Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Tertahan


__ADS_3

Dalam sekejap, Leo tidak tahu harus berkata apa. Benar sih. Sepertinya ini memang uangnya.


Namun! Begitu berpikir dirinya harus ke sana, diblokir orang-orang itu di tempat, dan melihat mereka menjilat dirinya. Leo benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi!


“Aku seharusnya tidak menyumbangkan dana ini sejak awal!”


Leo menghela napas yang panjang di dalam hati, lalu berkata dengan nada tak berdaya. Kalau waktu itu dirinya menolak, mungkin tidak akan serepot ini.


Lalu, Leo pun berkata.


“Baiklah, kalian pergi ke kampus saja dulu. Bilang saja aku yang menyuruh kalian ke sana. Aku akan tiba nanti.”


Lalu, Vion yang di ujung telepon juga menjawab baik.


Setelah menutup telepon, Leo menghela napas, lalu bangkit dari kasurnya.


“Merepotkan!”


Leo bergeleng dengan tak berdaya dan tersenyum pahit. Selanjutnya, dia mulai check in hari ini.


[Selamat, Tuan. Check in berhasil!]


[Anda mendapatkan jam tangan Patek Philippe 5002p Platinum.]


Begitu mendengar notifikasi, muncul juga sebuah jam tangan di depan Leo!


“Jam tangan lagi?”


Leo berkata dengan nada tak berdaya. Lalu, mulai memainkan jam tangan yang di meja.

__ADS_1


Tampilan luar jam tangan ini sangat tradisional dan lebih nyaman untuk dilihat jika dibandingkan dengan jam tangan Richard Mille. Kesamaan mereka adalah sama-sama tidak tahu bagaimana cara melihat waktu di atas.


Lagi pula, metode pengaturan waktu jam tangan ini benar-benar terlalu rumit.


Sambil bergeleng tanpa daya, Leo mengambil ponselnya untuk mengecek harga jam tangan ini.


Sangat cepat, dia membaca sebuah data.


Patek Philippe Platinum: 35,2 miliar.


Leo: ...


Jam tangan yang tidak bisa dilihat waktunya sama sekali, bisa-bisanya dijual dengan harga segini!


Sudut mulut Leo berkedut. Lalu, dia mengambil kunci mobil Pagani Huayra-nya dan langsung berangkat ke Universitas Keuangan dan Ekonomi.


Tak lama kemudian, Leo tiba di kampus. Leo berhenti di tempat parkir bersama mobil lainnya. Kini Leo mengenakan masker agak tidak dikenali orang.


Di depan gedung administrasi ada dua mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang menjaga di situ beserta mahasiswa lainnya. Ada yang berpakaian jas, ada juga yang berpakaian kasual. Semua orang memegang setumpuk kertas A4 yang tebal dan berdiri di sana.


Melihat adegan di depan mata, sudut mulut Leo sedikit berkedut.


Semua sudah pasti! Sedang menunggu dirinya...


“Gila! Orang-orang itu dungu, ya! Kenapa mengekspos kabar ini!”


Dalam seketika, Leo menggertakkan giginya. Lalu menghela napas dengan tak berdaya.


Apakah mereka merasa dirinya akan menginvestasi mereka semua? Lagi pula, dirinya juga tidak sekaya itu. Kenapa semuanya menghadang di situ?

__ADS_1


Leo bergeleng, lalu langsung berjalan ke arah gedung administrasi. Namun, pada saat tiba di depan pintu, Leo malah diberhentikan oleh mahasiswa anggota BEM.


“Kawan, aku sudah berkata. Hari ini adalah hari kakak senior Leo dan kampus menandatangani perjanjian. Proposal investasi kalian serahkan saja kepada kampus dan cukup ikuti seleksi sesuai prosedur. Kakak senior Leo tidak ada waktu untuk menemui kalian satu per satu!”


Mendengar kata-kata ini, Leo tertegun. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, ada seorang petugas BEM yang berjalan keluar. Lalu, dia membentak semua orang yang di depannya dengan nada suara sangat dingin.


“Aku beri kalian 10 menit! Segera bubar! Bagaimana jika nanti kakak senior Leo telah tiba dan melihat adegan ini! Tata tertib macam apa ini!”


Setelah berkata, ketua BEM pun melihat Leo. Lalu, dia mencibir dan berkata.


“Kau juga! Huh! Lihat gayamu ini! Kalau kau datang untuk meminta kakak senior Leo menginvestasi, paling tidak kau juga harus menyiapkan proposal! Kalaupun kau tidak punya proposal, ya seengaknya kau juga harus berpakaian dengan rapi! Beraninya kau datang meminta investasi tanpa proposal dan berpakaian sembarang begini? Benar-benar konyol!”


Mendengar kata-kata ini, ekspresi Leo langsung menjadi suram.


Sialan... setelah menarik napas yang dalam dan melirik ketua BEM, Leo pergi meninggalkan tempat ini.


Leo mulai menelepon di belakang. Sedangkan mahasiswa yang di situ, mereka semua pun tertawa terbahak-bahak.


Di sisi lain.


Di dalam ruang rapat, Vion menerima telepon dari Leo. Ekspresinya berubah total dan melihat ke arah wakil rektor.


Melihat ekspresi Vion, wakil rektor juga heran.


“Pak Vion, apakah Pak Leo sudah tiba?”


Ekspresi Vion menjadi agak dingin, lalu berkata.


“Pak Leo sudah tiba. Namun, kini dihadang sama anggota BEM kalian!”

__ADS_1


“Apa?!”


Dalam sekejap, ekspresi wakil rektor berubah drastis.


__ADS_2