Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Santo Pradita Yang Marah


__ADS_3

Malam hari, pukul 6:30.


Leo membawa mobilnya untuk pergi menjemput Zella. Begitu Pagani Huayranya berhenti di pinggir jalan, Leo langsung melihat Zella yang berdiri di pintu.


Zella yang sekarang sangat berbeda dengan yang sebelumnya! Dia mengenakan gaun malam yang berwarna hitam bersama kalung berlian perak di lehernya. Pergelangan tangannya juga tersampir sebuah tas bermerek Hermès. Ditambah dengan makeup Zella yang natural, dia saat ini terlihat seperti pemandangan yang indah!


Leo mendekatkan mobilnya ke depan Zella secara perlahan. Lalu, dia menurunkan jendela mobil, melihat keluar, dan berkata kepada Zella: “Ayo naik.”


Zella tersenyum, lalu berjalan ke mobil Leo dan memasuki mobilnya.


Saat ini, orang-orang yang melihat Zella merasa sangat tidak rela. Sayang sekali, wanita yang secantik ini sudah dimiliki orang lain! Namun, melihat situasi seperti ini, mereka juga hanya bisa menghela napas tanpa daya!


Begitu memasuki mobil, Leo terus menatap Zella.


Zella juga hanya tersenyum dan berkata.


“Bagaimana, pak Leo? Apa penampilan saya cukup memuaskan?”


“Lumayan. Harusnya begitu tiba di pesta, kamu akan segera menjadi pusat perhatian?”


Leo yang di sebelah berkata sambil tersenyum.


Setelah mendengar omongan Leo, Zella pun tersenyum dan berkata: “Pak Leo terlalu menyanjung saya.”


Tidak lama kemudian, mobil sport mulai melaju ke Jalan Komersial Juanda. Saat mereka memasuki lokasi pesta, banyak orang yang menoleh ke arahnya!


“Gila, konglomerat dari keluarga mana?”


“Aku belum pernah melihatnya juga. Apa ini mobil yang baru dibeli CEO perusahaan mana?”


“Wah! Itu Pagani Huayra! Kelihatannya ini keluarga konglomerat papan atas.”


Semua orang mendiskusikannya, selain Francis Pradita. Matanya berbinar, lalu menatapi mobil itu dengan tatapan dingin! Francis segera berkata kepada Santo Pradita, kakak yang di sampingnya.


“Kak, itu mobilnya!”

__ADS_1


Mendengar ucapan Francis, Santo hanya menjawabnya dengan tatapan dingin: “Oke!”


Lalu, Santo mengeluarkan ponselnya dan menelepon.


“Halo, Ben, jangan berpatroli lagi. Segera turun bersama bawahanmu. Aku mau memberi seseorang pelajaran!”


Setelah teleponnya ditutup, Francis masih agak takut.


“Kak, kamu yakin tidak masalah? Anak itu...”


Santo langsung mencibir dan berkata.


“Huh! Kamu tidak percaya dengan kakakmu? Mobil itu? Produk aslinya telah lama dibeli dan dikoleksi para konglomerat di seluruh dunia. Mau mendapatkan yang asli itu sama sulitnya dengan pergi ke luar angkasa! Kakak lihat ini hanyalah mobil KW yang sengaja dipalsukan orang!”


Setelah mendengar penjelasannya, Francis pun tidak cemas lagi.


Di dalam mobil!


Zella yang baru saja membuka sabuk pengaman berkata dengan gugup, “Pak Leo, saya agak gugup.”


“Jangan gugup. Percayalah padaku. Kamu sangat cantik.”


“Saya sangat cantik.”


“Iya, kamu pasti bisa menarik perhatian semua pria.”


“Pfft, Pak Leo sungguh humoris.”


Zella telah melupakan rasa gugup tadi dan terkekeh-kekeh. Lalu, dia menarik napas yang panjang dan berbisik.


“Anda harus segera menyusul, ya”


“Iya, pergilah.”


Buka pintu mobil.

__ADS_1


Zella bangkit dan turun dari mobil. Begitu melihat dia, orang-orang yang di sekeliling langsung bersorak.


“Wah, wanita cantik!”


“Ini sosialita dari keluarga konglomerat mana?”


“Tidak tahu. Aku belum pernah melihatnya juga di pesta-pesta sebelumnya. Mungkin ini pertama kali?”


“Ayo, cepat. Cari kesempatan untuk berkenalan dengannya.”


...


Saat memasuki gedung, ada sekelompok pria yang mengikuti Zella dari belakang. Leo yang melihatnya tampak sangat tenang. Dia menatap Zella hingga masuk ke dalam dan tak terlihat lagi baru pergi memarkir mobil.


Sekeliling juga tidak ada yang memperhatikannya. Alasan pertama, karena penampilan Zella hari ini sungguh terlalu mencolok. Kedua, di Jalan Komersial ini, yang mengetahui identitasnya hanya para CEO. Jadi, orang-orang mengira dirinya hanyalah seorang supir.


Francis dan Santo yang melihat adegan ini juga semakin yakin dengan hal ini.


“Brengsek!”


Terutama Francis, dia semakin emosi.


“Aku benar-benar tertipu oleh anak itu kemarin. Aku kira dia ini tuan muda dari keluarga konglomerat mana. Ternyata hanya seorang supir?”


Francis terus memaki-maki. Sedangkan Santo, dia juga mencibir dan berkata dengan dingin.


“Huh! Supir saja berani menindas adikku?! Masih mau ayahku meminta maaf padanya? Tidak tahu juga siapa yang memberinya keberanian itu!”


Santo berkata sambil melihat mobil yang baru selesai memarkir, lalu ponselnya berdering.


“Halo, kak Santo, kami sudah sampai.”


Santo berkata dengan tatapan sangat dingin.


“Bagus, Ben. Suruh mereka tahan orang yang baru selesai parkir! Aku segera ke sana.”

__ADS_1


__ADS_2