
Melihat Leo yang masih duduk di sana dengan cuek, Santo menjadi semakin marah!
Anak ini, hanya supir saja! Sedangkan, dirinya ini ahli waris Asuransi Jiwa Prabu! Kenapa sampai sekarang dia masih begitu tenang!
Saat ini, wajah Santo terlihat sangat kesal, badannya pun bergetar karena terlalu marah!
“Aku sedang berbicara denganmu! Kamu tidak dengar?”
Akhirnya Leo melirik ke arah Santo.
“Kamu sangat suka omong kosong?”
Santo langsung menggertakkan giginya. Dia sudah hampir menggila!
“Apa kamu tahu aku ini siapa? Beraninya kamu memperlakukanku seperti itu! Tunggu ayahku tiba, jalan tersisa untukmu hanyalah jalan menuju neraka!”
Leo tetap terlihat sangat tenang, lalu tersenyum.
“Oh, iya?”
Dua kata yang begitu sederhana terdengar seperti sedang memberitahu lawan bicaranya ini bagaikan mentimun dengan durian. Durian tidak akan pernah menganggap mentimun sebagai suatu ancaman.
Kemudian, terdengar suara derap langkah dari kejauhan. Akhirnya Pradita Aditya, direktur Asuransi Jiwa Prabu, ayahnya Santo Pradita dan Francis Pradita tiba di tempat kejadian.
__ADS_1
Begitu melihat ayahnya, Santo langsung menunjuk Leo dan mengadu pada ayahnya dengan suara merengek.
“Ayah! Itu dia! Supir ini! Selain mengancam kami, dia juga menghina ayah!”
Mendengar aduannya, Pradita langsung marah.
“Brengsek! Supir saja sudah berani menghina keluargaku?! Kamu kira keluarga Pradita itu pisang yang bisa diremas seenaknya!”
Sedangkan orang-orang ikut di belakang Pradita, begitu melihat mobil yang diduduki Leo, mereka jadi terkejut dan mulai curiga. Lalu, setelah mengingat Zella yang berada di dalam pesta, mereka langsung mengerti, orang yang di depan mata hanyalah supirnya Zella. Tatapan mereka menatapi Leo pun tampak aneh.
Bagaimanapun, sebagai direktur Asuransi Jiwa Prabu, Pradita ini juga termasuk orang penting di Purakarta. Namun, berani-beraninya seorang supir menindas kedua anaknya? Atas dasar apa orang ini berani berlagak begitu!
“Aku ini supir? Hehe... Pak Pradita, sebelum mengatakan aku, mungkin bapak bisa pertanyakan dulu apa yang telah kedua anakmu lakukan di luar. Berlagak, sombong, tidak bermoral, dan tiada sopan santun. Mereka bahkan menyuruh preman-preman untuk memukulku! Karena bapak tidak mau mengajari anak bapak sendiri, jadi biarkan aku yang bantu bapak mengajarinya!”
Nada bicara Leo terdengar sangat dingin.
“Kalaupun anakku berbuat kesalahan, bagaimana mengajarinya juga urusanku! Kamu seorang supir tetap tidak berhak mengajari mereka! Jika kamu tidak memberiku satu penjelasan, jangan harap kamu bisa pergi dari sini!”
Mendengar omongannya, Leo langsung tidak bisa menahan diri untuk bergeleng, lalu menghela napas dan berkata:
“Aku kira sebagai ayah, bapak mungkin akan lebih masuk akal, tapi ternyata bapak juga begitu sombong! Pantas saja anak-anak bapak bisa seperti ini, benar-benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya!”
Begitu Leo selesai berbicara, Pradita yang berdiri di sana langsung tampak sangat mengerikan.
__ADS_1
“Brengsek!”
Mendengar makiannya, Leo pun mengeluarkan ponselnya dan menelepon Westen.
“Datang ke tempat parkir internal.”
Saat mendengar nada suaranya yang acuh tak acuh, Westen yang di ujung telepon langsung berkeringat dingin dan sangat gelisah.
“Baik.”
Saat teleponnya ditutup, Westen langsung berlari ke arah tempat parkir! Melihat tindakan Leo, ayah dan anak dari Keluarga Pradita hanya mencibir.
Pradita juga berkata: “Huh! Aku penasaran siapa yang bisa kamu panggil?”
Orang-orang yang di belakang pun saling berbisik-bisik. Mereka sangat penasaran dengan tampang Leo yang begitu acuh tak acuh!
3 menit kemudian, Westen tiba di tempat Leo duduk.
Saat melihat Westen, semua orang tercengang. Terutama Pradita Aditya, dia langsung mengernyit. Dia tidak menyangka Westen akan datang. Lagi pula, di Jalan Komersial ini, siapa yang berani menyinggung Westen.
Pradita berjalan mendekati Westen dan berkata:
“Pak Westen, ini hanya perselisihan antara para anak muda. Kenapa sampai merepotkan Anda untuk ke sini?”
__ADS_1
Setelah melihat tempat kejadian dan Leo yang duduk di kap mobil, ekspresi Westen yang berdiri di sana menjadi agak canggung. Lalu, dia segera melewati semua orang di bawah tatapan curiga mereka dan menyapa Leo dengan hormat.
“Bos.”