juice orange dan memberikan satu untuk Morgan.


"Terima kasih!"


"Bagaimana keadaan mu?"


Mengerutkan dahinya dengan sorot pandang heran dengan pertanyaan Riana. "Maksud mu?" Kata Dr Egi kamu kurang enak badan hari ini."


"Ah itu tidak benar, mungkin cuma alasan Dr Egi aja buat ketemu sama kamu."


"Ya ampun, aku sampe tertipu dengan manusia itu lagi." Katanya kesel saat meremas cup juice yang hampir habis.


"Morgan, aku denger" dari mama kamu, menjelang libur semester kamu akan kembali ke Indonesia, apa bener begitu?"


"Belum pasti juga."


"Kenapa, dan apa alasan kamu buat pulang kesana? Jangan bilang karena gadis itu?"

__ADS_1


"Gadis siapa?"


"Kamu jangan pura pura bodo deh, aku sudah tau semua, kalau kamu mencintai gadis yang bernama Willa di Indonesia." Katanya menunjuk dengan jari telunjuk ke hadapan Morgan.


"Panjang juga ya layar antenamu."


"Ya sebenarnya aku sih gak tau banget," masih dengan Pandangan lurus kedepan, "kata mama kamu,...."


"Sudah jangan teruskan, aku tidak ingin membahasnya!" Katanya beranjak dari duduknya melajukan perlahan langkahnya menuju ruang praktek.


"Ih, Morgan tunggu! Tu anak ya, kebiasaan banget main ninggalin."


*/*/*/*/*/*/*/*/*/


Menikmati suasana malam di ruang bedah yang tertutup. Selesai melakukan praktek, Morgan duduk di lantai seorang diri. Sejenak hening dalam pikiran yang terasa sangat menguras otaknya. Selama ini pekerjaan yang ia lakukan hanya dengan menggunakan tenaga tanpa harus capek berfikir.


10 menit kemudian, Morgan melajukan mobilnya kesebuah tempat yang biasa di kunjungi para anak muda. Suasana disana sangat bising dengan alunan musik yang mengobarkan hati yang lagi galau.


Sudah lama ia tidak mengunjungi tempat seperti ini. Memesan sebotol wine untuk ia minum tanpa melirik kanan, kiri, depan yang mencoba menggodanya. Mengambil ponselnya yang terasa bergetar di dalam saku celana. Di layar tertera nama Adam.


"Iya?"


"Pasti lo lagi ngedugem ya?"


"Jangan sok tau lo!" Lalu itu suara apa, tanpa lo berbohong juga gue tau."


"Ini hanya sebotol wine, untuk menjernihkan pikiran gue."


"Terserah lo dah, asa lo senang aja. Gue mau ngabarin lo kalau gue melihat Willa di sebuah kabar berita."


"Lo bilang apa?"


Morgan tidak bisa mendengar jelas perkataan Adam karena kebisingan yang terjadi di tempat itu.


"Ya elah, kluar dulu lo kampret!"


Mengenai kabar tentang gadis itu, Morgan segera keluar dan memasuki mobilnya. "Iya, lo bilang apa tadi, Willa, gimana?"

__ADS_1


"Gue liat di kabar berita, Kalau Kapten tentara negara Arab bersama dengan prajuritnya akan segera mendarat diJerman siang besok."


"Terus apa hubungannya sama gue? Lo kalau udah stres pergi aja dugem sono!"


"Ya elah, makanya dengerin dulu! Lo mau denger gak ni?"


Tanpa menunggu lontaran konyol dari mulut Adam, Morgan segera memutuskan panggilannya. Cih Apa apaan itu kapten Tentara Arab?


Di pagi harinya, salah satu dosen mengutus beberapa mahasiswa yang akan berkunjung ke lapangan mendaratnya heli tentara Arab yang akan tiba siang ini. Ada beberapa warga Jerman yang terluka akibat jatuhnya pesawat kemarin sore.


Mereka sudah memberikan pertolongan pertama buat masyarakat yang terluka, namun mereka tetap membutuhkan pertolongan seutuhnya.


.


.


.


.


Mereka para tim medis juga sudah bersiap menyambut. Ketika Para tentara menurunkan masyarakat yang terluka akibat jatuhnya pesawat di negara Arab yaitu warga dari Jerman, tim medis di ijinkan membawa mereka ke ruang UGD.


Pasien berikutnya di topang oleh gadis kurus, tinggi, yang terlihat perfek dengan seragam lengkap ketika turun dari pesawat. Tetap fokus pada pasien, kedua orang yang pernah saling mengenal, di jumpakan oleh takdir tanpa sepengetahuan masing - masing.


Meletakkan pasien di bed dorong tanpa menoleh, Morgan memeriksa bagian tubuh yang terluka, sejenak terdiam menghirup aroma yang tidak asing di hidungnya. Masi dengan tatapan pada pasien, Willa segera beralih dari sana kemudian berlari untuk membantu menurunkan pasien berikutnya.


Melihat punggung gadis tentara itu, kemudian beralih pada pasien ketika sudah menjerit kesakitan.


Beberapa jam yang kemudian, para dokter sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Morgan sebagai tim pembantu mengikuti operasi untuk menambah ilmu dan pengalamannya.


Mengingat aroma yang menyengat di hidungnya, Morgan sempat mendekatkan hidungnya ke kepala pasien itu. Namun tidak tercium aroma conicare.


Ck, hidung lo aja kali yang bermasalah Mor, batinnya.


*/*/*/*/*/*/*/*


Jangan lupa dukung ya gaes, tinggalkan jejak like, vote serta saran kalian 😊

__ADS_1


Terimaksih sudah mampir 🙏


__ADS_2