Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Seminar


__ADS_3

Setelah masuk ke mobil, Leo pergi ke tempat cuci mobil terdekat untuk melakukan pembersihan dulu, lalu langsung berangkat ke kampus. Sepanjang perjalanan juga banyak yang terpukau oleh mobilnya.


Sangat cepat, Leo pun tiba di depan gerbang kampus. Setelah mobilnya memasuki kampus, Leo memarkir mobilnya di tempat parkir depan auditorium. Lalu, dirinya turun dari mobil di bawah pandangan kagum para mahasiswa. Tentunya, para mahasiswa juga memandangnya sambil berpikir di dalam hati.


Kapan dirinya baru bisa memiliki mobil semewah ini dan mengendarainya mengelilingi kampus.


Kini Leo sedang berjalan ke arah auditorium. Jarak waktu seminar dimulai hanya tersisa 10 menit.


Di bawah bimbingan konselor, ada juga banyak mahasiswa yang memasuki auditorium. Namun, saat Leo yang ingin memasuki auditorium, malah ditahan satpam di pintu.


“Halo, tolong tunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa mu (KTM).” Melihat satpam di depan mata, Leo sedikit terkejut.


Lalu, dia bergeleng dan berkata: “Maaf, aku tidak ada KTM.”


“Tidak ada KTM, lalu apa yang kamu lakukan di sini!”


Segera, ekspresi satpam yang di situ langsung menjadi sangat dingin. Orang yang di samping pun menunjuk-nunjuk ke arah Leo. Mereka juga melihat Leo mengendarai McLaren P1.


“Dia sungguh mengira anak konglomerat bisa sembarang membobol masuk kampus kita?”


Dalam seketika, semua orang mulai mengomentarinya.


Sedangkan Leo, ekspresinya juga tampak canggung. Namun, saat berikutnya dia berkata lagi: “Aku diundang untuk menghadiri seminar ini.”


“Lalu, di mana undanganmu?” Satpam itu mengernyit dan lanjut berkata.


“Kalau kamu sungguh diundang untuk menghadiri seminar, paling tidak kamu juga harus ada surat undangan, ‘kan?”


Mendengar ini, Leo juga sangat canggung, karena dia juga tidak memiliki undangan.

__ADS_1


“Tidak ada surat undangan, tidak ada KTM, bagaimana aku bisa membiarkanmu masuk?” Dalam seketika, Leo pun panik.


Namun, saat dia hendak menghubungi Clint, Clint malah sudah muncul lebih dulu.


Saat melihat Leo, mata Clint langsung berbinar. Lalu, dia segera menggenggam Leo dan berkata.


“Leo, kenapa kamu masih belum masuk, ayo cepat. Sudah mau mulai ini!” Mendengar ini, Leo hanya menunjukkan senyuman pahit tak berdaya.


“Aku juga ingin masuk, tapi kau tidak kasih aku surat undangan.”


Kali ini, Clint tertegun. Sepertinya memang begitu...


“Eh, maaf, ya. Kemarin terlalu sibuk, aku jadi lupa.”


Sambil mengobrol, mereka pun memasuki auditorium dengan ekspresi canggung.


“Sudah, seminar hari ini enak didengar sih disebut seminar. Namun, sebenarnya, kampus ingin kalian menyumbangkan dana. Hanya saja, dana sumbangan ini juga akan digunakan untuk mendanai kewirausahaan mahasiswa. Dalam proyek dukungan ini, berapa banyak yang kau sumbang menandakan sebesar apa juga hak kau untuk membuka suara.”


Leo dan para tamu menyumbangkan dana, kampus menyiapkan proyek. Lalu, nanti Leo akan terus mendapatkan keuntungan dan kampus dapat meningkatkan reputasi.


“Aku sudah mengerti.” Sangat cepat, Leo pun duduk di tempatnya.


Kini, di dalam auditorium terdapat sekitar 10 tamu yang duduk di tiga baris pertama. Sedangkan Leo, dirinya duduk di barisan agak belakang.


Begitu Leo duduk, semua orang yang di situ pun melirik ke arah Leo. Karena Leo jarang menghadiri acara sosial orang kaya, jadi tidak banyak orang yang mengenalnya. Namun, ada juga yang mengenali Leo. Dia sedikit terkejut, tapi dia tidak mengatakan apa pun.


Saat Leo duduk, ada seorang pria gemuk yang mendekat dan berkata dengan riang: “Sobat, namaku Rio Wawan. Siapa namamu?”


“Leo Mayor.”

__ADS_1


Mendengar kata-kata Leo, Rio Wawan tertegun sebentar.


Sepertinya aku pernah mendengar nama ini di mana, tapi kini tidak bisa mengingatnya sama sekali.


Lalu, dia bertanya lagi kepada Leo.


“Boleh tahu apa bisnis keluarga sobat?”


“Aku? Keluargaku tidak ada bisnis apa pun. Aku hanya hidup untuk makan dan menunggu maut.”


Benar, saat ini bisnis yang atas namanya, pada dasarnya telah diserahkan kepada orang lain untuk dikelola. Dirinya ini memang tipe manusia hanya hidup untuk makan dan menunggu maut.


Namun, setelah mendengar kata-kata Leo, wajah pria gemuk itu pun menunjukkan pandangan meremehkan.


Sedangkan Leo, dia hanya tersenyum tipis tanpa berkata apa pun.


Tak lama kemudian, seminar dimulai.


Pimpinan kampus terus berpidato hal-hal tidak penting dan basa basi di atas, lalu akhirnya mengumumkan investasi dimulai.


Setelah suasana mendingin sejenak, para perusahaan mulai berinvestasi.


Pertama adalah eksekutif senior yang berkuasa. Setelah berkata-kata sedikit dengan sederhana, dia menerangkan jumlah investasinya sebesar 1 miliar.


Lalu, setelah setumpuk investasi diumumkan, tak lama kemudian, tergilir bos besar yang sebenarnya naik ke panggung. Bos besar ini sangat murah hati, sekali investasi langsung 60 miliar!


Setelah itu, suasana pun pelan-pelan mendingin, ini juga membuat para pimpinan kampus sedikit cemas.


Lalu, terakhir adalah kelompok anak konglomerat. Yang pertama adalah Rio Wawan. Mereka semua kompak menginvestasikan 2 miliar setiap orang!

__ADS_1


Kini, orang-orang yang di dalam seminar pun mulai berbisik dan berunding. Sedangkan pihak kampus, mereka pun sudah tidak bisa duduk dengan tenang.


Lagi pula, tindakan ini, sungguh mempermalukan kampus mereka!


__ADS_2