Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Kengerian Tubuh Sempurna


__ADS_3

Saat Leo baru selesai memarkir, lalu turun dari mobil dan hendak meninggalkan tempat parkir, dia melihat sekelompok orang yang mengenakan pakaian satpam menghalang di depannya. Leo menatapi mereka sambil mengerutkan kening, lalu berkata dengan nada dingin.


“Apa mau kalian?”


Yang berdiri di paling depan adalah Ben, dia menatap Leo dan berkata.


“Hehe, tidak mau apa-apa. Hanya saja, bos kami memintamu untuk menunggunya di sini.”


Mendengar ini, Leo mengerutkan keningnya semakin erat.


“Bos kalian? Aku tidak kenal. Minggir!”


Pada saat yang sama, terdengar suara dari gerbang tempat parkir.


“Kalau begitu, Pak Leo sungguh pelupa. Kemarin kamu baru saja memberitahu adikku untuk menyuruh ayahku pergi meminta maaf padamu! Tidak tahu juga siapa yang memberimu keberanian ini!”


Begitu mendengar suaranya, satpam-satpam itu langsung membuka jalan. Lalu, Leo melihat Santo berjalan mendekat dengan tanganya di belakang. Francis yang berada di belakang Santo juga mencibir dan berkata.


“Huh! Bukankah kamu sangat berlagak kemarin? Aku hampir saja tertipu olehmu! Ternyata kamu hanyalah seorang supir!”


Francis mengejek Leo sambil mencibir. Nada suaranya terdengar sangat sombong.


Leo melihat mereka, lalu menanggapinya dengan tenang.


“Kalau begitu, aku sudah ingat. Tapi, kelihatannya kamu sudah melupakan peringatanku.”


Mendengar omongannya, Francis terkejut. Namun, kemudian dia berkata sambil menyeringai.

__ADS_1


“Huh! Dasar supir! Kamu benar-benar mengira kamu ini orang penting!”


Lalu, Ben yang berdiri di situ pun berkata pada Francis.


“Kakak kedua, untuk apa kita basa-basi dengan orang seperti ini! Aku akan menghajarnya dulu! Lalu, tinggal menyuruhnya berlutut dan memohon pengampunanmu!”


Seusai berbicara, Ben langsung hendak meninju Leo! Leo menyampingkan tubuhnya dan menghindari tinjuan itu! Ini semua berkat tubuh sempurnanya!


Tubuh sempurna ini selain telah meningkatkan kekuatan ototnya, tapi juga mempercepat reaksi sistem sarafnya menjadi jauh lebih cepat dari orang normal!


“Brengsek! Masa tidak kena? Semuanya maju bersama!”


Begitu mendengar perintah Ben, semua orang menyerbu ke arah Leo. Melihat sekelompok orang ini, Leo menarik napas yang panjang, lalu menghindari serangan mereka ke kira dan ke kanan. Saat mendapat kesempatan, dia langsung menendang balik!


Bruk! Bruk! Bruk!


“Cari mati!”


Ben memaki dengan penuh emosi, lalu mengeluarkan tongkat teleskopik di belakang pinggangnya dan mengayunkannya ke arah Leo!


Leo berkedip, lalu mencibir dan menahan pergelangan tangannya. Kekuatan yang mengerikan langsung meremas tulang tangan Ben sampai berbunyi “krek, krek, krek”!


Ben berteriak kesakitan dan membuang tongkat teleskopik yang di tangan. Leo menangkap tongkat teleskopik itu, lalu mengayunkannya ke kepala Ben. Ben terjatuh dengan kepala yang penuh darah dan tergeletak di lantai.


Sedangkan Leo, dia membuang tongkat teleskopik yang di tangan, lalu meregangkan otot dan tulang tubuhnya.


Ini cukup melelahkan!

__ADS_1


“Menghajarku?  Kalian berdua sungguh berani!”


Leo melihat kedua orang yang di hadapannya dan tersenyum menyeringai.


Santo yang berdiri di samping sangat panik. Ben ini bawahannya yang paling hebat! Biasanya dia bahkan bisa menghajar 6 orang secara bersamaan! Tapi, kini dia malah dikalahkan oleh satu orang? Ini...


Siapakah orang ini?


Begitu juga Francis, kakinya terus bergetar. Selangkangannya bahkan sudah basah!


Lalu, Leo berkata dengan nada sangat dingin.


“Aku beri kalian waktu 3 menit. Panggil ayah kalian ke sini! Kalau tidak, tanggung risikonya sendiri!”


Suaranya yang dingin bergema di dalam tempat parkir. Santo yang berdiri di tempat langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon ayahnya dengan suara merengek.


Setelah mendengar penjelasannya, Pradita Aditya yang sedang asyik berbincang dengan orang lain di dalam pesta langsung sangat marah dan bergegas keluar.


Pada saat yang sama, orang-orang pun menyadari perubahan Pradita Aditya, mereka juga mengikutinya keluar, karena penasaran.


...


Di sisi lain, Leo duduk di atas kap mobil dengan santai.


Dua orang yang di belakangnya tidak berani bergerak sama sekali. Santo yang mukanya sudah pucat menatapi Leo dan berkata.


“Tunggu saja kamu! Tunggu ayahku tiba, dia pasti tidak akan membiarkanmu pergi!”

__ADS_1


Namun, Leo tampak tidak peduli sama sekali dengan omongan Santo.


__ADS_2