Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Bertemu Lagi Dengan Lili Louis


__ADS_3

Bruummm! Bruummm!


Pagani Huayra berwarna perak milik Leo terus melaju di jalan raya Purakarta bersama bunyi deruan mesinnya. Bisa dibilang, yang terlihat di sepanjang perjalanan hanyalah pandangan orang-orang yang penuh dengan rasa iri.


Tidak lama kemudian, Leo menghentikan mobilnya di dekat Jalan Komersial Juanda.


“Cepat lihat! Itu Pagani Huayra! Aku tidak salah lihat, ‘kan?”


“Mobil ini pasti sangat mahal, ‘kan?”


“Huh! Kamu punya uang pun belum tentu bisa membelinya. Lagi pula, harga mobil itu 100 miliar!”


Seorang pria muda mengulurkan jari telunjuk dan menggoyangkannya di depan temannya. Pria muda yang iri pun semakin bersemangat.


“Tidak mungkin? 100 miliar? Harga mobil itu 100 miliar?!”


Tiba-tiba, pemuda itu tercengang.


Sementara, Leo juga telah mengendarai mobilnya ke tempat parkir bawah tanah bersama pandangan iri orang-orang. Setelah memarkir mobilnya, dia berjalan ke Jalan Komersial dan mencari sebuah restoran untuk makan siang.


Bagaimanapun, tadi pagi dia hanya mengganjal perut dengan beberapa biskuit dan sekarang sudah siang. Perutnya pun sudah lapar dari tadi. Kebetulan untuk pulang ke rumah, dia harus melewati Jalan Komersial Juanda. Jadi, dia memasuki salah satu restoran di Jalan Komersial Juanda, lalu memesan makanan dan mulai makan.


Di saat ini juga, terdengar sebuah suara dari belakang Leo.


“Mas, saya mau pesan seporsi bakmie.”

__ADS_1


Saat mendengarnya, Leo langsung berhenti memakan dan menoleh ke belakang.


“Eh? Lili?”


Leo memanggilnya dengan sedikit kaget.


Begitu Leo selesai berbicara, Lili yang di sana pun menyadari keberadaan Leo. Lili melihatnya dengan penuh kejutan.


“Pak Leo?”


Bagaimanapun, Leo baru saja membeli sejumlah baju di toko mereka. Tentu saja dia tidak akan melupakan orang kaya seperti dia!


“Kebetulan sekali! Bisa-bisanya bertemu denganmu di sini!”


Lili menyapa Leo sambil duduk di depannya. Sebenarnya, dia juga sangat senang! Bagi dia, jelas-jelas Leo itu tipe orang yang sibuk berbisnis, tapi kini dia masih ingat dengan pramuniaga kecil seperti dirinya sendiri!


“Bukan, kebetulan hari ini aku merasa tidak enak badan. Jadi, aku datang untuk meminta cuti setengah hari ke manajer toko.”


Lili menjawabnya sambil bergeleng.


Lalu, mereka berdua mulai mengobrol. Selama obrolan, Lili menyadari, sebenarnya Leo itu sangat humoris. Tidak lama kemudian, mereka pun telah selesai makan siang.


Leo berkata.


“Begini, deh. Karena aku sudah bertemu denganmu, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang? Jadi kamu tidak perlu naik taksi.”

__ADS_1


“Ini...”


Lili menjawabnya dengan ragu.


“Apa ini tidak membuang waktumu?”


“Tidak masalah.”


Leo mengayunkan tangannya dan menjawabnya dengan santai.


“Baiklah, rumahku di Komplek Blessing.”


Leo yang mendengar alamatnya tidak bisa menahan tawa.


“Eh! Baguslah. Aku juga tinggal di dekat sana sekarang.”


Sambil mengobrol, mereka memasuki lift dan turun ke tempat parkir bawah tanah bersama-sama.


Namun, saat Leo hendak pergi mengendarai mobilnya, sebuah mobil Audi A8 berwarna hitam berhenti di depannya dan menurunkan kaca jendelanya. Lalu, seorang pria jangkung yang berpakaian jas berjalan keluar dari mobil dan mendekati Lili.


Saat melihat pria itu, Lili langsung mengepalkan tangan yang di ujung bajunya dengan ekspresi gugup.


Melihat ini, Leo melirik Lili dan bertanya: “Kenapa? Kamu mengenalinya?”


Lili menggertakkan giginya dan mengangguk.

__ADS_1


“Ya, namanya Francis Pradita. Beberapa waktu lalu, dia pernah membeli pakaian di toko. Lalu, dia terus menggangguku. Alasan hari ini aku meminta cuti juga untuk menghindarinya. Tidak disangka malah bertemu di sini...”


Mendengar omongan ini, mata Leo juga agak menyipit.


__ADS_2