Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Pesta Lelang


__ADS_3

Setelah ditolak oleh Zella Alfiya secara langsung, ekspresi Arief Mulya ini menjadi sangat muram. Lalu, pria muda kurus yang di belakangnya pun mencibir dan berkata.


“Tuan Muda Arief mengundangmu minum bersama itu keberuntunganmu! Jangan kira karena dirimu cantik, jadi kamu bisa sombong begitu!”


Pria muda kurus itu mencibir dengan sombong dan sangat tidak sopan. Lalu, pria muda kurus itu melihat lagi ke arah Leo dengan tatapan dingin dan berkata.


“Kenapa kamu masih berdiri di sana? Cepat pergi dari sini! Tuan Muda Arief kami mau wanita ini!”


Mendengar kata-kata ini, Leo mengerutkan keningnya. Lalu, dia memandang kedua orang itu dengan dingin dan berkata dengan keras.


“Enyahlah!!”


Enyahlah!


Satu kata ini membuat semua orang menoleh ke arahnya. Lalu, begitu melihat Arief, semua orang terkejut!


“Eh? Bukankah itu tuan muda Keluarga Mulya dari Perusahaan Real Estat Mulya?”


“Ternyata tuan muda dari Keluarga Mulya? Aku dari dulu sudah mendengar keluarganya sangat kaya dan sangat sombong! Selain itu, rumornya dia juga sedang mengejar nona muda dari Keluarga Sadana akhir-akhir ini.”


“Tapi, siapa bocah itu? Berani dia menyuruh Tuan Muda Keluarga Mulya untuk enyah.”


“Tidak kenal. Tapi berani menyinggung Tuan Muda Keluarga Mulya, dia benar-benar tidak takut mati.”


Dalam seketika, semua orang di sekitar pun menoleh ke arah mereka.


Mendengar ini, Leo segera mengerti. Ternyata orang Perusahaan Real Estat Mulya. Pantas saja berani berlagak begitu.


Perusahaan Real Estat Mulya, bisa dibilang adalah perusahaan real estat menengah di Purakarta, nilai pasarnya mencapai 10 triliun!


“Huh! Bocah, sekarang kamu sudah tahu aku ini siapa, ‘kan? Cepat pergi dari sini!”


Mendengar kata-kata ini, Leo berkata dengan dingin.


“Temperamenku sangat buruk. Kamu sebaiknya enyah dari sekarang!”


“Kamu...”


Dalam seketika, ekspresi Arief menjadi sangat buruk. Lalu, dia menarik napas yang dalam dan berkata.


“Bagus ya kamu! Aku sudah mengingatmu!”

__ADS_1


Sambil berbicara, Arief Mulya pun berbalik badan dan pergi.


Namun, pria muda yang berdiri di situ malah melototi Leo dengan ganas baru bergegas mengejar Arief.


“Tuan Muda Arief, kamu mau membiarkan bocah itu begitu saja?”


“Kalau tidak? Tujuan utamaku ke sini itu untuk mendapatkan lukisan minyak Van Gogh yang di jual di lelang malam ini dengan dana 600 miliar yang ayahku berikan.”


Arief berkata dengan dingin.


“Tunggu aku berhasil mendapatkan lukisan minyak Van Gogh  dan kembali ke rumah, ayahku pasti akan sangat senang. Setelah misi ini selesai, aku baru akan memberitahu bocah itu dia telah menyinggung orang yang tidak pantas disinggung!”


Mendengar penjelasannya, pria muda yang kurus pun berangguk tanpa berkata apa pun.


Di sisi lain, sangat cepat, lelang amal akan segera dimulai.


Leo menemukan tempat duduk di belakang, lalu Zella yang di sebelahnya juga lanjut berbicara.


“Pak Leo, yang duduk di paling depan, posisi ke-6 dari sebelah kanan adalah direktur Perusahaan Pertambangan Barat Daya, Azis Dhafi...”


“Lalu, wanita yang duduk di paling depan itu adalah direktur Perusahaan Perkayuan Anugerah...”


“Oke, aku sudah tahu.”


Leo mengangguk dengan ringan.


Lalu, Leo pun terus berbicara: “Setelah ini selesai, aturkan waktu untuk bertemu dengan mereka.”


Segera, lelang amal secara resmi dimulai!


Di atas panggung.


Juru lelang yang di atas panggung segera berkata.


“Selamat datang di pesta lelang amal. Semua dana yang diperoleh dari hasil lelang barang malam ini akan disumbangkan ke daerah yang terkena bencana!”


Semua orang bertepuk tangan.


Lalu, juru lelang pun tidak banyak basa-basi dan memulai lelang. Tak lama kemudian, lelang amal akan segera berakhir dan hanya tersisa barang terakhir yang belum dilelang.


“Semuanya, berikutnya adalah lukisan minyak dari seniman Van Gogh!”

__ADS_1


Begitu juru lelang selesai memperkenalkannya, semua orang mulai berbicara.


“Ternyata lukisan seniman Van Gogh!”


“Ya Tuhan, selanjutnya, pasti akan ada banyak bersaing untuk mendapatkannya!”


Orang yang hadir pun mulai merumpi.


“Semuanya, lukisan minyak seniman Van Gogh telah dinilai oleh Galeri Lelang bahwa ini adalah produk asli. Harga dasarnya adalah 100 miliar dan lelang resmi dimulai. Setiap kenaikan harga tidak boleh kurang dari 10 miliar.”


Juru lelang tidak menunda waktu dan segera mulai melaporkan harga penawaran.


“110 miliar!”


“120 miliar!”


“130 miliar!”


...


Seiring kenaikan harga, semua orang mulai memberikan penawarannya tanpa ragu-ragu.


“Ya Tuhan, peningkatan harganya sungguh cepat. Baru berapa lama saja, harganya sudah mencapai 180 miliar!”


Sambil dibicarakan, Zella pun melihat ke arah Leo. Tidak tahu juga apa Leo tertarik dengan lukisan ini?


Lalu, pada saat ini juga, Arief Mulya mengangkat tangannya.


“200 miliar!”


Kini semua orang menoleh ke arahnya. Begitu melihat Arief, mereka pun tidak berkata apa-apa lagi.


Arief ini langsung menambah 20 miliar. Jelas sekali, dia sangat ingin mendapatkan lukisan Van Gogh ini.


Melihat ekspresi semua orang, Arief pun tampak sangat bangga.


“Kelihatannya, aku akan bisa membeli lukisan minyak Van Gogh ini hanya dengan 200 miliar! Bukan misi yang sulit!”


Dalam hati Arief sangat gembira. Namun, pada saat ini juga, Leo perlahan mengangkat tangannya dan berkata dengan santai.


“220 miliar.”

__ADS_1


__ADS_2