Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
McLaren P1


__ADS_3

Mendengar kata-kata Leo, wajah Bagas Mulya yang di situ tiba-tiba menjadi kaku. Bagaimanapun, nada bicara Leo membuat Bagas Mulya sadar, urusan hari ini tidak akan mudah diselesaikan!


Lalu, Bagas Mulya pun menunjukkan senyuman bermaksud menghibur dan berkata.


“Hehe, jadi, begini, Pak Leo. Kali ini memang kesalahan anak saya. Jadi, ini 100 miliar adalah tanda permintaan maaf saya. Lalu, ada lagi 30% saham Perusahaan Real Estat Mulya kami, saya juga bersedia memberikannya kepada Pak Leo.”


Sambil berkata, Bagas Mulya melototi anaknya, lalu tiba-tiba menamparnya.


“Anak durhaka! Cepat minta maaf kepada Pak Leo!”


Arief Mulya di sebelah menunjukkan ekspresi sedikit enggan, namun dia tetap membungkuk.


“Pak Leo, sebelumnya saya yang terlalu dungu dan telah menyinggung Anda. Mohon berbesar hati dan maafkan saya kali ini.”


Leo yang mendengarkan ini di ujung telepon mencibir. Bagaimana mungkin dia tidak tahu trik Bagas Mulya?


30% saham sebagai tanda permintaan maaf, kedengarannya sangat bagus. Namun, sebenarnya, dia ini ingin mengikat Leo ke Keluarga Mulya. Bagaimanapun, identitas Leo sekarang sudah termasuk menakutkan. Jika dirinya menjadi salah satu pemegang saham Perusahaan Real Estat Mulya, maka itu akan membawakan banyak manfaat bagi Perusahaan Real Estat Mulya!


Dalam seketika, Leo mencibir.


“100 miliar kuterima. 30% saham tidak perlu. Sudah, antar tamu!”


“Baik, Pak Leo.”


Setelah mengatakannya, Leo langsung menutup telepon.


Zella yang di situ tersenyum tipis, lalu berkata, “Pak Bagas, saya harap Anda tidak mempersulit saya. Silakan.”


Wajah Zella tersenyum tipis, lalu membuat isyarat silakan pergi.


Wajah Bagas Mulya yang di sana tampak buruk. Jawaban Leo ini sangat jelas dia telah  menyadari pikirannya. Maksud Leo juga sangat jelas, masalah ini bisa dimaafkan, dia juga tidak akan mempermasalahkannya. Namun, kalau Perusahaan Real Estat Mulya, mereka hanya bisa berjuang dan menantikan maut sendiri!

__ADS_1


Dalam seketika, wajah Bagas Mulya tampak sangat sedih. Dia tahu, Perusahaan Real Estat Mulya miliknya, sudah tersisa setengah nyawa! Lagi pula, yang dia singgung ini Leo. Kalaupun kini Leo sudah tidak mempermasalahkannya, tapi perusahaan lain juga akan pelan-pelan memakan mereka agar dapat menyenangkan hati Leo!


Inilah kengerian orang besar!


Terkadang, setelah kamu menyinggung orang besar, tanpa harus menunggu orang besar itu bertindak, sudah ada sekelompok orang yang ingin menyenangkan hatinya datang untuk membunuhmu!


Setelah keluar dari gedung kantor Jalan Komersial Juanda, Arief Mulya langsung berkata dengan ekspresi sangat marah.


“Ayah! Leo ini siapa, sih? Kalaupun identitasnya bukan orang biasa, tapi juga tidak bisa sama sekali tidak menganggap Ayah, ‘kan! Bagaimanapun, aku juga sudah datang meminta maaf, tapi orang ini, dia bahkan tidak mau menemui Ayah dan hanya berkomunikasi dengan Ayah melalui ponsel. Ini benar-benar terlalu meremehkan Grup Mulya kita, ‘kan?”


Mendengar kata-kata anak sendiri, Bagas Mulya hampir pingsan karena terlalu marah. Lalu, dia langsung menamparnya.


“Kau masih berani berkata! Kalau bukan anak durhaka seperti kau! Bisakah kita menyinggungnya! Aku beritahu kau, karena kau! Meskipun Pak Leo sudah tidak mempermasalahkannya, tapi bisnis Perusahaan Real Estat Mulya di masa depan juga tidak akan lancar lagi! Kalau tidak berhati-hati, mungkin saja akan langsung bangkrut!”


Mendengar omongannya, wajah Arief Mulya yang sedikit bengkak tampak bingung. Lalu, dia menarik sudut mulutnya dan berkata, “Tidak sengeri itu, ‘kan?”


Bagas Mulya yang di situ menarik napas yang panjang, lalu berkata.


...


Di sisi lain, Leo masih di situ dan tampak sangat bosan. Dia berbaring dengan gaya sangat santai.


Sangat cepat, hari pun berlalu.


Besoknya, Leo bangun dan mulai check in.


“Sistem, check in!”


[Selamat, Tuan. Check in berhasil! Anda mendapatkan McLaren P1!]


Leo yang di sana tertegun setelah mendengarnya. Ini, mobil sport kelas atas lagi!

__ADS_1


Pada saat Leo masih tertegun, ponselnya berdering.


Panggilan dari nomor tidak dikenal.


“Halo.”


Ketika telepon terhubung, Leo mendengar suara seseorang yang sangat familier baginya.


“Halo, Leo, aku Clint Hoseah.”


“Eh, konselor.”


Leo tampak terkejut.


Clint yang di ujung telepon lanjut berkata.


“Kau ini ganti nomor telepon juga tidak info dulu! Ini saja kudapat dari Victoria! Bagaimana persiapanmu sekarang? Seminar hari ini dimulai sekitar pukul 09:30 pagi.”


Mendengar kata-kata ini, Leo pun tersenyum, lalu berkata.


“Tenang saja, Konselor. Aku pasti tiba tepat waktu.”


Mendengar jawabannya, konselor yang di sana juga tersenyum. Setelah mengobrol sebentar, mereka pun menutup telepon.


Setelah semuanya diselesaikan, Leo melihat waktu di ponsel.


Sudah pukul 8:05.


Jarak perjalanan dari rumahnya ke kampus butuh waktu sekitar satu jam.


Tanpa berpikir panjang, Leo pun langsung menuju tempat parkir bawah tanah.

__ADS_1


__ADS_2