Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Aku Akan Membayarmu Gaji Dobel


__ADS_3

“Kak, tante ke-3 sudah memberitahumu, ‘kan? 3 hari lagi, aku dan teman-temanku akan jalan-jalan ke Purakarta.”


“Ya, aku sudah tahu. Apa kalian sudah memesan tiket?”


Leo bertanya langsung.


“Belum.”


Jessica Chiara menjawabnya.


Membaca jawabannya, Leo langsung mengetik.


“Kalau begitu, kirim data kalian ke aku. Aku pesankan tiket pesawat untuk kalian.”


“Hehe! Terima kasih, kak.”


Kemudian, Jessica mengirimkan data-data mereka. Begitu melihat KTP-KTP mereka, Leo juga tidak banyak berpikir. Dia langsung memesankan tiket pesawat kelas utama (first class) untuk mereka semua melalui ponsel.


Setelah itu, dia memberitahu waktu penerbangan pada adiknya dan selesai. Lalu, Leo kembali memikirkan keinginannya tadi.


“Aku benar-benar harus mencari seorang sekretaris.”

__ADS_1


Tak lama kemudian, Leo segera membuka situs web rekrutmen tenaga kerja. Dia memilih daftar orang yang melamar jabatan sekretaris, lalu disaring sesuai kualifikasi akademik mereka. Setelah memilah-memilah resume, Leo menemukan targetnya.


“Ini lumayan bagus!”


Dia melihat resume di depannya dengan mata berbinar.


[Nama: Zella Alfiya


Usia: 23 tahun


Tempat tinggal saat ini: Kota Purakarta


Riwayat pendidikan: Magister Bisnis, Magister Ekonomi dari Perguruan Tinggi Trinity Universitas Cambridge.


Magister dari Perguruan Tinggi Trinity Universitas Cambridge! Resume ini sangat sempurna! Baru berusia 23 tahun saja sudah ada pencapaian seperti ini! Dia pasti genius!


Tidak!


Leo menarik napas yang dalam, lalu memutuskan, inilah yang dia perlu! Di dunia ini tidak ada talenta yang tidak bisa direkrut. Kalau ada, berarti uangnya belum cukup! Selama ada uang, bahkan Piramida di Mesir pun bisa dipindahkan.


Saat ini, Zella sedang berjalan keluar dari sebuah perusahaan dan berpikir di dalam hati:

__ADS_1


“Perusahaan ini juga lumayan bagus. Meskipun gaji tahunan yang ditawarkan hanya 1,6 miliar, masih lebih rendah 400 juta dari ekspektasiku. Tapi, dengan kemampuanku, paling setengah tahun saja sudah bisa naik gaji.”


Pada waktu yang sama, ponsel Zella berdering. Saat mengetahui ini panggilan dari nomor asing, Zella langsung mengerti. Ini pasti ada yang melihat resumenya. Meskipun dia sudah memutuskan untuk memasuki perusahaan ini, tapi dia tetap harus menjawabnya sebagai tanda sopan santun yang paling mendasar.


Saat teleponnya terhubung, Leo langsung berkata.


“Halo, apa ini dengan Zella Alfiya? Saya menemukan resume Anda di situs web rekrutmen.”


“Maaf, Pak. Saya sudah menemukan pekerjaan yang cocok, sementara sudah tidak ingin mempertimbangkan kesempatan lain.”


Setelah meminta maaf, saat Zella hendak menutup teleponnya, Leo berkata lagi.


“Tidak apa-apa, tapi aku sarankan kamu lebih baik mendengarkan fasilitas yang aku tawarkan dulu. Ini tidak akan merugikanmu."


Zella sudah menebak situasi ini.


“Silakan.”


Tiba-tiba, Zella tercengang dan lanjut berkata.


Leo tersenyum dan melanjutkannya dengan tenang.

__ADS_1


“Aku merasa kamu sangat pintar, jadi fasilitas yang kutawarkan adalah...


Tidak peduli di mana kamu bekerja, berapa gaji tahunanmu saat ini. Minimal aku akan membayarmu gaji dobel dari yang sekarang!”


__ADS_2