Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Zella Alfiya Setuju


__ADS_3

Setelah mendengar omongan Zella, Leo menanggapinya dengan tersenyum.


“Karena kamu sudah setuju, kamu boleh pergi ke Gedung Juanda dan cari manajer di sana, namanya Westen Warsito. Beri tahu saja, aku yang menyuruhmu pergi menandatangani kontrak kerja resmi.”


Lalu, Leo menyesap teh dengan santai. Sedangkan Zella yang telah mendengar omongan Leo, ia merasa seperti ada bom yang meledak di dalam hatinya!


Gedung Juanda! Tentu saja, dia tahu tempat itu!


Beberapa hari ini dia telah melamar banyak perusahaan yang kantornya berada di gedung itu. Dia juga tahu jelas gedung kantor itu menandakan kekayaan yang tak terbatas!


Dari pernyataan Leo barusan, tanpa harus diragukan lagi, Leo adalah bos Jalan Komersial Juanda!


Kini Zella tidak bisa menahan diri untuk bergetar. Dia bersusah payah baru berhasil mengangkat cangkirnya dan minum.


“Oke, besok mulai bekerja. Gaji sesuai yang kita bahas sebelumnya, dobel dari yang ditawarkan perusahaan lain. Dari persyaratan yang tertulis di resumemu, gaji tahunan yang kamu harapkan adalah 2 miliar. Aku akan menggajimu 4 miliar. Jam kerja mulai dari jam 9 pagi sampai 5 sore. Sabtu, minggu libur. Kalau kamu harus lembur, biaya lemburmu akan dibayar dobel dari standar normal. Selain itu, libur nasional berlaku seperti biasa, ditambah cuti berbayar selama sebulan setiap tahun. Bonus lainnya juga akan selalu ada. Tapi, aku punya satu permintaan, yaitu kamu harus siap siaga setiap dipanggil! Bagaimana? Tidak masalah, ‘kan?”


Begitu Leo selesai bicara, Zella yang baru saja menenangkan diri langsung menegang lagi.


Ada masalah?

__ADS_1


Bagaimana mungkin penawaran sebagus ini masih bermasalah! Jika dia memilih perusahaan sebelumnya, dia tidak akan mendapatkan semua ini! Tapi sekarang, semua itu ada di depan mata. Penawaran yang sebagus ini, bagaimana mungkin dia masih punya masalah?


Saat ini, Zella sudah hampir kehilangan akal sehatnya.


“Tidak masalah, Pak Leo!”


“Oke, bagus. Kalau begitu, kamu mulai bekerja besok. Kartu ini buat kamu. Di dalamnya ada saldo 10 miliar, jika tidak cukup langsung beri tahu aku. Pertama, bantu aku cari sebuah mobil bisnis dulu. 3 hari lagi, aku ada keluarga yang akan datang ke sini. Mengenai merek dan harga mobil bisnis, aku tidak ada permintaan apa pun. Yang penting modelnya harus sederhana! Lalu, bantu aku pesan satu meja makan siang dan satu presidential suite di hotel bintang lima. Itu saja.”


Leo memberitahunya dengan santai.


Begitu selesai bicara, Zella langsung tersenyum dan menerima kartunya sambil berangguk.


“Oke.”


Sambil berangguk, Zella tersenyum lagi dan berkata:


“Tapi, Pak Leo, anda benar-benar begitu percaya dengan saya? Tidak takut saya bawa kabur uang Anda?”


“Kalau kamu tidak takut risikonya, silakan dicoba.”

__ADS_1


Leo menjawabnya dengan cuek.


Setelah mendengar omongannya, Zella agak tercengang. Lalu, dia segera mengerti apa yang dimaksud Leo.


Benar juga. Orang yang sanggup mengendarai mobil 100 miliar, bagaimana mungkin tidak bisa mencegah diri sendiri tertipu? Kalau dia berani membawa kabur uang ini, takutnya dia tidak akan bisa melihat matahari besok lagi.


“Oke. Aku duluan.”


Leo meninggalkan ruangan. Setelah membayar bill, Leo langsung mengendarai mobilnya dan pergi.


“Hmm... permintaan orang kaya memang aneh. Mau harganya mahal, tapi harus sederhana...”


Zella tidak percaya dengan omongan Leo yang mengatakan ia tidak peduli harga.


“Haih, pusing, deh. Mending aku pergi tanda tangan kontrak dulu.”


Zella memijat kepalanya dengan ekspresi tak berdaya. Saat naik taksi sampai di Gedung Jinyuan, ekspresi Zella terlihat sangat rumit. Ini sudah kelima kalinya dia ke sini. Dia langsung naik ke lantai atas dan bertemu dengan Westen. Sangat cepat, Zella selesai menandatangani kontrak kerjanya.


Sedangkan Leo, dia hanya berkeliling dengan mobilnya, lalu kembali ke rumah.

__ADS_1


Malam berlalu tanpa kejadian apa pun. Esoknya Leo bangun sangat pagi.


__ADS_2