Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Audi A8? Sangat Luar Biasa?


__ADS_3

Kemudian, Leo tersenyum dan berkata, “Kalau begitu, serahkan saja padaku. Aku akan membantumu menyingkirkan orang ini.”


“Apa?”


Mendengar omongannya, Lili agak bingung. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Leo.


Saat ini, Francis telah melihat Lili. Matanya langsung bersinar dan menunjukkan senyuman yang menurutnya, membuatnya menjadi sangat tampan. Dia membawa sebuket bunga, lalu berdiri di depan Lili dan berkata:


“Lili, kamu tahu aku datang, jadi sengaja menunggu di sini, ya? Nih! Bunga untukmu!”


Francis melanjutkannya dengan penuh semangat.


“Aku telah memesan meja di restoran Prancis Branch Bistro. Ayo makan malam bersama! Restoran Prancis ini sangat sulit dipesan dan hari ini juga hari kokinya meluncurkan menu baru. Nanti aku akan pergi menjemputmu!”


Lili yang mendengar ajakan Francis tidak terlihat senang, malah agak tak berdaya.


“Pak Francis! Aku sudah memberitahumu berulang kali. Aku tidak tertarik denganmu. Bolehkah kamu tidak menggangguku lagi!”


Mendengar kata-kata ini, Francis yang awalnya tersenyum ceria langsung muram dan menunjukkan tatapan dingin yang angkuh.

__ADS_1


“Wanita ******! Aku sudah cape-cape menghabiskan setengah bulan untuk mengejarmu. Kamu kira kamu benar-benar seberharga itu? Aku beri tahu, hari ini, tidak peduli kamu bersedia atau tidak, mau atau tidak mau, kamu harus ikut makan malam denganku!”


Francis membentaknya, lalu ingin mendekat untuk menangkap Lili. Namun, Leo yang di sebelah Lili langsung menghentikan gerakan Francis dan berkata dengan tenang:


“Kenapa? Kamu mau memukul orang di parkiran? Aku peringatkan, ya! Parkiran ini ada CCTV.”


Francis yang mendengar omongannya juga terkejut. Lalu, dia melihat ke arah Leo.


Meskipun pakaian Leo terlihat bagus, tapi setelah Francis berpikir sejenak, dia menyadari Leo bukanlah salah satu dari anak konglomerat yang dia kenal. Dia langsung mencibir dan berkata.


“Kamu kira kamu siapa? Beraninya mencampuri urusanku! Enyahlah!”


Leo mencibir dan menjawabnya: “Kenapa? Kamu mau memukul wanita, kenapa aku tidak boleh menghentikanmu? Lagi pula, kamu tidak sadar, ya? Dia tidak menyukaimu! Atas dasar apa kamu memaksa orang?”


“Huh! Jangan kira punya sedikit uang saja sudah bisa mencampuri urusanku! Sesama manusia masih ada jarak! Lihat mobil yang di depanmu ini. Audi A8! Orang sepertimu bahkan harus bekerja keras selama 5-6 tahun dulu baru sanggup membayar uang mukanya! Lagian, ayahku itu direktur Asuransi Jiwa Prabu. Atas dasar itu aku berhak memaksanya!”


Begitu Francis selesai bicara, wajah Lili yang di samping pun menjadi pucat.


Asuransi Jiwa Prabu! Perusahaan yang bernilai 16 triliun! Di Purakarta, perusahaan sebesar ini masih belum termasuk kategori papan atas, tapi itu sudah cukup untuk mengintimidasi orang. Meskipun dia tahu Leo mungkin sangat kaya, tapi harusnya juga tidak sanggup menghadapi perusahaan semacam itu.

__ADS_1


Tiba-tiba, Lili merasa sangat pasrah. Namun, Leo malah tersenyum.


“Audi A8?  Sangat luar biasa? Kalau bicara soal mobil, aku juga punya.”


Begitu Leo selesai bicara, Francis tertegun sejenak. Lalu, dia mencibir.


“Huh! Aku lupa bilang. Audi A8-ku ini harganya 2,7 miliar! Kamu punya mobil? Coba tunjukkan! Lihat saja apa aku berani menghancurkannya di tempat atau tidak!”


Francis berani berkata seperti itu, karena dia menebak mobil yang Leo kendarai paling mahal pun hanya 1 miliar! Mobil kelas segitu, jangankan satu, hancurkan sepuluh pun tidak masalah! Oleh karena itu, dia berani berkata sesombong itu.


Mendengar omongannya, Leo pun tidak bisa menahan diri untuk menunjukkan ekspresi siap menyaksikan pertunjukan seru.


“Kamu yakin?”


“Tentu saja!” Francis menjawabnya dengan percaya diri.


“Oke! Kamu sendiri yang bilang, ya!”


Kemudian, Leo mengeluarkan kunci mobil dan menekannya dengan pelan.

__ADS_1


“Tin! Tin!”


Lampu mobil Pagani Huayra yang berjarak sepuluh meter jauhnya, menyala!


__ADS_2