
Saat ini, di dalam rumah, Haris Fari sedang pamer dengan sombong.
“Hei, Mayor, coba kau lihat anakku ini. Bagaimana dia bisa seperti ini! Baru tiga tahun saja, dia sudah dipromosikan menjadi wakil manajer perusahaan. Dia bahkan membeli sebuah Mercedes-Benz yang harganya hampir sekitar 2 miliar. Kali ini pulang, dia bahkan membawakan aku sebotol minuman XO yang bagus. Apa nama XO itu, Mar apa itu?”
Haris Fari berkata dengan ekspresi tak berdaya, lalu melirik pria muda di sampingnya, yang sedikit kurus, mengenakan jas dan kacamata berbingkai hitam.
“Rémy Martin.”
Pria muda itu berkata dengan tersenyum.
Mendengar kata-kata ini, Haris Fari pun melambaikan tangannya dan berkata.
“Haih, intinya aku tidak ingat, rasanya aku juga tidak terbiasa. Minuman XO luar negeri, rasanya ya begitu.”
Mendengar bualan ini, wajah Ayah Leo tampak buruk, namun dia tetap tertawa.
“Minum teh, minum teh.”
pada saat ini juga, Haris Fari lanjut berkata.
“Oh, iya. Mayor, anak kau tahun ini pulang tidak? Kudengar Dalil bilang Leo menghasilkan lumayan banyak uang di Purakarta. Sekali transfer uang langsung 200 juta.”
Mendengarkan kata-kata ini, Ayah Leo pun tersenyum canggung.
“Hah, kalau bisa menghasilkan uang memang bagus, tapi tidak boleh tidak ada waktu untuk pulang melihat orang tua sendiri juga. Aku serius, nih. Kalau tidak, kau suruh Leo mengundurkan diri dan pergi bekerja di perusahaan Bobi saja. Kali ini bos perusahaan Bobi bahkan memberinya 5 hari libur! seingatku, dulu Leo juga belajar IT, ‘kan? Cocok juga jurusannya. Apalagi sekarang Bobi ini sudah menjadi wakil manajer perusahaan, bisa membantu juga. Oh, iya, Bobi. Waktu itu kau bilang apa nama perusahaanmu? Dragon apa?”
“Game Prime Dragon.”
Bobi Haris berkata di sana sambil tersenyum.
__ADS_1
Mendengar kata-kata mereka yang sombong, tangan Mayor yang memegang cangkir pun semakin memucat. Ekspresinya tampak buruk, bahkan bisa dibilang sangat suram!
“Hehe, ini aku juga kurang ngerti. Tergantung kemauan Leo sendiri.”
Mendengar tanggapannya, Haris Fari pun mencibir. Lalu, dia berkata lagi.
“Ya, sudah, tunggu Leo pulang nanti, aku akan menanyakannya sendiri.”
Pada saat ini juga, Bobi Haris tiba-tiba memegang perutnya dan berkata.
“Anu, Paman Mayor, maaf, aku ke toilet sebentar.”
“Pergilah.”
Bersama lambaian tangan, Bobi Haris pun langsung berlari ke toilet.
Saat Haris Faris hendak lanjut membual, ada yang mengetuk pintu rumah.
Ayah Leo berdiri dan bertanya sambil berjalan ke pintu.
“Ayah, ini aku, Leo.”
Mendengar kata-kata ini, ayah Leo sangat senang dan segera membuka pintu. Begitu membuka pintu, langsung melihat empat kotak barang yang terletak di depan. Memindahkan empat kotak barang ini ke dalam rumah, sangat melelahkan Leo. Walaupun memiliki tubuh sempurna.
Melihat ini, ayah Leo sedikit bingung.
“Nak, ini...”
Ayah Leo bertanya sambil menunjuk empat kotak itu.
__ADS_1
“Oh, ini ‘kan hari raya, aku pikir selama ini aku juga tidak pernah membelikan kado apa pun untuk kalian berdua. Lalu, tahun ini aku berbisnis dengan teman dan menghasilkan sedikit untung, jadi aku membeli sedikit barang pulang.”
“Eh, kau ini, membuang-buang uang saja!”
Ayah Leo yang di situ segera memarahi Leo. Hanya saja, meskipun mulutnya memarahinya, namun lubuk hatinya merasa sangat senang.
Leo telah memindahkan semua barang ke dalam. Dirinya juga melihat Haris Fari yang di sana segera menyapa dengan senyuman.
“Oh, Paman Haris, Anda di sini, ya.”
“Haha, Leo, sudah lama kita tak bertemu. Kau kurusan, ya! Bekerja di luar lumayan keras, ya?”
Haris Fari langsung berkata sambil tersenyum. Mendengar kata-kata ini, mata Leo menyipit sedikit.
Ini... ada maksud lain, toh! Kedengarannya seperti mau memamerkan sesuatu.
Leo pun tersenyum tipis, lalu melirik wajah ayahnya yang tampak buruk. Setelah itu, Leo tersenyum dan berkata.
“Haha, namanya kerja, mana ada yang tidak keras. Oh, iya. Paman Haris, kudengar Kak Bobi karirnya lumayan lancar di Purakarta. Kado apa lagi yang telah dia bawakan untuk Anda kali ini?”
Jujur saja, dia sudah lima atau enam tahun tidak bertemu dengan Keluarga Haris Fari. Kali ini jelas sekali tujuan mereka tidak polos!
Mendengar jawaban ini, Haris Fari segera mengangkat kepalanya dan berkata: “Haduh! Anakku itu terlalu dungu. Dia membawakan aku minuman XO apaan! Leo, kadomu ini sedikit murahan. Masa hanya diisi dengan kotak kardus buruk begini? Apa yang kau isi di dalam?”
Leo tersenyum sedikit, lalu berkata.
“Oh, hanya barang-barang tak berharga. kado murah, namun maknanya besar.”
Mendengar ini, Leo melambaikan tangannya. Sedangkan Haris Fari semakin bersemangat. Dia segera berjalan ke depan kardus dan berkata.
__ADS_1
“Mayor, ini tanda anakmu berbakti padamu. Kenapa kau tak membukanya?”